URBANE, Sebuah Ruang Multi-Disiplin yang Menjadi Pintu bagi Apresiasi antar Golongan Penulis : Christine Toelle

Jejak-jejak ruang seni sebagai jembatan penghubung antara masyarakat dengan para produsen seni memiliki kecenderungan yang terus berubah seiring masa. Era kontemporer memiliki dampaknya tersendiri bagi pengunjung untuk akhirnya menemukan ketertarikan mereka dalam mendatangi tempat-tempat kesenian.

Bagi beberapa golongan masyarakat, mungkin ruang seni sudah menjadi lokasi strategis yang sifatnya familiar dan tidak berjarak. Namun bahkan bagi golongan masyarakat yang berasal dari pekerja kreatif pun seringkali ruang yang beririsan dengan fine art atau tempat-tempat seni tinggi masih memiliki ‘jarak’ yang memberikan suatu bentuk keraguan untuk didatangi.

Berbeda dengan beberapa kerabatnya, Urbane: Galeri Yuliansyah Akbar. Ruang ini sesungguhnya berkembang dari beberapa gagasan persona yang berperan dalam disiplin design, tata kelola ruang, dan arsitektur.

Namun dalam perkembangannya seringkali digunakan oleh para perupa dan art managers/promoter sebagai ruang yang potensial dan dapat secara efektif menyampaikan gagasan karya dalam beberapa wacana pameran.

Sebut saja pameran Miss Something yang diusung para mahasiswa Seni Rupa ITB angkatan 2015 pada 20 hingga 26 Januari 2018 lalu. Pameran ini sifatnya akademik dan memamerkan karya-karya non-konvensional dari beberapa perupa/pelajar kolektif tersebut.

Mengapa non-konvensional? Karya-karya yang dipamerkan dalam ruang Urbane kemarin menampilkan karya-karya yang secara konvensi tidak akan ditemukan dalam tugas studio mahasiswa tersebut, seperti karya-karya yang sifatnya sudah menggunakan new media art —dari mahasiswa yang tidak termasuk dalam studio kekaryaan intermedia— mau pun karya-karya instalatif dari studio-studio konvensional seperti mahasiswa studio patung, lukis, mau pun grafis.

Pengalaman pertama saat memasuki ruang Galeri Yuliansyah Akbar atau yang sering dikenal dengan Urbane ini, penulis merasakan bentuk dan ambiance semi modern-industrial dengan penggunaan material-material kayu pada lantai dan penggunaan material lain seperti logam dan concrete pada tangga dan tembok.

Kesan modern ini menciptakan ruang yang terkesan luas dan efektif dalam display dari karya-karya dua dimensional maupun instalatif dalam pamerannya. Sifat leveling dari galeri yang menciptakan sebuah alur menjadikan daya tarik tersendiri dari Galeri Yuliansyah Akbar, memberikan kebebasan bagi pengunjung untuk menikmati sendiri alur dalam proses apresiasi pameran dengan disiplin seni rupa.

Ruang Galeri pada Pameran ​Miss Something, 2018

Kuratorial dari yang disampaikan dalam pameran Miss Something lalu pun terbantu dengan kondisi ruang yang mengalir dari pintu masuk dari lantai dua galeri hingga ruang yang lebih besar di lantai satu galeri.

Ruang galeri tersebut dibalut oleh warna putih sebagai latar dari tembok, memberi kesempatan bagi karya dalam pameran tersebut untuk mendapatkan sorotan yang lebih spesifik, dalam sebutan lain ruang ini dibentuk sedemikian rupa dengan beragam material dan warna dasar, namun komposisinya tidak menimbulkan kesan ‘berisik’ atau ‘riuh’.

Elemen-elemen ini kemudian menjadikan Galeri Yuliansyah Akbar menjadi tempat yang layak dan tepat bagi pameran-pameran karya yang tidak membawa wacana yang membutuhkan kondisi-kondisi site-specific atau berkebutuhan khusus dan spesial.

Seperti yang dibahas di awal tulisan ini, beberapa pengunjung kemudian harus memiliki alasan khusus dalam mengunjungi sebuah galeri atau ruang seni.

Sementara bagi kasus Galeri Yuliansyah Akbar, ruang ini dimulai oleh pranata-pranata multi-disiplin yang secara tidak langsung mampu membuka kesempatan yang lebih lagi bagi pengunjung dari disiplin lain untuk datang dan tanpa alasan berlebih menikmati pameran dari karya-karya seni rupa.[]

 

* Penulis merupakan mahasiswa Seni Rupa ITB program studi Seni Rupa dengan Jalur Pilihan Ilmu-Ilmu Seni dan Estetika. Ketertarikannya pada penulisan mau pun tata kelola dalam medan seni rupa menjadikan penulis seorang individu yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan dalam medan seni rupa. Tulisan-tulisannya belum pernah ada yang dipublikasikan sebagai tulisan lepas, dikarenakan itu pula artikel-artikel dalam submission bebas dari artspace.id menjadi sarana yang begitu menarik bagi penulis untuk memulai eksplorasi dalam menulis mengenai wacana kreatif Indonesia. Dapat dijumpai di media sosial instagram: @christinegerr

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *