Galeri dan Variasi Arus Seni Rupa Penulis : Sidhi Visatya

Foto-foto perempuan ditempel sedemikian rupa dalam kertas putih, ditambahi bintik-bintik sembarangan dan di-corat-coret-i kata-kata yang ngawur.

Penulis mengikuti sesi scene-to-scene (tur galeri) bersama Imam Sucahyo. Foto oleh: Cata Odata

Sekilas, karya-karya tersebut tidak tampak sebagai kolase. Potongan tubuh perempuan yang berpose ala kaver buku kumpulan TTS yang tercetak glossy menjadi samar oleh coretan-coretan berwarna-warni.

Ada yang bajunya berwarna marun, tapi berbalut goresan-goresan dan lekuknya tak lagi terlihat. Mereka menyublim dalam kegetiran-kegetiran sekaligus kejenakanaan, seolah-olah tubuh bukan lagi persoalan yang inti dalam mendiskusikan perempuan, tapi kompleksitas di belakangnya adalah hal yang lebih penting.

Karya-karya ini diakui sebagai hasil persentuhan secara sosial dengan perempuan-perempuan di lorong pelacuran.

November 2017 adalah perjumpaan kedua saya dengan lukisan Imam Sucahyo di Galeri Cata Odata, Ubud, Bali. Tahun sebelumnya, di bulan September, Imam juga menghadirkan karya-karyanya yang kaya diksi: sebagian besar berupa candaan serampangan yang dia serap dari berbagai tempat di masa-masa dia masih bekerja serabutan.

Tanpa berbasa-basi dengan membuat judul yang muluk-muluk, garis-garis pada lukisannya yang brutal, detil dan ruwet dirangkai dengan susunan kalimat ala corat-coret di toilet. Menjadikannya sederhana sekaligus mengundang interpretasi yang sangat beragam.

Perjumpaan kedua ini menarik, karena secara khusus, Cata Odata membuka ruang diskusi untuk mengenal lebih dalam istilah dan pengistilahan Art Brut/Raw Art dan Outsider Art.

Pameran Imam, sebagai pelukis dengan gangguan kesehatan mental, dijadikan sebagai momentum untuk mengenal praktik estetik seniman dengan gangguan kesehatan mental sekaligus praktik-praktik estetik lain yang mengambil jalan tidak populer, di luar arus utama.

Diskusi dibuka dengan layar tancap film dokumenter BBC “Turning The Art World Inside Out”. Film yang fokus pada beberapa praktik estetik orang dengan gangguan kesehatan mental dan beberapa festival yang akhirnya berhasil membesarkan nama mereka dalam pentas Art Fair.

Film ini adalah film yang membingungkan, membukanya dengan pertanyaan: Apa itu Art Brut/Raw Art dan Outsider Art, membahasnya dengan persepektif tunggal: seni dan pasar dan mengakhirinya dengan membebaskan pertanyaan melayang, tanpa jawaban.

Imam Sucahyo di depan karyanya, foto oleh: Cata Odata

Jean Coeteau, salah satu pemerhati sekaligus penulis seni di Bali membuka diskusi seminggu setelah pemutaran film dengan membedakan dua istilah tersebut. Art Brut/Raw Art adalah istilah yang diberikan pada hasil estetik seniman dengan gangguan kesehatan mental yang karena beberapa hal, terbatas dalam memahami pakem-pakem dan teori seni rupa. Sedangkan, Outsider Art adalah praktik politik seniman untuk memilih berjalan di luar arus utama.

Pada diskusi yang sama, Budi Agung Kuswara dari Rumah Berdaya (shelter untuk membantu orang gangguan mental dengan terapi kesenian) memungkasi dengan argument bahwa kedua istilah tersebut berjalan berdampingan sebagai bagian dari daftar istilah di konteks pasar seni.

Bahwa perdebatan untuk mendefinisikan apa itu Art Brut? lahir sebagai satu dari kebingungan sistem seni arus utama untuk meyakinkan bahwa Art Brut (yang terkurasi) layak masuk art fair, sambil tetap melanggengkan pe-liyan-an atas Art Brut itu sendiri.

Pada saat yang sama, perdebatan ini melupakan perkembangan mental yang dicapai dalam keseluruhan terapi, yang pada satu titik, bisa saja berujung pada eksploitasi ekspresi estetik seniman terkait.

Perjumpaan saya dengan Imam adalah perjumpaan langsung pertama saya dengan seniman dengan praktik Art Brut-nya. Dan diskusi yang menyertainya, adalah peengalaman pertama saya menjumpai galeri sebagai tempat untuk mengenal variasi arus dalam seni rupa, Indonesia dan dunia. []

Catatan:
Penulis tidak memiliki gawai yang memadai untuk pengambilan foto, saat itu, sehingga tidak ada gambar dokumentasi yang penulis miliki terkait artikel ini. Penulis sudah meminta izin pihak Cata Odata untuk memakai foto terlampir sebagai ilustrasi artikel yang diikutsertakan dalam perlombaan menulis “Jelajah Galeri Seni” oleh artspace.id.

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram @sidhiv

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *