Kopitani: Galeri Unik Ala Kafe Anak Petani Penulis : Endah Kemala

Kafe itu berada di pojokan sebuah kota yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Tepatnya beralamat di Jalan Serma Maun, Banjarejo, Bojonegoro. Di mana sebagian besar penduduknya adalah petani.

Kopitani Alternatif Art Space

Walaupun telah banyak investor yang masuk, namun masih ada anak-anak muda yang menolak dan tetap melakukan propaganda untuk mempertahankan tanah kelahirannya. Walaupun itu hanya bentuk kritik melalui sebuah lukisan. Itu terlihat dari Kopitani Alternatif Art Space. Sekilas dari luar hanya sebuah mini kafe yang menjadi tongkrongan anak-anak muda. Terutama karena jam bukanya dari 12.00 hingga 23.00 WIB. Untuk itu, Anda harus masuk ke dalamnya!

Tampak meja kayu sederhana berhiaskan patung dari kayu yang dibuat sedemikian rupa, kemudian dilukis sehingga berbentuk petani. “Ini konsepnya membawa isu pertanian, “ ujar Dwi Putra Puguh selaku pemilik galeri.

“Di awal pembukaan saya membuat galeri dengan konsep kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat di sini yang mayoritas adalah petani,” lanjut Alumnus Seni rupa UNS tersebut.

Di dekat pintu masuk, terlihat lukisan Luh Dewi Sri yang dilukis untuk pembukaan galeri pada bulan Februari 2017 lalu. Lukisan ini merupakan bentuk solidaritas terhadap perjuangan Kartini Kendeng yang mengecor kaki mereka di seberang Istana Negara pada 12 April 2016, untuk menolak pendirian pabrik PT. Semen Indonesia di daerah mereka.

Puguh sendiri mengusung tema tentang kritik sosial akan kehidupan petani, terutama di daerahnya.

Itulah sebabnya, ketika memasuki area galeri, akan tampak aneka lukisan yang menyinggung kritik sosial. Salah satunya adalah tulisan “Bumi Damai: Bukan Slowgan Pemasaran tapi Slogan Kehidupan” yang terletak di dekat lukisan astronot di atas atap galeri.

Bumi Damai sendiri merupakan nama perumahan yang dibuat di areal tempat tinggal Puguh, yaitu di daerah Deander Bojonegoro. Dalam imajinasi Puguh, lukisan astronot merupakan Malaikat.  Sebuah gambaran menakutkan ketika di bumi sudah tidak ada lahan pertanian, maka luar angkasa menjadi tempat bercocok tanam.

Bentuk protes terhadap Perumahan Bumi Damai sendiri merupakan suara hati Puguh sebagai pemuda desa. Dimana ketika itu ayahnya menolak menjual tanahnya untuk dijadikan perumahan. Kejadian itu pernah dituangkan dalam bentuk lukisan berjudul “Ironi Kemakmuran” yang diikutsertakan pada Kompetisi Seni Rupa di Jakarta pada tahun 2016.

Ada juga lukisan di Tembok berupa berupa “Tengkorak yang Memohon kepada Garuda.” Tengkorak yang merupakan simbol petani miskin dengan gempuran investor ini memohon kepada garuda sebagai Dewa untuk menyelamatkan alam dan kehidupan pertanian.

Lukisan itu ditemani oleh beberapa interior yang berasal dari barang-barang bekas dan dikemas secara kreatif. Menambah keunikan dari mini galeri tersebut. Galeri ini sendiri merupakan semi kafe dengan menu utama kopi hitam khas Bojonegoro yang tidak bisa dilewatkan oleh para anak-anak muda.

“Sayangnya minat akan seni di masyakat sekitar kurang. Jadi harus dipancing dan mancingnya pake kopi. Jadi nanti mereka penasaran sendiri dan bertanya-tanya. Bahkan, kadang mereka sudah tahu pesan apa yang saya sampaikan lewat lukisan itu,” cerita Puguh.

Sayangnya, tidak banyak lukisan Puguh yang terlihat. Namun, ada beberapa lukisan abstrak yang merupakan karya para pelukis lain. Lukisan Puguh yang terdahulu sendiri banyak yang disimpan dan digantikan dengan beberapa lukisan milik seniman lain.

Selain alasan suasana baru, Puguh juga ingin memberikan kesempatan bagi seniman lain untuk memamerkan hasil karyanya. “Ini malahan ada yang dari Solo atau Yogya. Saya berharap agar lebih banyak orang yang mau berkarya, dan memperlihatkan karyanya. Sayangnya, anak-anak di sini masih minder untuk memperlihatkan karyanya. Jadi sebagai ajang edukasi untuk anak-anak di sini, karena mereka harus dibangkitkan semangatnya” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Puguh pun berharap ia dapat mengumpulkan dana untuk mencari tempat yang lebih luas, sehingga bisa membuat galeri yang lebih besar. “Ini cita-cita saya sejak kuliah, ketika pulang harus mulai berkarya dari awal lagi. Jadi di sinilah saya memulainya,” tuturnya mengakhiri cerita. []

 

* Penulis lepas kelahiran Mataram dapat dijumpai di blog www.kamusperjalanan.blogspot.co.id | IG : @lala.endah | FB : https://www.facebook.com/KemalaLala

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *