Keindahan di Museum Benteng Vredeburg Penulis : Kuraysiyah

Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang dibangun oleh VOC untuk mengawasi aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh pihak Inggris. Beberapa tahun kemudian fungsinya berganti sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh.

Indische Koffie

Sampai pada akhirnya setelah Indonesia merdeka, Benteng Vredeburg menjadi markas militer RI sebelum akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada 1977. Benteng Vredeburg dipagari oleh dinding-dinding tinggi yang mengelilingi benteng menjadi bangunan segi empat

Dari pintu gerbang kita akan disambut dengan patung yang akan menunjuk sambil sedikit membungkuk, yang menggambarkan sifat keramahan, kearifan, kerendahan hati dan rasa hormat seorang rakyat Yogyakarta. Selain patung tersebut, hal menarik lain adalah bekas barak prajurit di sisi selatan difungsikan sebagai kafe bergaya kolonial. Sebuah taman di sisi baratnya menjadikan sudut yang sepi ini semakin cantik.

Indische Koffie adalah kafe atau tempat ngopi berlantai 2 yang memanfaatkan bagian dari bekas rumah perwira di sisi selatan. Sebagai kafe, sudut ini memang tak banyak dijamah pengunjung kecuali jika mereka berniat nongkrong sejenak. Namun melewati begitu saja sudut ini jelas kerugian besar karena Indische Koffie adalah sudut manis pertama yang bisa ditemukan satu langkah setelah pengunjung melewati gerbang masuk.

Dari petugas yang berjaga di pintu gerbang, kita mengetahui bahwa Museum Benteng Vredeburg ini memiliki diorama/ruang minirama, yang terdiri dari 4 minirama.

Pada ruang diorama yang pertama, kita akan melihat peristiwa bersejarah yang terjadi mulai dari perjuangan Pangeran Diponegoro hingga masuknya tentara Jepang ke Yogyakarta. Kemudian, pada ruang diorama kedua, ruang ini menggambarkan peristiwa sejarah Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda di Indonesia.

Setelah itu, pada ruang diorama ketiga, kita akan melihat sejarah mulai dari perjanjian renville, hingga sejarah kedaulatan RIS (Republik Indonesia Serikat). Pada ruang minirama terakhir/keempat, kita dapat terhanyut dalam sejarah yang dimulai dari periode NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) hingga ke masa Orde Baru.

Salah satu minirama menggambarkan Presiden Soekarno membuka Konferensi Tingkat Menteri pada tanggal 11 November 1959 dalam rangkaian Konferensi Rencana Colombo XI di Yogyakarta.

Seru bukan? Tanpa sadar kita dibuat berpetualang dengan melihat-lihat peristiwa sejarah bangsa. Kita juga tidak perlu khawatir jika tidak paham dengan gambar/sejarah yang ada disana karena didalam museum ini sudah dilengkapi dengan penjelasan berupa tulisan tentang sejarah/ keterangan di setiap gambar.

Selain bisa melihat sejarah bangsa, di Museum Benteng Vredeburg ini juga terdapat game yang dapat dimainkan oleh anak-anak di ruang diorama kedua. Game ini didedikasikan untuk anak-anak yang berkunjung ke museum ini supaya tidak merasa bosan. Salah satu game yang terdapat di museum ini yaitu game lantai.

Dinamakan game lantai karena untuk memainkannya kita harus menginjak-injak lantainya. Sebelum memasuki lantai game, kita harus melepas alas kaki (sandal ataupun sepatu). Kemudian plilih game yang diinginkan dan mulailah bermain.

Diantara ruang diorama kedua dan ketiga yang saling terhubung terdapat spot untuk berfoto. Nah, bagi yang suka foto-foto, di sini tempatnya bagus dan keren. Selain bangunannya yang masih asli khas tempo doeloe bangunan Belanda, disini juga banyak tanaman yang ditata rapi dan apik.

Penting bagi kita untuk mengingat sejarah. Selain untuk mengenang perjuangan para pahlawan agar kita juga dapat menghargai dan menghormati perjuangan mereka. []

 

* Kuraysiyah, biasa dengan panggilan kuray. Perempuan yang lahir di Pamekasan dan besar di kota metropolitan Djakarta. Pengalaman kepenulisan menjadi beberapa kontributor dan peserta. Twitter : @AnginBerAngan

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *