Asiknya Jelajah Seni di Museum MACAN Penulis : Arlindya Sari

Jakarta punya museum baru loh, Museum MACAN namanya. Museum ini pertama kali dibuka dan menggelar pameran pada tanggal 4 November 2017 lalu. Kira-kira apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar nama Museum MACAN?

Koleksi hewan macan dari berbagai negara atau dunia seputar hewan macan kah? Eits, jangan salah dulu, ternyata Museum MACAN adalah singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara.

Nah, beda banget kan sama dunia macan, hihi. Lalu, dimana sih lokasi museum MACAN ini?

Ketika kita melintasi jalan tol menuju Merak, kita akan melihat gedung AKR dari seberang jalan tol daerah Kebon Jeruk. Yap, Museum MACAN ini terletak di area gedung AKR, Jl. Panjang No.5, RT.11/RW.10, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Selain bus besar arah Merak yang transit di tol Kebon Jeruk, ada pula angkutan umum berupa koasi merah B03 jurusan Citraland-Meruya yang tepat melintas di depan museum ini.

Museum ini sendiri dimiliki oleh Bapak Haryanto, pemilik gedung AKR yang selama ini bergerak dibidang property, minyak dan gas. Koleksi seni beliau berjumlah 800 buah yang dibeli dari beberapa kunjungan seninya baik di Indonesia maupun manca negara. Jumlah koleksinya pun 50% berasal dari Indonesia dan 50% lainnya diperoleh dari Asia dan Eropa.

Koleksi yang dipamerkan saat ini ada 90 karya seni yang berupa lukisan kanvas, lukisan timbul dan patung. Setiap pameran memiliki tema tertentu untuk kurun waktu tertentu. Nah, untuk periode 4 November 2017 – 18 Maret 2018 tema yang diusung adalah “Art Turns World Turns.” Koleksi lainnya akan dipamerkan di tema dan periode berikutnya.

Untuk menuju ruang museum kita harus menaiki lift ke lantai M. Saat memasuki ruang museum, kesan pertama adalah ruangan yang dikemas dalam konsep modern futuristic berdinding layar kaca dengan background pemandangan kota Jakarta dari atas gedung. Harga tiket masuk per Januari 2018:
– Dewasa : 50 ribu
– Pelajar/mahasiswa : 40 ribu
– Anak-anak : 30 ribu
Jam operasional : Selasa-Minggu pukul 10.00-19.00 WIB.
Pembelian tiket terakhir pukul 18.00

Pengunjung tidak diperbolehkan membawa tas besar, dan pihak museum menyediakan tempat penitipan tas sebelum ruang masuk. Sebelum pintu masuk ini terdapat workshop mini yang menjual souvenir tentang museum. Tersedia pula cafe kecil untuk ngopi-ngopi sambil menikmati pemandangan kota dari dinding kaca. Di depan pintu masuk kita akan disambut dua lukisan besar yang unik dan instagramable.

Memasuki ruang museum akan terlihat antrian spot yang paling diminati di museum ini, yaitu Infinity Room. Ruang kecil berukuran sekitar 3×3 meter itu dirancang unik dengan bola-bola warna warni yang menggantung di sekeliling ruangan kaca.

Pijakannya sangat kecil untuk mendapatkan foto seisi ruangan, karena sebagian besar dasar ruangan adalah air yang akan memantulkan bayangan bola-bola. Saking panjangnya antrian, pihak museum membatasi waktu tiap pengunjung yang berada di ruangan ini:
– Weekday : 45 detik/orang
– Weekend : 30 detik/orang

Selain Infinity Room, yang menarik lainnya adalah patung-patung besar nan unik yang menggambarkan simbol-simbol tertentu. Perhatian saya pun tertuju pada sebongkah mobil yang telah diremukkan menjadi bola, hhmm…sekilas mirip robot yang ada di film Transformer.

 

Selesai foto-foto di Infinity Room, saatnya mengeksplore berbagai karya seni yang disuguhkan baik dalam bentuk lukisan maupun patung-patung simbol. Lukisan yang dipamerkan berupa lukisan kanvas maupun lukisan timbul dengan gambar yang penuh makna seperti lukisan abstrak dan simbol-simbol yang terpajang di sepanjang dinding museum.

Di tengah atau di pojokan museum berdiri beberapa patung simbol yang unik.

Lukisan yang paling menarik perhatian saya adalah lukisan simbol yang mendeskripsikan keadaan setelah peristiwa 9/11 di menara kembar WTC, Amerika Serikat. Dan, perhatian saya pun tertuju pada patung simbolik seekor hewan babi yang sedang menyusui anak-anaknya. Uniknya hewan babi dan anak-anaknya ini disimbolkan dengan bendera negara tertentu, hihi apa ya maksudnya, ada yang tau?

Puas mengelilingi ruangan museum sekitar 2 jam, saya mengulik sedikit tentang museum di bagian informasi. Sebelum pulang, bersama seorang teman, saya menuju pojokan ruangan tempat cafe berada untuk sekedar berbincang sambil ngopi dengan harga 40 ribu untuk cup kecil (Jan 2018).

Ternyata menjelajah karya seni dalam suasana santai itu asik ya, yuk ke Museum MACAN. []

 

* Penulis kelahiran Yogyakarta 8 Juni 1979 dapat dijumpai di media sosial instagram: @arlindya_sari  | Twitter: @arlindya_sari | Facebook: Arlindya Sari | juga blog : arlindya.wordpress.com

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *