Probolinggo Punya Cerita Penulis : Christantino Setyaning Widi

Probolinggo adalah Kota terbesar ke-4 se-Jawa Timur setelah Surabaya, Malang, dan Kediri. Probolinggo juga salah satu Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Mangga dan Anggur. Bagaimana tidak? Ketika Anda berkunjung ke kota ini, tepat di Gapura pintu masuk Kota Probolinggo, terdapat logo Mangga dan Anggur yang besar, untuk menunjukkan identitas kota ini.

Patung Roro Anteng dan Joko Seger

Tak hanya itu, julukan Kota Seribu Taman pun dapat dibuktikan dengan “Taman Kota” yang ada di sepanjang jalan kota ini. Probolinggo juga memiliki pelabuhan “Tanjung Tembaga” sebagai akses menuju ke Pulau Gili Ketapang.

Sangat banyak aset wisata yang ada di kota ini sehingga menarik turis mancanegara untuk berkunjung ke sini. Bukan hanya tempat wisatanya saja yang perlu untuk dikunjungi, tapi Probolinggo juga memiliki Galeri Seni yang Amazing lho untuk di jelajahi. Galeri ini ada di Jl. Suroyo (Depan Grapari) Probolinggo. Galeri seni ini buka hari Selasa-Minggu pukul 08.00-14.00 WIB.  Hari ini, Minggu tepatnya tanggal 21 Januari 2018, saya kembali menuju galeri itu untuk mengenali benda-benda seni lebih dalam dan memelajarinya.

Ini kali ke 3 saya berkunjung ke sana. Sebelumnya saya kesana hanya untuk kunjungan sekolah dan mengantar sepupu untuk berlibur, atau hanya sekedar bermain-main di halaman Galeri itu. Tapi kali ini saya ingin mengenalkan benda seni bersejarah yang Probolinggo punya.

Alat kesenian Jaran Bodhag

Tepat di pintu masuk, terdapat banyak patung Dewa yang konon digunakan untuk penyembahan dan pemujaan dalam agama Hindu. Di samping banyak patung itu, ada sepasang patung Roro Anteng dan Joko Seger.

Patung ini berukuran kecil dibanding dengan patung besar lainnya. Apa sih yang membuat patung ini sangat memiliki nilai seni yang tinggi?

Kisahnya! Konon, Roro Anteng dan Joko Seger meminta keturunan pada Dewa di kawah Bromo karena sudah lama menikah tetapi belum dikaruniai anak. Lalu Dewa memberikan anak sebanyak 25 dengan syarat anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Bromo. Kalau tidak, Gunung Bromo akan meletus dan menghancurkan warga sekitar.

Sampai sekarang, kisah ini menjadi ritual Suku Tengger utk mempersembahakan Korban ke kawah Gunung Bromo pada saat upacara Kasodo. Menarik, bukan?

Selain itu juga ada alat “Ronjengan” yang digunakan wanita jaman dulu untuk menumbuk padi. Terbuat dari kayu dengan ukuran besar. Tangan saya menangkatnya saja sudah terasa sangat berat. Saya membayangkan betapa kuatnya tangan wanita jaman lampau.

Lalu ada juga “Jaran Bodhog” yang merupakan alat kesenian tradisional (Berbentuk kuda, dibuat dari kayu dan ketika ada acara kesenian, alat ini ditunggangi dan orang yang menungganginya akan menari mengikuti alunan musik). Ketika ada tamu terhormat datang ke Probolinggo, akan disambut dengan “Tari Lengger” yang menjadi tarian khas kota ini untuk menyambut tamu.

Sangat banyak benda seni yang membuat saya terkagum akan kekayaan kota ini, kekayaan seni dan budayanya. Patutlah kita apresiasi karya seniman dan mengembangkankannya untuk menjadi lebih baik. Saya tunggu kedatangan kalian untuk menjelajah galeri seni di Probolinggo! []

 

* Penulis adalah Pegawai di PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional pernah meraih Juara Harapan 1 Lomba Menulis bertema “Aku Kristen, Aku Indonesia”, Juara 3 dan Juara 5 Lomba Writing Competition. Memiliki hobi menulis dan olah raga. Dapat dijumpai di media sosial Christantino Setyaning Widi (Facebook), christanwidi2003 (Instagram).

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *