Romantisme Masa Lalu Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta Penulis : Herfa Memory

Sejarah adalah bukti bahwa sebuah masa telah terjadi dan pertinggalnya adalah cara romantis untuk mengenangnya.

Sculpture di bagian taman Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

Banyak yang sudah tahu bahwa Jakarta mempunyai Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan Kota Tua tapi tidak banyak yang sudah benar-benar mengenalnya. Museum Seni dan Keramik (The Museum of Fine Art and Ceramics) adalah bangunan yang mula-mula didirikan pada masa penjajahan Belanda sebagai kantor pengadilan atau disebut Rad van Justitie.

Keberadaannya berkembang seiring dengan perkembangan masa-masa keluarnya Indonesia dari tangan para penjajah sampai akhirnya di tahun 1990 Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta meresmikannya sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.

Masa demi masa mengukir setiap garis bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik. Siapa pun yang menginjakkan kakinya, pasti akan terkagum-kagum dengan energi kesejarahan yang ada. Pilar-pilar putih yang tinggi, jendela-jendela tua hijau di sekeliling tembok bangunan, pintu kokoh yang tegak, dan aroma-aroma masa lalu di sekitarnya, sungguh akan membuat pengunjungnya—termasuk saya, larut dalam sebuah sejarah.

Romantisme Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, membungkus karya-karya berharga di dalamnya dengan sempurna. Ada beberapa karya seni yang dipamerkan di dalamnya ; lukisan, patung, dan keramik.

Koleksi lukisan di Museum Seni Rupa dan Keramik dimulai dari tahun 1800 hingga masa-masa saat ini. Terdiri dari beberapa ruang masa mulai dari ruang masa Raden Saleh, ruang masa pendudukan Jepang, hingga ruang masa seni rupa baru (karya 1960-sekarang).

Lukisan-lukisan di Museum Seni Rupa dan Keramik diletakkan pada sisi bangunan dalam sebuah exhibition room. Dari mulai pintu masuk museum, saya digiring untuk menikmati lukisan sambil berjalan pelan dan sesekali duduk di beberapa titik. Tentu saja, lukisan-lukisannya mempunyai nilai sejarah yang tinggi, terutama bagi perkembangan Indonesia, seperti lukisan Van den Bosch yang namanya sangat familiar di masa-masa penjajahan Belanda.

Beberapa karya lukis di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

Berjalan lebih dalam lagi, saya menemukan karya seni lainnya yaitu patung-patung dan keramik. Ada patung yang dipamerkan di bagian dalam museum dan ada juga patung yang diposisikan di bagian taman museum. Sementara koleksi keramiknya terdiri dari karya-karya mancanegara seperti dari Tiongkok, Jepang, Eropa, dan negara lainnya.

Museum yang hanya dipungut biaya masuk sebesar Rp 5.000,00 ini membawa banyak pengalaman berharga bagi saya dalam menikmati karya-karya bersejarah. Saya tidak menemukan kesan mewah dari Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta seperti museum-museum lain yang lebih komersil karena kesederhanaan yang dibangun malah memberikan kesan vintage yang amat kuat.

Saya juga merasa bahwa Museum Seni Rupa dan Keramik ini memang secara utuh ingin menyalurkan kesejarahan dalam romantisme karya-karya seninya. Bagaimana caranya kita dapat menikmati sebuah sejarah bangsa dengan cara yang berbeda, dengan ambien yang berbeda.

Dalam menikmati sebuah karya seni, kadang kita tidak butuh ruangan yang dingin oleh mesin pendingin karena yang kita butuhkan adalah hembusan angin dari jendela yang membawa masa-masa lampau menyentuh tubuh kita. Yang kita butuhkan adalah karya itu sendiri dengan sebungkus suasana yang membawa kita ke dalam masa lalu dan lupa akan keadaan di luar sana. Karena yang kita butuhkan adalah sebuah romantisme masa lalu. []

 

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram @herfamemory | Facebook: Herfa Memory | twitter @memoryherfa

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *