Belajar dari Lukisan Mural Penulis : Muhammad Arwani Musthofa

Klunting suara hp ku berbunyi dalam hati berharap itu dari seorang terkasih, eh pas dibuka ternyata dari teman kampus hehe.. buyar dah rasa penasarannya, isi pesannya ternyata sebuah brosur tentang kompetisi mural di sekolah dia mengajar, sontak penasaranku muncul kembali.

Mulailah aku bertanya apa sih mural mau mempertanyakan tapi gengsi jadi browsing saja hehe.. tepat pas hari-H, kumulai berangkat dimana kompetisi mural berada tepatnya sih di kota Cepu . Sesampai di lokasi yah agak kaget ternyata pesertanya lumayan banyak. Kemarin aku kira cuma beberapa dan itu pun dari lokal sini saja ternyata sekitar 50-an lebih pesertanya dan dari beberapa kota di Indonesia.

Dalam hati sih, ‘’wih tambah rame tambah asik nih.”

Waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB kompetisi pun dimulai sembari menunggu para seniman menggambar di dinding pagar sekolahan. Aku mulai melihat adek-adek kecil mewarnai kertas gambar di lantai atas sekolahan yang kebetulan lomba diadakan bersamaan kompetisi mural.

Jadi memang dari panitia sudah dikonsep adek berlomba mewarnai sehingga selesai mewarnai bisa langsung melihat para seniman menggambar di media tembok.

Selesai dari atas turun lagi kujumpai seorang bapak-bapak parubaya sedang menggambar dan mewarnai dengan lihainya hingga aku terperangah melihat tehniknya menggambar dan mewarnai.

Aku tak sempat bertanya siapa namanya namun dengar-dengar dari panitia dia sih juri utama di lomba mewarnai peserta anak-anak di atas.

Setelah sedikit puas aku melihat karya-karyanya, aku pun bergeser ke tembok pagar sekolah untuk melihat sketsa ataupun gambar dari para seniman yang sudah mulai kelihatan bentuknya dari sekian seniman ada satu kelompok seniman yang cara melukisnya aneh bercampur mistis namun lucu bagiku.

Bagaimana tidak lucu melukisnya dengan mata di tutup kain rangkap dua aku kira itu bohongan ternyata benar sedangkan beberapa anggota yang lain menaburi si pelukis dengan bunga mawar yang lainnya lagi sibuk merekamnya untuk dipublikasikan.

Aneh juga si pelukis bisa mengenali warna yang dia pakai dan pas digambar, duh keren…!

Si pelukis itu namanya Mas Bondan ternyata asalnya dari Sanggar Bojonegoro. Dia sih tidak mengharapkan jadi juara namun hanya menyalurkan hobby sukur-sukur dapat juara favorit karena keunikan cara melukisnya dan hasilnya tidak jelek-jelek amat menurutku hehe.

Tak lupa aku melihat samping gambarnya Mas Bondan, masih ada yang menurutku lebih menarik dari yang lain. Konsepnya sih aku kira tentang semangat Yesus menerangi dunia hingga alam kubur ternyata bukan.

Setelah jadi gambarnya terlihat seorang gadis berseragam sekolah dasar dengan membawa tonktar di tangan kanannya untuk menopang tubuh. Kaki gadis itu buntung sebelah.

Lukisan itu memperlihatkan semangat yang masih membara untuk menuntut ilmu hingga puncak kejayaan di gambar belakangnya menunjukkan jalan menuju kejayaan bendera Merah Putih. Di atasnya pula matahari yang bersinar menyilauakan seakan masa depan cerah serata. Ada nisan yang mencolok bertuliskan ”hidup bukan untuk menyerah”.

Seolah si pelukis ingin menyampaikan moral tentang dalam hidup tak ada yang tak bisa digapai yang penting optimis meski terhalang akan sebuah musibah dan cacat permanen. Harapan ditabur masalah kepastian biar Tuhan yang menentukan. setelah melihat sekian banyak lukisan langsung pulang serasa mendapat sepirit dah hehe…[]

 

* Penulis adalah mahasiswa kelahiran Blora, 9 Juni 1992. Menyukai renang dan lari. Dapat ditemui di media sosial facebook & instagram : arwi musthofa

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *