Pesona Lukisan Bayu Wardhana Penulis : Arina Fikriya

Agustus 2016 silam memberi sebuah kenangan manis yang tak terlupakan sepanjang hidupku. Ya, aku yang biasanya hanya tertarik mendatangi pameran pendidikan, tiba-tiba saja terpesona pada lukisan Bayu Wardhana saat mengunjungi pameran tunggalnya di Taman Budaya Yogyakarta.

Lukisan-lukisannya terasa hidup, dan bahkan menyedot seluruh ruhku untuk berfantasi mendatangi bangunan-bangunan di lukisan tersebut.

Yang paling membuatku terpaku adalah lukisan raksasa Tembok Besar China yang menyihirku seakan memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lalu, di tahun 2012 saat aku masih lajang dan menikmati liburan musim panas dalam masa student exchange di kota Xinzheng, Tiongkok.

Dalam lukisan itu aku melihat diriku yang menari-nari kegirangan, melompati satu demi satu anak tangga, tertawa renyah bersama teman-teman seperjuanganku. Ah, dan tanpa kusadari ada bening yang menetes di pipiku. Masa itu adalah fase lain dalam hidupku, dimana sekarang aku tengah memasuki fase baru dengan janin yang ada di rahimku.

Aku hanya bisa berdo’a dalam hati, semoga kelak mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Great Wall lagi bersama suami dan anak-anakku.

Pesona lain dari lukisan Bayu Wardhana adalah cara melukisnya yang tidak biasa. Bagiku yang bukan pengamat seni, melihat teater Bayu Wardhana saat melukis on the spot membuat mataku berbinar.

Biarlah aku dianggap ketinggalan zaman, namun bagiku telat mengagumi lukisan seniman asal Bantul ini adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Teatrikal proses melukis on the spot seperti ini sangat menarik perhatian khalayak ramai, tak terkecuali diriku.

Gayanya yang bebas berekspresi meski disaksikan puluhan pasang mata sangat natural, tidak terkesan dibuat-buat untuk show off di hadapan publik.

Meski aku pribadi lebih suka lukisan bunga dan pemandangan alam, namun lukisan Bayu Wardhana adalah pengecualian. Kebanyakan lukisannya memang memotret bangunan dengan value-value yang ada dalam persepsinya, dan itu justru yang membuatku terkagum karena lukisan itu lebih hidup daripada hasil potretan kamera.

Lukisan Bayu Wardhana sarat akan nilai-nilai dari semua sisi kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Saat itulah aku baru tahu, bahwa lukisan-lukisan Bayu Wardhana tergolong lukisan ekspresionis, yakni lukisan yang mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional sang pelukis.

Nano-nano rasanya ketika mendapatkan ilmu baru tentang dunia seni, terutama seni rupa. Antara bahagia, excited, kagum, serta menyesal. Ya, menyesal karena selama ini pengetahuanku akan seni rupa amatlah sempit. Padahal aku tinggal di Jogja yang merupakan base camp para seniman.

Untuk ke depannya, sudah aku azzamkan dalam hati, jikalau ada waktu luang aku akan mengunjungi pameran-pameran seni lainnya untuk lebih membuka cakrawala ilmuku tentang dunia seni. Karena seni itu… Unik. []

Penulis adalah ibu rumah tangga dan Pengajar di Yayasan Pengurus Anak Yatim Ukhuwwatul Aitam, Pengajar Privat, Pedagang Online, dan Freelance Writer. Tinggal di Sleman Yogyakarta dapat dijumpai di media sosial instagram: @arina_fikriya | facebook: Arina Fikriya

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *