Pelajaran Berharga dari Selasar Sunaryo Art Space: Seni Itu Tak Melulu Harus Penuh Hiruk-Pikuk Penulis : Sofah D. Aristiawan

Saya bukanlah orang yang tekun dalam menjelajahi alam kesenian. Dengan beragam media tuturnya itu, bisa dibilang saya cuma sebatas genit, ingin kenal dan itu cukup buat saya.

Salah satu ruang pamer di Selasar Sunaryo Art Space.

Mengapa? Nampaknya karena saya dikutuk tak mahir menggambar, tak lihai mencari kata, lalu merangkainya jadi anak kalimat yang puitis misalnya, dan saya peringatkan: jangan coba-coba meminta saya menyanyi, melucu, apalagi bermain peran –ya sebelum anda kecewa. Atas dasar itu saya jadi tahu diri, saya dilahirkan cukup sebagai penikmat seni saja, dan itu pun dari kejauhan. Dari kanal Youtube, misalnya.

Apalagi tentang seni rupa, barulah untuk pertama kalinya, tanpa direncanakan, medio Desember 2017 lalu, akhirnya saya mengunjungi juga sebuah galeri seni: Selasar Sunaryo Art Space, namanya. Letaknya tak jauh dari pusat kota di Bandung.

Oh ya mengapa dari kejauhan?

Sebabnya, saya selalu saja punya alasan untuk tak mengunjungi katakanlah tempat-tempat seni itu walau diawali niat yang menggebu-gebu. Yang paling dominan, karena hampir semua teman sepermainan saya merupakan potret yang pas sebagai manusia modern yang kerap menonjolkan logika sembari mereduksi rasa dalam rutinitasnya. Sederhananya, seperti kesulitan untuk sekadar mengapresiasi karya seni.

Kopi Selasar, cafe yang dikemas agar pengunjung dapat menikmati suasana Selasar Sunaryo Art Space.

Di tengah itu semua, saya beruntung, bertemu Greg Sindana, founder KetjilBergerak (komunitas di Yogyakarta yang menaruh minat pada seni dan soal-soal kebudayaan) dalam acara Anti-Corruption Youth Camp (ACYC) 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Bandung.

Dalam sela kegiatan itu, tiap peserta diminta membuat sebuah karya lewat media VLOG, BLOG, Musik, Comicstrip, Meme, Poster, Podcast, atau Motion Graphic dengan tema utama Antikorupsi. Berangkat dari tugas itulah mengapa saya katakan di atas: tanpa direncanakan. Sebab toh ada alasan lain selain ingin menikmati dengan takjub karya-karya hebat pak Sunaryo dan seniman lainnya.

Dan Mas Greg -begitu saya memanggilnya- tentu paham bagaimana memompa imajinasi agar menghasilkan setumpuk ide dengan cepat: mengunjungi sebuah galeri seni kepunyaan seniman andal yang lahir di Banyumas itu adalah cara dan tempat yang demikian tepat. Brilian!

Selasar Sunaryo Art Space adalah sebuah ruang yang tujuannya untuk mendukung pengembangan praktik, juga pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia. Selayaknya sebuah galeri seni, tiap sudut bangunannya penuh kesan menarik dan begitu mengedepankan estetika dengan detail.

Selain galeri, ada Amphiteather, Rumah Bambu, Bale Tonggoh (Upper Hall), Bale Handap, Pustaka Selasar, Cinderamata Selasar, Stone Garden, pula Kopi Selasar, tempat kami merampungkan tugas ACYC 2017 itu, tentu ditemani secangkir specialty mint coffee dan tak ketinggalan: suasana yang bikin betah. Dan oh ya, ini yang menariknya lagi, utamanya bagi mahasiswa seperti saya, yaitu tidak adanya biaya masuk alias gratis!

Lukisan karya seniman muda Bandung, Muhammad Zico Albaiquni di Selasar Sunaryo Art Space.

Dalam proses berkreasi, saya bulat memilih comicstrip, kendati tak cakap -hanya bisa- menggambar. Sebab menurut Mas Greg, yang terpenting, dalam karya saya, pesan yang saya bawa sampai. Saran lain yang buat saya terpicu ialah keniscayaan untuk mengambil ide dasar orang lain untuk merangsang proses kreativitas kita. Hal ini ada kaitannya dengan salah satu karya di galeri itu: tiga buah printer yang disusun vertikal dengan kertas-kertas yang sengaja diatur berserak.

Apa maksudnya itu?

Terus terang, saya tak tahu, tapi yang jelas itu bagian dari seni pula. Dari situ, atas dorongan Mas Greg, saya jadi mengerti, ternyata sebuah karya tak melulu harus penuh hiruk-pikuk. Maksudnya, dengan sentuhan sederhana pun tak apa. Printer dan kertas itu, buat saya, ide cemerlang dan sederhana. Pelajaran yang begitu berharga dari obrolan di Kopi Selasar sore itu.

Di ujung cerita, dalam pembacaan pemenang untuk kategori comicstrip ACYC 2017, tak disangka-sangka saya dapat juara dua! Pastinya saya senang, sebab saya satu-satunya yang membawa selembar karya cerita bergambar itu tanpa hiruk-pikuk warna. Sederhana. Terima kasih selalu Selasar Sunaryo Art Space dan tentu terima kasih juga fasilitator saya, Greg Sindana. []

 

* Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjadjaran kelahiran Bandung, 27 Januari 1994. Mahasiswa yang hobi membaca ini dapat dijumpai di media sosial instagram : sofah_gadhug | id Line : sofah_gadhug | twitter : @sofah_gadhug 

 

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *