Pengalaman Berkunjung ke Galeri Simpassri Medan Penulis : Yohanes Pangaribuan

Di antara berbagai galeri yang muncul dan pergi di Kota Medan, ternyata masih terdapat beberapa galeri yang bertahan. Salah satunya adalah Galeri Simpassri yang sudah didirikan sejak 1967 oleh Yayasan Simpaian Seniman Seni Rupa Indonesia Sumatera Utara.

Yayasan inilah yang menaungi banyak seniman asal Kota Medan seperti Reins Asmara, Rasinta Tarigan, Fitri Evita, dan seniman-seniman lainnya baik yang senior mau pun yang muda. Beberapa di antara mereka bahkan juga sudah aktif berpameran sampai ke level nasional.

Bulan Juli 2016 adalah kali pertama saya mampir di Galeri Simpassri. Posisinya tepat di pinggir jalan besar Jalan Letjen Suprapto dan Jalan Teratai. Walau demikian, Galeri Simpassri tidak jelas terlihat dari jalan raya karena bentuknya persis rumah biasa. Halaman rumah yang luas membuat plang penanda di atas pintu masuk ruang pamer tidak terlihat dari jalan raya. Satu-satunya tanda kehadiran galeri adalah spanduk di tepi jalan bertuliskan “Pasar Seni”.

Begitu masuk ke ruang pamer, saya dihadapkan pada pajangan banyak lukisan di dinding dan penyangga lukisan berbentuk tiang-tiang. Semua lukisan digantung sangat berdekatan dan cenderung kurang rapi. Sebagian besar lukisan yang menggunakan penyangga malah saling bersentuhan bingkainya. Terlihat Yayasan Simpassri sangat memanfaatkan ruang yang tersedia agar sebanyak-banyaknya karya dapat ditampilkan disana.

Bila galeri pada umumnya menyediakan jeda antar karya agar pengunjung dapat memiliki cukup ruang meditatif untuk merenungkan makna karya, ketiadaan jarak antar karya disini malah menekankan keterkaitan antara satu karya dengan karya lainnya. Setelah melihat satu karya, mata pengunjung langsung terarah pada karya berikutnya yang terkait secara tema dari karya di sebelahnya.

Keterkaitan itu semakin terlihat karena karya-karya yang sedang dipajang adalah karya-karya dari pameran Aksi Peduli Sinabung tahun 2016.

Mata saya dengan mudahnya langsung tertuju pada kumpulan karya-karya besar Teradim Sitepu. Pelukis berdarah Batak Karo ini banyak melukiskan perkampungan adat Karo yang permai dengan pemilihan warna-warna pastel. Tampak pada setiap lukisannya samar-samar citra Gunung Sinabung dalam kondisi bersahabat.

Tidak jauh dari kumpulan karya Teradim, dipajang karya-karya surealis Rasinta Tarigan yang juga banyak menggunakan simbol-simbol kebudayaan Batak Karo.

Lukisan Rasinta memakai warna-warna gelap dan wajah-wajah masyarakat adat yang murung untuk mengekspresikan kesedihan korban letusan Gunung Sinabung. Karya-karya Reins Asmara juga bercerita tentang kesedihan yang sama, namun lebih dramatis.

Dari lukisannya dapat dirasakan kepanikan masyarakat yang tengah mengungsi, dengan gunung Meletus sebagai latar belakangnya. Pilu tragedi Sinabung juga dicitrakan dengan media fotografi oleh Fuad Erdansyah. Ia mendokumentasi mainan-mainan rusak yang tertinggal di sekitar lokasi letusan.

Karya-karya sedih tersebut diselingi lukisan-lukisan asri a la Mooi Indie oleh Suhendra, lukisan aktifitas keseharian warga adat kampung Karo karya Wan Saad, juga karya-karya karikatur surealis Fitri Evita yang tidak langsung menggambarkan tragedi Sinabung namun menampilkan hubungan antara manusia dengan alam.

Berkunjung ke Simpassri Galeri memberikan saya wawasan tentang perkembangan seni rupa di Medan. Dapat dikatakan karya-karya disini jauh dari kesan kontemporer. Namun terlihat jelas seniman-seniman Medan memiliki cara yang beragam dalam berekspresi dan memilih media. Pameran Aksi Peduli Sinabung yang ditampilkan disini juga menunjukkan solidaritas seniman-seniman Medan yang masih menjunjung tinggi fungsi utama kesenian sejak era Sudjojono, sebagai alat untuk berpihak kepada masyarakat yang terpinggirkan. []

 

* Penulis lahir di Medan, 13 Maret 1993, adalah seorang PNS yang memiliki ketertarikan terhadap dunia seni rupa. Berkunjung dan mengulas pameran atau karya adalah hobinya. Berbagai ulasan singkatnya dapat dilihat pada akun instagramnya @bogoroditsye. 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *