Refleksi Seni Pasca Reformasi Penulis : Ayu Naina Fatikha

Setelah menjejakkan kaki ke dalam ruang pameran, pengunjung disuguhkan beberapa pigura berisikan keadaan di balik jeruji. Objek di dalamnya memperlihatkan kehidupan Lapas Narkotika Kelas 2A Yogyakarta. Dalam karya Angki Purbandono ini, beragam objek dikomposisikan dengan seni fotografi dokumenter. Karya yang bertajuk “Out Of the Box” ini memberikan kesan nyaman dan melepaskan perasaan terkunci atau terbelenggu.

Seorang pengunjung tampak tengah memerhatikan karya Belanda Sudah Dekat! di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (7/10/2017). Karya seni rupa ini ditampilkan dalam Pameran RESIPRO(VO)KASI.

Tiga langkah dari karya seni Angki, terpajang karya Wimo Ambala Bayang dengan judul “Belanda Sudah Dekat!”

Karya ini berupa pigura foto komunitas yang berpose seolah-olah siap melawan Belanda. Idiom ‘Belanda Sudah Dekat!’ ini merupakan guyon lawas ‘tenang saja, Belanda masih jauh’ yang kerap dijadikan pembenaran atas sikap malas dan santai masyarakat Indonesia.

Di samping karya Wimo, terdapat kursi jati klasik dengan panjang dua meter lengkap dengan meja dan perangkatnya seperti kaleng biskuit, koran dan televisi tabung. Karya mebel ini seolah menggambarkan kehangatan ruang keluarga yang didambakan. Mebel tersebut persembahan dari Jatiwangi Art Factory dalam rangka perayaan 8 tahun eksistensinya.

Berbalik arah, terlihat meja yang diatasnya terdapat alat dan bahan membuat kue. Tak hanya itu, terdapat ratusan foto polaroid yang menampakan wajah penuh senyum tertempel di dindingnya. Seni rupa performatif ini dikerjakan oleh Fajar Abadi dengan judul Kueh Senyum. Foto polaroid itu gambaran proses interaksi jual-beli kue Fajar yang hanya dihargai dengan sebuah senyuman.

Beranjak dari ruang pertama pameran, pengunjung pun dapat memasuki ruang pameran yang kedua. Pengunjung dapat melihat pantulan layar proyektor yang memutar video hitam putih mencukur rambut yang dilakukan oleh Alfiah Rahdini. Berhadapan dengan layar proyektor, sengaja diletakan satu kursi cukur sebagai refleksi dialog Alfiah dengan relawan yang bersedia rambutnya dipotong.

Ketika pengunjung masuk ruang ketiga pameran, terdapat karya Irwan Ahmett yang berjudul “Permanent Shadow”. Karya ini berupa potongan-potongan film ‘penumpasan G30S PKI’ yang diputar dengan posisi proyektor menghadap ke bawah. Sehingga, pengunjung yang melihatnya seolah meresapi dan merasakan kisah para saksi yang mengalami trauma atas kejadian tersebut.

Lain halnya dengan ruangan ketiga, memasuki ruang pameran keempat pengunjung pun disuguhi susunan balok yang tertata di dinding. Balok-balok itu bergambar titik-titik berbagai ukuran dan warna. Seni ini merupakan buah ide Moelyono yang berjudul Bermula dari Titik: Praktik Seni Rupa Bersama Komunitas Difabel. Karya ini dibuat sebagai apresiasi bagi kaum difabel yang kerap dianggap parasit di masyarakat. Namun pada dasarnya, titik adalah awal bagi orang normal maupun kaum difabel dalam membuat suatu karya.

Pameran-pameran itu ditunjukkan dalam Pameran RESIPRO(VO)KASI yang dimaknai sebagai ‘resprokasi’ dan ‘provokasi’.

Pameran ini bertujuan untuk merepresentasikan perkembangan praktik seni rupa yang terlibat dalam kurun waktu pasca reformasi hingga kontemporer. Tak hanya itu, pameran ini sebagai praktek penciptaan karya ‘alternatif’ dari dominasi karya seniman individual berbasis studio. Pameran tersebut digelar pada 5-19 Oktober 2017 di Gedung B Galeri Nasional, Jakarta Pusat.

Berisikan karya 10 seniman dan di kuratori oleh Bayu Genia Khrisbie, pameran ini terlaksana atas kerja sama dari Asia Center Japan Foundation, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Galeri Nasional.

Faris Septiawan Andiva sebagai panitia pelaksana berharap agar masyarakat bisa teredukasi. “Saya berharap jiwa-jiwa penerus seniman terus bertumbuh dan kian berekspresi,” ungkap Faris, Sabtu (7/10/2017).

Salah satu pengunjung pameran, Amelia mengaku tertarik dengan pameran RESIPRO(VO)KASI ini karena konsep yang ditawarkan berbeda dari pameran lainnya. Menurutnya, pameran ini sebagai ajang perkenalan seni kepada anak muda masa kini.

“Saya harap pameran seperti ini sering dilangsungkan, karena bagus sebagai ajang edukasi anak muda.” ungkapnya. []

 

* Penulis kelahiran Serang, 24 Agustus 1998 dapat dijumpai di media sosial Facebook : Ayu Naina Fatikha, Instagram: Ayu_neenah

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *