Menjelajah Galeri Seni, Tempat Saya Menggali Kegelisahan Diri Penulis : Aprillia Ramadhina

Berada di galeri seni memberikan saya kenikmatan untuk mengakrabi kegelisahan dalam diri. Mengapa kegelisahan perlu digali? Karena dengan gelisah kamu akan lebih peka terhadap perasaanmu sendiri. Dari gelisah, kamu bisa melahirkan karya. Kegelisahan bukan saja perlu diatasi, tapi juga difasilitasi. Dengan mengakrabi kegelisahan, kamu akan belajar untuk lebih mengenal lagi dirimu sendiri.

Pameran tunggal Heri Dono “The World and I: Heri Dono’s Art Odyssey” di Art:1 New Museum, Jakarta (2014)

Manfaat Berkunjung ke Galeri Seni
Saat hidup dirasa datar-datar saja, berkunjung ke galeri dan melihat karya-karya yang dipamerkan, membuat saya merasa lebih berenergi. Ini yang dihantarkan galeri seni ke dalam pribadi saya:

1. Berdiskusi ke Lapisan Terdalam Diri
Setiap melihat sebuah karya yang dipamerkan di galeri, saya selalu mencoba memahami. Kalau tidak paham ya sekadar menikmati. Kalau tidak bisa menikmati, cari karya yang lain lagi.

Mengelilingi galeri seni seperti rekreasi jiwa bagi saya. Jika galeri itu berisi karya seniman muda yang usianya di bawah saya, dalam hati pasti membatin, “Gila, masih muda banget udah pameran. Sementara gue udah ngapain aja?”

Mengunjungi galeri seni jadi semacam wisata instrospeksi dan refleksi diri.

Pameran tunggal Tatang Ramadhan Bouqie “Celebrating Disorder” di Galeri Nasional Indonesia (2015)

2. Mengaktifkan Saluran Kreativitas dalam Otak
Ada anak kecil yang selalu hidup dalam diri saya. Terkadang, karena memaksakan diri menjadi dewasa, jiwa anak-anak yang senang eksplorasi itu harus tertidur sementara waktu.

Di galeri, keriangan seorang anak dalam diri saya bangkit kembali. Saya merasa menemukan arena bermain. Pikiran saya dapat berenang-renang dalam lautan imajinasi. Ini yang membuat saya bisa kembali kreatif lagi.

Lukisan berjudul “Bulan Kembar di Atas Kota” karya Putu Wijaya yang Dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (2014)

3. Menghidupkan Gairah yang Meredup
Namanya hidup, ada gelombangnya, ada pasang-surutnya. Bosan, jenuh, dan semacamnya pasti akan menyertai aktivitas yang paling seru sekalipun. Jika sudah begitu, pergilah ke galeri seni.

Bisa jadi kamu akan menemukan nyala dari gairahmu lagi. Sama seperti ketika saya melihat lukisan berjudul “Bulan Kembar di Atas Kota” yang dilukis Putu Wijaya dan dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada tahun 2014.

Putu membuat gedung-gedung dengan garis-garis ekspresif dan spontan. Ipong Purnama Sidhi selaku kuratornya mengatakan, bahwa melukis bagi Putu mungkin sebagai terapi.

Putu saat itu berusia 70 tahun, ia melukis dalam keadaan telah menjalani fisioterapi. Jika ia, yang gerak tangannya terbatas, dan sudah tak lagi muda masih terus menelurkan karya, tak pantas saya yang belum juga umur 30 tahun justru membiarkan hasrat berkarya meredup dan mati. Hidup ini singkat. Sayang jika kita tidak mencipta apa-apa.

4. Sendirian pun Tidak akan Kesepian
Jika kamu datang ke galeri saat pembukaan pameran, kamu akan disambut keramaian, mulai dari komunitas, seniman, dan para penggemar seni lainnya. Tapi, mengunjungi pameran saat sepi pun juga mengasyikkan. Karya di dalamnya bisa kau ajak bercakap-cakap dalam sunyi. Ada hati dan otakmu yang bisa kau ajak dialog dan berdiskusi.

Mari kunjungi galeri seni di sekitarmu. Mari rayakan kegelisahan! []

 

* Penulis adalah Co-founder Meon Design Indonesia, instagram: @meondesign. Dapat dijumpai di twitter: @AprilTupai |instagram: @apriltupai | Facebook: April Ramadhina Tupai. Personal blog: apriltupai.blogspot.co.id

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

One Comment on “Menjelajah Galeri Seni, Tempat Saya Menggali Kegelisahan Diri Penulis : Aprillia Ramadhina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *