Galeri Nasional, Buku, dan Teks Pelajaran Seni Rupa Penulis : Bayyinah Nurrul Haq

Pekerjaan sebagai pengampu mata kuliah seni rupa , membuat saya harus mengunjungi Galeri Nasional  di bilangan Gambir , Jakarta Pusat. Tiap semester selalu ada kuliah lapangan untuk mahasiswa tingkat satu ke sana.

Galeri Nasional (Galnas) menjadi pilihan  utama, karena koleksi seni lukisnya yang relatif lengkap dan dapat mengungkapkan seperti apa perjalanan seni rupa di Indonesia hanya dalam beberapa lap.

Pertama kali mengunjungi Galeri Nasional, tahun 2005. Saat itu saya bekerja di daerah Jakarta Barat. Setiap minggu pulang ke Bandung dengan bis AKDP. Namun, seorang teman memperkenalkan cara baru pulang ke Bandung, lewat Kereta Api, naik dari Gambir. Saat berlari menyeberangi jembatan penyebrangan, sekilas terlihat papan bertulisan “Galeri Nasional”. Lalu saya berjanji pada diri saya untuk mengambil jalan pulang lewat kereta api lagi, agar bisa mampir dulu ke sana.

Kunjungan pertama, ke gedung sayap kanan, tempat koleksi tetap, saat itu lukisan di display berdasarkan periodenya.

Seperti de ja vu, saat saya kuliah Desain dulu, begitu sulit mendapatkan gambar berwarna dari lukisan para maestro seni rupa Indonesia. Begitu lengkap, ditata seadanya…dinding bercat putih sudah menguning, menyeruak bau pengap, udara Jakarta yang panas lembab bercampur dengan bau cat di atas kanvas.

Tahun 2015, saya kembali lagi ke Jakarta, menjadi tenaga pengajar. Mata kuliah Sejarah Seni Rupa, mengharuskan saya mengajak mahasiswa mengunjungi Galnas. Tahun ini rupanya terjadi perubahan besar, interiornya mengalami renovasi signifikan.

Dinding di cat gelap,menonjolkan lukisan yang di display. Udara sejuk dari ac mampu menghalau kenangan udara pengap.Kunjungan di semester berikutnya, mata kuliah yang sama, mahasiswa dari jurusan berbeda. Hari itu pameran koleksi Istana Negara. Memasuki ruangan yang seperti museum lukisan di luar negeri.

Satu persatu lukisan menujukkan keagungannya.Bingkai emas, lukisan cat air di atas dinding bercat gelap. Beberapa lukisan yang selalu aku ceritakan pada siswa – siswaku nun jauh di pinggiran kota Bandung, hari itu dapat kusaksikan sendiri.

Beberapa seperti yang selalu aku bayangkan, seakurat saat saya tekankan betapa penting kita mengenalnya. Teringat saat ujian tengah semester, soalnya lukisan “Kamerad revolusi – Sudjojono”, diproyeksikan ke dinding laboratorium komputer. Ini pertanyaan rebutan, siswa yang bisa harus ke depan, mengambil sapu dan menunjukkan banyak hal tentang lukisan itu.

Lalu, saya berdiri di depan lukisan itu, ternyata tidak sebesar gambar di soal ujian saat itu. Lukisan itu kurang dari 1,5 meter. Karena kecil, beberapa detail terlihat intens…teringat buku “Sejarah Seni Rupa Indonesia” oleh Jakob Sumardjo, tentang lukisan dari gerakan Indonesia baru, yang berkarakter kasar dan cenderung kotor, sekarang saya bisa memahaminya.

Terdapat satu lukisan, berjudul “Awan Berarak Jalan Bersimpang – Hariadi Sumadidjadja”, lukisan yang membuat saya tertegun. Nama pelukisnya tak pernah ada dalam buku pelajaran yang saya jadikan referensi, sudah empat tahun saya mengajar di SMA, bahkan nama ini tidak pernah saya temukan di buku teks untuk SMA mana pun.

Lukisan yang berhasil menggambarkan kegamangan tahun 1950an. Semacam blank spot. Betapa banyak yang tidak bisa diceritakan di buku teks untuk sekolah, kita dapat mengetahuinya dengan mengunjungi langsung galeri, museum,atau pamerannya.

Tugas lainnya adalah, rajin update perkembangan seni rupa kotemporer. Bagian yang paling sulit bagi saya, referensi yang sulit disisi lain perkembangannya sangat cepat. Keberadaan galeri yang mudah di akses hingga daerah, jaringan kerja sama untuk berbaik hati meminjamkan koleksi, sangatlah berarti. []

 

* Penulis adalah dosen Program Studi Desain Produk di Universitas Trilogi, Jakarta. Dapat dijumpai di media sosial Instagram: ruangsenirupa01

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *