Pameran Drawing “Oleh-Oleh Dari Desa”: Mulai Isu Nasional Hingga Refleksi Diri Penulis : Siti Muslikhah

Biasanya, menyampaikan kritik terhadap pemerintah atau pun keadaan masyarakat saat itu, bisa melalui bisa melalui tulisan, bisa berupa buku atau artikel, bisa juga dalam media TV atau radio lainnya atau bahkan aksi demonstrasi.

“Urban Jakarta” karya Hotland Tobing

Akan tetapi, bagi seorang seniman, adalah melalui karya. Seniman bukanlah orang yang hidup di negeri antah berantah yang terlepas dari kehidupan orang lain pada umumnya. Kadang kala, orang awam menganggapnya demikian. Tapi sesungguhnya tidak. Seniman adalah rakyat, adalah masyarakat, adalah kita, yang merasakan hal yang sama, hanya saja penyampaian pendapat dan ide mereka berbeda dengan orang-orang kebanyakan.

Seperti Pameran Drawing yang dilaksanakan oleh Hotland Tobing ini yang berjudul “Oleh-Oleh Dari Desa”. Pameran ini memang menekankan pada teknik drawing, maka tak heran yang ditampilkan adalah teknik tinta pada kertas. Meskipun terkesan sederhana, tapi arti yang dibawakan dalam karyanya sungguh sarat makna.

“Urban Jakarta”, adalah salah satu judul karya yang dipamerkan di Bentara Budaya tanggal 23 sampai dengan 31 Januari 2018. Karya ini memotret fenomena arus urbanisasi yang masih berlangsung hingga kini, yakni berbondong-bondongnya manusia menuju Jakarta. Karyanya digambarkan penuh manusia memasuki satu jalur dan di pinggir jalur tersebut terdapat gedung-gedung bertingkat.

“Gravedigge” karya Hotland Tobing

Karya ini seakan hendak mengkritik bahwa sepenuh apapun kotanya, sesulit apapun caranya, memasuki kota Jakarta, tidak akan menyurutkan langkah untuk terus berdatangan ke ibukota.

Selain itu, Hotland juga mengkritisi pembalakkan hutan. Tepatnya, penebangan hutan dan perburuan hewan langka dalam karya berjudul “Gravedigge”. Karya ini dibuat dengan tinta di atas kertas, dengan kedua sisinya melukiskan orang yang sedang menebang pohon.

Sedangkan di tengah adalah hewan-hewan, dengan siluet merah dan bayangan orang utan dan gambar kaki hewan-hewan yang dilindungi. Mengapa hanya kaki? Agaknya karena hewan-hewan ini semakin punah, sehingga hanya jejaknya yang kita lihat, mungkin dalam bentuk foto atau video.

“Erase for Sadness” karya Hotland Tobing

Tidak hanya isu sosial yang diangkat Hotland Tobing, akan tetapi karya yang berupa perenungan manusia juga mampu ditampilkan dengan baik. Seni berjudul “Erase for Sadness” menampilkan dua sosok manusia, yang satu digambarkan menggembok mata dan mulutnya, kemudian yang satu lagi mukanya digambarkan dengan jelas tapi mata sedang terpejam dan mulut mengatup.

Meski demikian, ada benang merah dari kedua sosok ini, yaitu sama-sama menyembunyikan kesedihan dari wajahnya, dan tangannya sama-sama memegang bunga. Karya ini seolah mengatakan bagaimana caranya manusia berusaha menutupi kesedihan, dan berharap berangsur-angsur kesedihan dan kesengsaraan itu hilang.

Akhir kata, menikmati karya seni selain membuat kita berpikir akan apa yang terjadi di sekitar kita, juga terhadap diri kita sendiri. []

 

* * Penulis dapat ditemui di media sosial Instagram: @ra_ra_rakhma_ma_ma | Facebook : Rahma St

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *