Untuk Apa Studio Jeihan? Penulis : Iman Herdiana

Saya mungkin termasuk orang yang beruntung karena masih bisa mengunjungi Studio Jeihan dan beberapa kali bertemu dengan pemilik studionya. Ya, Jeihan Sukmantoro, pelukis senior yang terkenal karena lukisan mata hitamnya itu.

Walau begitu, saya menyesal karena sungkan mengajaknya foto bersama atawa selfie. Padahal foto itu bisa saya pamerkan di Facebook atau Instagram. Rasa sungkan itu muncul karena sosok Pak Jeihan yang biasa pakai peci hitam, kacamata hitam, dan suaranya agak serak yang sepertinya galak.

Tapi itu cuma kesan saja. Pak Jeihan orangnya baik, buktinya dia membuka studio yang terbuka bagi siapa pun. Bahkan studio tersebut terasa longgar. Kalau tidak salah, tidak ada satpam. Padahal di dalamnya dipajang banyak karya seni, lukisan, patung, hingga koleksi gamelan yang harganya pasti selangit.

Di bagian luar dan dalam studio, saya juga tidak menemukan tanda peringatan tidak boleh memotret atau mengambil gambar. Berbeda dengan studio atau galeri lainnya di mana suka ada peraturan semacam itu, di Nuart Sculpture Park-nya Nyoman Nuarte, misalnya.

Studio Jeihan berdiri di Jalan Padasuka 143-145 Bandung, tak jauh dari Saung Angklung Udjo. Bangunannya terdiri dari tiga lantai warna oranye. Di pintu utama terdapat dua patung logam yang juga buatan Jeihan. Jadi selain melukis, pelukis kelahiran Surakarta 1938 yang lama menetap di Bandung itu juga bikin patung, keramik, meubel, dan puisi.

Begitu melewati pintu utama Studio Jeihan, kita akan berhadapan dengan lukisan-lukisan yang menempel di dinding. Jeihan banyak melukis perempuan dengan berbagai pose, ada yang lagi sendiri, ada juga yang berdua atau lebih.

Perempuan yang dilukis Jeihan kebanyakan bertubuh langsing, bahkan kurus, dengan jari-jari lentik dan panjang seperti jari penari. Kulitnya berwarna putih, sapuan kuasnya kuat dan bertenaga sehingga ketebalan catnya terlihat. Mereka dilukis dengan latar warna mencolok atau cerah: hijau, kuning, jingga.

Nah, yang khas, semua lukisan perempuan di Studio Jeihan memiliki mata hitam, tak ada putih-putihnya. Mata tersebut menimbulkn kesan mistis atau menyeramkan. Dan itu yang membuat Jeihan dijulukis si pelukis mata hitam.

Saya terakhir kali berkunjung ke Studio Jeihan ketika Majelis Sastra Bandung berulang tahun yang ke-9, Minggu 21 Januari lalu. Ulang tahun ini digelar di lantai dua studio. Lukisan-lukisan Jeihan tersebut masih menempel di dinding studio, dan semuanya masih bermata hitam, tentunya.

Di lantai dua tempat penyelenggaraan ulang tahun MSB, juga banyak dipajang lukisan. Di setiap sudut hampir terdapat patung-patung logam. Begitu pula di lantai tiga.

Berada di Studio Jeihan sambil mengamati lukisan atau koleksi seni rupa lainnya, terasa benar situasi personalnya. Meski di acara ulang tahun MSB itu ada puluhan hadirin, tapi perasaan personal itu tetap ada, terutama saat saya berhadapan dengan sebuah lukisan. Seolah hanya ada saya dan lukisan.

Suasana itu diperkuat dengan studio yang lapang, dinding dan pilarnya menjulang, beberapa jendela dan pintu kaca dibiarkan terbuka sehingga cahaya dan udara bebas masuk dan keluar. Asap rokok juga cepat sekali hilang.

Suasana studio begitu tenang, setenang karya yang menempel di dinding. Padahal Jalan Padasuka termasuk jalan paling sibuk di Kota Bandung, sebab luas jalannya sempit dan menjadi akses utama warga di pemukiman yang padat.

Pertanyaan muncul, untuk apa keberadaan Studio Jeihan di tengah hingar bingar kota ini. Atau lebih jauh lagi, untuk apa seni itu ada? Mungkin ketenangan itulah jawabannya. Di saat orang gaduh bermacet-macetan, mengadu kecepatan, kita merasa bebas berada di studio bersama koleksi seninya.

Di saat orang-orang sibuk mencalonkan diri dalam pesta demokrasi yang bentuknya kadang memalukan, bahkan memuakkan, maka dengan mengunjungi Sudio Jeihan atau galeri lain, kita bisa melupakan sejenak itu semua.

Jadi bagi saya, Studio Jeihan (atau seni) itu ada agar kita bisa jeda atau berjarak dengan persoalan hidup yang terus berkembang biak dan tak henti bergerak. Kita bisa menghentikan itu semua, melakukan pause sambil merenungkannya sebagaimana kita mengamati lukisan, bahkan berdialog dan berimajinasi dengan lukisan itu secara intim. Walaupun kita tak harus mengerti dengan lukisan atau karya seni sang pelukis.

Seni mengajak kita sadar, mengevaluasi, mengkaji ulang apa yang sudah kita lakukan dan akan kita lakukan. Jeihan pernah berkata, “Timbulnya kesenian ketika orang mulai sadar, sejak jadi Homo sapiens, ketika makhluk seperti kita sudah mengerti tanda tanya, siapa, apa, dan sebagainya.”

Itu dikatakan Jeihan saat membuka pameran tunggalnya bertema “Sufi/Suwung” 1 Juni 2017. Dalam konteks tema pamerannya, seniman yang pernah menempuh Seni Rupa ITB pada 1960-an itu mengatakan, kesenian atau berkesenian itu sesungguhnya mencari jalan kembali ke asal.

Jadi, bertandang ke Studio Jeihan atau galeri seni lainnya ialah semacam ziarah, tujuan utamanya bukan untuk selfie seperti yang pernah saya niatkan. Kalaupun berhasil selfie, itu cuma sampingan saja. []

 

* Penulis adalah jurnalis, aktif mengikuti perkembangan dunia seni rupa di kota Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Iman Herdi | instagram: damzproperti

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *