Pertemuan yang Campur Aduk di Nyaman Gallery Penulis : Sidhi Vhisatya

Bau dupa sudah menghilang, motor dan mobil berebut jalanan. Orang-orang lalu lalang di trotoar. Seminyak adalah area yang sibuk sejak pagi. Turis-turis berdatangan untuk menikmati pantai atau berbelanja. Tak sedikit juga yang keluar-masuk galeri (atau beberapa lebih tepat disebut sebagai art shop) untuk menambah koleksi pajangan rumah. Beberapa kali saya sempatkan mengobrol dengan beberapa tamu yang singgah, dan tak jarang muncul celetukan: semua galeri kok isinya sama, ya?

Lukisan di Pintu Masuk Nyaman Gallery

Waktu sudah hampir terik. Saya memasuki Jalan Basangkasa, dan menemukan satu galeri yang ramai diberi bintang lebih dari tiga di situs Tripadvisor, Nyaman Gallery.

Bunga-bunga biru, layaknya karpet terbang Aladin menjadi pembuka di kaca masuk kanan dan kiri. Warna keduanya yang cerah, akan dengan mudah mengajak orang-orang yang melintas, paling tidak menoleh.

Saya mendekat ke arah salah satunya, detil-detil cat yang dibuat seolah-olah pecah dan hampir mengelupas membuat karya ini menjadi special. Saya bisa membayangkan jumlah lapisan yang diperlukan untuk membuat kerak-kerak cat ini, sebelum menambahinya dengan beberapa lapisan air brush.

Karya berjudul “Big Blue dan Blue Carpet” ini dibuat oleh YOKII. Memulai karir seninya sebagai seniman screen printing kaos, YOKII banyak mengeksplorasi teknik crackle paint pada berbagai tema seperti reproduksi foto perempuan Bali jaman dahulu dan tengkorak. Detil dan tekniknya yang konsisten patut diapresiasi.

Melangkah masuk, foto fashion dari Stephan Kotas, “Dark Side of The Moon” membawa mood yang lebih gelap. Kejelian Kotas, fotografer asal Ceko, memainkan pencahayaan, kontras warna dan gestur model, membuat foto ini meditatif: ada jarak antara apa yang terlihat dan yang tidak. Yoga Raharja adalah fotografer lain yang memamerkan karyanya di galeri ini. Tema-tema kehidupan sehari-hari yang sangat cocok sebagai foto editorial media cetak, diperbesar skalanya dan dihadirkan sebagai bagian dari galeri.

Lantai Dua Nyaman Gallery

Lukisan di sampingnya, dengan warna yang monokromatik mehadirkan suasana yang juga gelap. Lahir dari tangan seorang Lukman Fauzi, lukisan “Sweet Memories”, membuat saya membayangkan makanan-makanan yang manis tapi sama sekali tidak menggugah selera. Kesehatan menjadi pertimbangan utama untuk meninggalkannya sebagai sebuah kenangan. Lukman lihai membuat figur-figur dan tema sureal yang mengingatkan kita pada Dali. Walaupun pada beberapa sisi, permainan simbolnya terlalu kentara, lugas, naïf dan hampir tanpa twist.

Kita bisa menjelajah karya-karya dari seniman jalanan dan melihat aplikasi teknik stensil di atas kanvas, kayu atau kertas. Karya-karya Quint yang beberapa di antaranya sedikit nakal tersebut, terasa lebih anteng di dalam galeri. Terdiri dari dua lantai, galeri ini juga menghadirkan kolase kertas dan kain dari Jean Michel Aucler, gambar-gambar perempuan dari Bunny Bone dan doodle-printnya BAM.

Saya diam sejenak. Entah mengapa, sejak saya masih tinggal di Jogja, Bali erat dengan kata seni dan tradisi. Hal ini sangat mudah diamini dengan banyaknya galeri komersil yang menawarkan garis dan warna yang sama, dan para penjual sepakat menyebut koleksi mereka sebagai yang khas dan tradisional dari Bali.

Saya menikmati setiap vakansi saya dari satu karya ke karya lain. Sebagai galeri komersil, mereka jeli melihat pasar dan juga menawarkan sesuatu yang segar di sepanjang Jalan Basangkasa, bukan hanya lewat kebaruan tema dan teknik, tapi juga keseriusannya menemani perjalanan seni masing-masing seniman dan mengenalkannya pada publik. []

 

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram @sidhiv

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *