ARTJOG, Pameran Seni Pertamaku Penulis : Cam

Saya mungkin memang bukan orang yang ahli dalam bidang seni. Saya tidak jago dalam menggambar ataupun mewarnai. Oh, tidak punya bakat tepatnya. Namun, saya tahu bahwa di balik sebuah seni dapat terungkap segala hal. Lalu, bagaimana saya bisa mengetahuinya? Ya, saya memilih untuk menikmati seni.

Salah satu karya seni favorit saya.

Hari itu, langit berawan kelabu. Saya sedang berada di salah satu kota tujuan berlibur yang paling mainstream. Yap, Yogyakarta. Juni 2017, saya memutuskan untuk melancong sendirian sebagai flashpacker*. Hari kedua saya di sana, tepatnya pada tanggal 16 Juni 2017, saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah pameran seni yang kebetulan sedang berlangsung di Kota Seniman tersebut, ARTJOG.

Kebetulan, seorang teman jurusan saya yang berasal Yogya mau menemani saya berkeliling kampung halamannya. Namanya Latif. Untungnya lagi, ketika saya mengajaknya mengunjungi ARTJOG, ternyata diatertarik! Melalui kunjungan singkat saya ke Yogya, saya merasa lebih kenal dengan Latif yang sehari-harinya jarang bicara dan sebenarnya tidak begitu dekat dengan saya di kampus.

ARTJOG diselenggarakan di Jogja National Museum. Kami tiba di sana kira-kira pukul 2 siang. Rasanya sangat nyaman ketika memasuki ruangan ber-AC setelah seharian berpetualang di bawah terik matahari. Ini pertama kalinya saya memasuki pameran seni yang cukup besar seperti ARTJOG. Di sini, saya menemukan banyak sekali ruangan sampai bingung mau menjelajah yang mana dulu. Ketika saya datang, suasana pameran cukup ramai.

Di pameran seni tersebut, tak henti-hentinya saya berdecak kagum. Entah karena kagum akan apa yang terlihat oleh kedua iris mata saya, entah karena membaca keterangan yang tertulis dalam dwibahasa yang melengkapi tiap-tiap karya.

Beberapa karya sangat sulit dipahami bagi saya. Beberapa karya membutuhkan usaha lebih untuk menikmatinya, misalnya karena harus mengantre untuk masuk ruangan atau masuk ke terowongan mungil dengan merangkak. Saya juga tidak membaca keseluruhan deskripsi yang ada tiap karya karena… ya ampun! Lelah sekali berkeliling pameran seni ini! Padahal pameran ini hanya terdiri dari dua tingkat.

Belum lagi, banyak pengunjung yang merasa terganggu dengan kehadiran saya yang ingin membaca apa yang tertuang di balik sebuah seni. Hmm, rasanya terbalik, deh. Bukankah mereka yang mengganggu saya menikmati seni?

Mengunjungi ARTJOG merupakan pengalaman baru bagi saya, di mana saya bisa merasakan atmosfer ‘galeri seni’, di mana saya bisa yakin bahwa seni memang tak terbatas, unik, dan begitu bebas. Mengunjungi ARTJOG sempat membuat saya iri karena saya tidak mampu menghasilkan karya-karya sehebat itu. Betapa kreatifnya orang-orang!

Mengunjungi ARTJOG membuat saya melepaskan genggaman kamera saya sejenak karena ternyata, saya hanya ingin menikmati seni daripada berusaha memotret seni-seni tersebut dengan sudut sebaik mungkin, atau bahkan berpose bersama hasil para seniman tersebut.

Satu hal yang memprihatinkan adalah banyaknya pengunjung yang hanya datang untuk berpose di samping setiap karya seni. Mereka datang bukan untuk menikmati seni, tapi untuk mendapatkan foto bagus yang bisa diunggah di media sosial mereka.

Tak jarang mereka melanggar aturan yang sudah sangat jelas terpampang di hadapan mereka. Para petugas pameran pun harus memperingatkan mereka berkali-kali. Apakah di galeri dan pameran seni berikutnya, seni akan terus diperlakukan hanya sebagai objek pelengkap foto ‘ala-ala’ mereka? Semoga saja tidak. Jangan sampai seni dirusak hanya demi antusiasme untuk mengejar likes dan comment. []

 

* Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah dua ekstrem, yakni backpacker dan turis.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *