Sang Adik dan Sang Pembatik Penulis : Ardea Rhema Sikhar (Sundea)

Saat saya memasuki ruang pameran, seorang ibu berkerudung menyambut saya penuh semangat, “Silakan, silakan, mulainya dari sini,” ujarnya sambil menggiring saya ke pojok ruang pameran.

Batik Merapi karya Mardijanto Djojosemardjo

Selanjutnya secara rinci ia menjelaskan setiap karya yang terpampang di dinding pameran; mulai dari latar belakang pembuatan sampai bahannya, “Ini nggak ada yang berjudul karena kata kakak saya, judul bebas saja sebab setiap orang bisa punya persepsi sendiri,” ungkap ibu yang ternyata bernama Budiyati Abiyoga, adik bungsu almarhum Mardijanto Djojosemardjo, sang seniman.

Mardijanto Djojosoemardjo (1927-2004) adalah seniman yang menjembatani tradisi dan lukisan modern. Menggunakan teknik dan pewarna batik, ia yang sempat belajar melukis di Badan Musjawaranah Nasional menciptakan karya-karya yang berani menyeberang pakem terutama pada zamannya.

Warna adalah daya tarik kuat karya-karya Pak Mardijanto. Ia yang konon selalu terbuai dengan warna begitu terampil menciptakan kesan dengan warna. Sekali waktu ia mencurahkan warna-warna cerah tanpa ragu, lain waktu ia menampilkan warna-warna yang wagu seperti dalam lukisan gunung merapi yang dibuatnya.

“Merapi ini maksudnya keseimbangan alam,” kata Ibu Budiyati yang hampir tak pernah membiarkan saya berdiri menghayati lukisan kakaknya sendirian. Selanjutnya, berceritalah ia tentang karya-karya sang kakak yang mencerminkan kepedulian yang kuat kepada kemanusiaan, kebangsaan, dan keimanan.

Ia pun menyinggung buku trilogi mengenai Pak Mardijanto yang sedang ditulisnya, “Judulnya Sebuah Kekuatan Cinta. Kami sangat dekat. Suami saya pelaut. Kalau suami saya sedang tidak ada di rumah, kakak saya kadang menginap di rumah,” curhatnya.

Pada akhirnya, ketimbang mencermati karya Pak Mardijanto, Saya lebih banyak mendengarkan Bu Budiyati yang tak henti-henti menuturkan kenangan dan cita-citanya.

Ia bercerita mengenai sifat dingin, keras, dan kaku Pak Mardijanto yang membuatnya kurang disukai. Ia juga bercerita mengenai dihapuskannya nama sang kakak dari sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Pun amanat sang kakak untuk membuat museum.

Bu Budiyati yakin betul kakaknya adalah bagian mata rantai sejarah, tetapi kurang mendapatkan perhatian. “Dia lebih diketahui di luar negeri daripada di negeri sendiri,” tandasnya.

Bertahun-tahun setelah Pak Mardijanto meninggal, setelah mengadakan riset terhadap karya-karya kakaknya, Bu Budiyati menggelar 152 buah karya Pak Mardijanto pada pameran “Sebuah Kekuatan Cinta” di Galeri Ciputra 18-21 November 2010.

“Kuratornya nggak ada saya susun saja sendiri,” ungkapnya. Saya tersenyum. Mencoba menangkap harapan yang setengah mati digotongnya agar tidak sampai jatuh.

Dalam perjalanannya menyeberang sejarah, jembatan Pak Mardijanto runtuh oleh usia. Tetapi di bawah sana, seorang adik yang sangat menyayanginya siap menangkap cita-citanya.

… dan ia bersampan, menaklukkan harapan … []

 

* Sundea adalah penulis dan penangkap keseharian yang jatuh cinta kepada hidup setiap hari. Ia mencatat dan membagikan apapun yang membuat mata hatinya berbinar. Seni adalah salah satu di antaranya. Dapat dijumpai di media sosial instagram: @salamatahari | facebook: Salamatahari Sundea | Juga blog: www.salamatahari.com

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *