Merayakan Gagasan Kebangsaan di Galeri INiSeum Yogyakarta Penulis : Andrias Arifin

Diskursus tentang ‘keberagaman Indonesia dan ide-ide kebangsaan’ sudah terasa ketika saya memasuki rumah besar berlantai dua dengan halamannya yang luas. Sederet nama-nama beken di panggung seni rupa Indonesia unjuk tampil lewat karya-karya mereka pada pameran seni rupa bertajuk “ID.1”, pada tanggal 18 Mei 2017.

“Seri Ilusi #3 Indonesia Idea” karya Galam Zulkifli berupa lukisan wajah tokoh-tokoh Indonesia penyemai ide dan gagasan kebangsaan.

Nama-nama perupa Yogyakarta seperti Galam Zulkifli, Dipo Andy, Aan Arif, Didik Nurhadi, Eddy Susanto, Kadafi G. Kusuma, Nanang Garuda, Utin Rini, Wahyu Santosa, Yayat Surya dan Win Nawawi, mempertontonkan karya-karya mereka di galeri INiSeum, di Jalan Nitikan No. 76 Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta.

Tiga buah patung berbahan resin berjudul “Pengendang – Pengendang Bali Penyuling” karya Wahyu Santosa berdiri di sudut taman. Patung itu melukiskan kelincahan sosok penabuh gendang dan peniup seruling.

Penulis bersama Nanang Garuda

Memasuki galeri, karya-karya di dalam lebih edan lagi. Mata saya terbelalak melihat lukisan berwarna monokrom dan komplementer karya Galam Zulkifli yang berjudul “Seri Ilusi #3 Indonesia Idea”. Lukisan wajah tokoh-tokoh Indonesia penyemai ide dan gagasan kebangsaan itu menyuguhkan visual yang istimewa.

Lukisan ini sempat menjadi kontroversi akibat diturunkan paksa dari Bandara Soekarno Hatta pada 12 Agustus 2016 ‘hanya’ karena dalam lukisan tersebut terdapat wajah Dipa Nusantara Aidit.

Di sudut galeri, patung karya Didik Nurhadi berjudul “Raja dan Kawulanya” bergerombol membentuk sebuah formasi. Sebuah patung hitam legam berperawakan besar setinggi 150 cm berdiri menjulang sedang melambaikan tangannya, dikelilingi 25 buah patung-patung berukuran kecil sedang menengadah.

Masih karya Didik, lukisan berukuran 250 x 150 cm berjudul “Merebut Apel Emas” ini menawarkan visual surealistik: manusia berbadan tambun mengendarai buah apel dan gajah. Dengan sapuan warna awan putih, langit biru dan hamparan rumput kuning kecoklatan menjadikan ‘trio gemuk’ itu terlihat melayang-layang.

Dalam jagat kuasa ramalan, Indonesia memiliki sebuah nujum bernama Jangka Jayabaya. Di ruang kanan galeri, lukisan berjudul “Okultisme: Pada Mulanya Adalah Kata” karya Eddy Susanto menampilkan lukisan ‘The Last Supper’ karya Da Vinci berupa rangkaian teks Jangka Jayabaya yang ditulis dengan menggunakan huruf Jawa.

Instalasi “Wayang Pulau” karya Nanang Garuda membuat saya berdecak kagum. Karya itu berupa wayang kulit membentuk karakter lima pulau besar di Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Papua. Di atas wayang-wayang itu, menggantung “Kiai Gardala”, akronim dari ‘Garuda Pancasila’. Keindahan karya Nanang ini terlihat ketika sinar lampu disorotkan ke tubuh-tubuh wayang yang menghasilkan efek bayangan peta kepulauan Indonesia yang terpantul di dinding.

“Okultisme: Pada Mulanya Adalah Kata” karya Eddy Susanto menampilkan lukisan ‘The Last Supper’ karya Da Vinci

Dipo Andy memberi judul lukisan abstraknya “MR.27170102030934”. Karya ini membuat saya menebak-nebak pesan apa yang disembunyikan lewat kode-kode pada lukisannya itu.

Instalasi “Abandoned Natural Heritage” karya Kadafi W. Kusuma memperlihatkan betapa alam Indonesia adalah lanskap yang tidak pernah bebas dari ancaman eksploitasi. Lukisan Utin Rini yang berjudul “Re-Writing The Past” menyuguhkan sebuah dikursus tentang kesetaraan gender dan gugatan terhadap sebuah dominasi.

Dalam kondisi hiruk pikuk pengunjung, saya sempat menikmati lukisan Win Nawawi yang berjudul “Tanah di Air”, lukisan “Harmony in Diversity” karya Yayat Surya dan instalasi “Sang Penjaga” karya Aan Arif.

Demikianlah, gelaran pameran seni rupa di INiSeum ini membukakan mata saya tentang diskursus bangunan bernama nasionalisme. Malam itu, sesuatu sedang mengusik pikiran saya, bahwa Indonesia dibangun di atas sebuah entitas yang bernama “Keberagaman”. []

 

* Penulis aktif di komunitas yang bergerak dalam dunia literasi di Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Andrenaline Katarsis | instagram: andrenaline_katarsis

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *