Suatu Malam Galeri Seni di Pasar Kangen Jogja Penulis : Nike Kusuma

“Kami mahasiswa eksakta yang tak begitu paham tentang seni mencoba untuk explore diri dengan berkunjung dalam event tahunan di Yogyakarta : PKJ (Pasar Kangen Jogja)”

Gaya Foto Evolusi

Halaman Taman Budaya Yogyakarta menjadi tempat yang ramai dikunjungi saat event PKJ 2016 berlangsung. Ajang tahunan ini membawa pengunjung teringat kenangan masa lalu. Selama 6 hari (19 – 24 Juli 2016) terdapat banyak stand panganan tradisional, kerajinan lawas, pameran, teater, dan lain-lain.

Tema yang diusung kala itu Pasar Aja Ilang Kumandange yang artinya “pasar jangan hilang suaranya atau jangan sampai pasar sudah mulai hening”. Dikutip dari pesan Sunan Kalijaga, kata orang tua di tanah Jawa, dahulunya semua pasar memakai sistem tawar-menawar, sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan. Kehangatan dalam social relationship di masyarakat sekarang sudah mulai hilang karena banyaknya mall dan pasar swalayan.

Pasar Kangen Jogja merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu bagi kalangan mahasiswa dan masyarakat umum di daerah Yogyakarta. Ada banyak tempat yang harus dikunjungi saat event berlangsung, salah satunya yaitu terdapat pameran lukisan layaknya galeri seni.

Pengambilan spot perspektif

Sedikit yang tertarik mengunjungi pameran seni, karena daya tariknya lebih kuat mengunjungi tempat kuliner dan bernostalgia dengan barang-barang lawas. Ada beberapa pengunjung yang benar-benar menikmati dan memahami lukisan yang tercipta. Ada juga yang hanya numpang lewat dan menjadikan pajangan lukisan sebagai background untuk mengambil foto. Begitu dengan saya dan teman-teman malam itu lakukan yaitu memilih untuk berfoto.

Bagi kami, seni merupakan keindahan. Hanya sebatas itu dan sepertinya memang sudah definisi umum. Saat tiba ditempat saya sudah woro-woro kepada teman-teman untuk memahami dulu karya yang dipajang. Setidaknya melihat secara detail dan mengagumi karya seni. Itu berhasil membuat mereka tidak langsung ‘narsis’ termasuk saya.

Namun hal tersebut hanya bertahan sekitar 15 menit.

Setelah itu dikeluarkanlah smartphone yang berbasis android untuk foto. Meski kami tak sepenuhnya paham tentang seni, tetapi kami masih tau diri untuk tidak menyentuh secara langsung pada lukisan yang tanpa kaca. Kami tahu batasan-batasan tersebut. Jika kami menyentuhnya dengan jari itu akan memberikan kesan merusak pada lukisan tersebut.

Lukisan goresan pensil

Teknik mengambil foto dalam galeri seni tidaklah mudah. Berkali-kali saya mencoba untuk motret hasilnya tidak memuaskan. Seperti pada Gambar 2 yang berhasil saya abadikan namun kurang tepat dalam mengambil spot perspektif yang tepat.

Banyak lukisan yang membuat saya dan teman-teman kagum terhadap karya seni. Kami mahasiswa eksakta yang tak begitu paham tentang seni mencoba untuk explore diri mengenai karya seni. Terakhir, ada satu karya yang membuat saya terpana. Murni dari goresan-goresan pensil menggambarkan sebuah peristiwa yang seolah itu pernah terjadi atau bahkan akan terjadi.

Suatu malam yang sungguh mengartikan rasa ‘kangen’ saat waktu berpisah telah tiba. Setelah kami nantinya kembali ke daerah masing-masing, Yogyakarta adalah kota yang sangat istimewa dan penuh dengan sejuta kenangan. Pasar Kangen Jogja menjadi saksi usaha kami untuk explore diri tentang memahami indahnya karya seni yang nyata. []

 

* Penulis adalah mahasiswi jurusan Kimia yang menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penting bagi anak rantau yang jauh dari awasan orang tua dan keluarga besar ialah ‘Jaga Diri’. Terlahir sebagai anak tunggal pada bulan Juli, 1996. Kenal lebih lanjut, Facebook : Nike Kusuma; Instagram, Line, Twitter : @nikekoes 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *