Ruang Gerilya : Dari Seniman Untuk Seniman Penulis : Akmalia Rizqita

Sejak beberapa tahun ke belakang, artist-run initiative space, atau ‘ruang gagas seniman’ mulai bermunculan di Indonesia. Jika biasanya ruang seni seperti galeri dan museum didirikan dan dikelola oleh pihak pemerintah atau swasta seperti kolektor, art dealer, dan sebagainya, ruang seni basis seniman adalah ruang seni yang digagas dan dikelola oleh seniman.

Suasana artist talk Pameran Beta Test #8: Alrezky Caesaria di Ruang Gerilya, 24 Maret 2016.

Salah satu contohnya di Bandung adalah Ruang Gerilya. Ruang ini didirikan pada tahun 2011 oleh Wibi Triadi (manajer seni), Zico Albaiquni (seniman), dan Aliansyah Caniago (seniman). Saat pertama kali saya berkunjung ke sana, saya baru mulai berkuliah di Seni Rupa ITB dan masih asing dengan ruang-ruang seni di Bandung.

Sejak kecil, ruang-ruang seni yang biasa saya datangi adalah ruang yang besar dan megah karena dikelola olah pemerintah atau swasta, seperti Lawangwangi Creative Space, Selasar Sunaryo Art Space dan Galeri Nasional di Jakarta.

Oleh karena itu, saya sedikit terkejut saat pertama kali melihat Ruang Gerilya yang bisa dikatakan hanyalah ruang tamu dari sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi ruang pamer karya seni.

Ruang pamer Gerilya terbagi menjadi dua ruangan; ruang depan yang berdinding putih dengan sedikit bata merah dan ruang belakang yang dindingnya ditutupi cermin, karena dulu rumah ini pernah dipakai sebagai studio dansa dan tinju.

Sejak pertama kali dibuka pada tahun 2013, ‘ruang cermin’ menjadi ciri khas dari Ruang Gerilya, menantang seniman yang berpameran untuk merespon ruang cermin tersebut dengan karyanya. Sayangnya, pada tahun 2017 lalu, cermin-cermin tersebut sudah ditiadakan.

Seiring waktu, saya kian memahami bahwa eksistensi ruang-ruang seni gagas seniman, yang seringkali juga disebut ruang seni alternatif, seperti Ruang Gerilya, sangat penting dalam mendukung keberlangsungan infrastruktur seni rupa Indonesia, mulai dari skala mikro.

Ruang kaca Gerilya, 25 Desember 2016

Karena dikelola oleh seniman, Ruang Gerilya menjadi suatu wadah berbagi yang ramah, memberikan tempat bagi mahasiswa, seniman-seniman muda, dan para pekerja kreatif lainnya untuk bereksperimen dan menyampaikan karyanya ke publik secara lebih mudah.

Singkatnya, Ruang Gerilya menjadi titik awal bagi para seniman untuk berkarier, sebelum mencapai ruang-ruang seni yang lebih besar seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Biaya sewanya pun cukup murah, mulai dari Rp150.000 perhari. Bahkan ada program bebas biaya yang memberi kesempatan bagi seniman berpotensial untuk berpameran tunggal di Ruang Gerilya, yaitu Beta Test.

Seperti namanya, pameran ini berarti adalah pameran beta, atau pameran tunggal percobaan untuk seniman muda, guna mendapat feedback dari sesama pelaku seni dan menambah pengalaman berpameran. Tidak hanya itu, Gerilya juga membuka kesempatan magang bagi calon-calon galeris untuk menambah pengalaman dalam mengelola galeri.

Lokasi Ruang Gerilya pun sangat strategis. Terletak di Jalan Raden Patah No. 12, Ruang Gerilya hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari kampus ITB di Jalan Ganeca. Selain itu, ia juga dekat dengan kampus-kampus lain, seperti UNIKOM, ITHB, dan UNPAD. Sekarang, di tempat yang sama sudah dibuka kafe Kopi Rapat, sehingga Ruang Gerilya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk bersantai, berdiskusi, sambil menikmati kopi dan mengapresiasi karya seni. []

 

* Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Program Studi Seni Rupa Studio Kajian Seni 2014 – sekarang. Menyukai dunia seni dan tinggal di Bandung. Dapat dijumpai di media sosial FB : Akmalia Rizqita, Instagram: @akmlrizqita

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *