Bincang Bentara Budaya Yogyakarta Penulis : Anggi Miftakhul Wakhid

Bentara Budaya Yogyakarta adalah sebuah galeri kecil tepat berada di sebelah utara stadion Kridosono, dimana gedungnya bersebelahan dengan kantor redaksi Kompas.

Banyak event pameran berskala kecil maupun besar diselenggarakan disini, hampir satu bulan sekali saya meluangkan waktu saya untuk mengikuti salah satu pembukaan pameran yang selalu ada tiap bulannya. Hanya dengan menyaksikan sebuah pameran mampu mengobati rasa haus saya tentang iklim berkesenian yang sehat.

Dengan berbagai kultur yang masuk di kota Yogya, Bentara Budaya menjadi saksi bagaimana seorang seniman memulai masa-masa sulit, dari yang awalnya berpameran kelompok sampai akhirnya mampu berpameran sendiri.

Masuk ke halaman depan kita akan disuguhkan dengan kesederhanaan, hanya tampak seperti halaman rumah pada umumnya. Tapi saat pembukaan sebuah pameran berlangsung, kita akan tampak akrab berbaur dengan para seniman ataupun para penikmat seni yang tumpah ruah menjadi satu dalam satu event.

Tidak ada batasan sosial didalamnya, semua menjadi satu pandangan, bahwa seni dapat merekatkan segalanya. Satu hal yang menarik setiap acara pameran digelar di Bentara Budaya, kita akan disuguhkan pertunjukan audio visual yang membuat penikmat seni berdecak kagum.

Panggung yang tidak terlalu besar, biasanya menjadi titk pusat energi kolaborasi antara musik kontemporer dan suguhan tari kita bisa saksikan.

Hal yang sangat menggembirakan selanjutnya saat kita ikut membaur pada prosesi pembukaan pameran adalah dihidangkannya berbagai makanan dan minuman, mulai dari jajanan tradisional sampai ke makanan berat, dan itu menjadi satu daya tarik magnetis paling kuat pada sebuah pergelaran pameran.

Teman-teman biasa menyebut kita yang suka menghadiri pameran dengan perut kosong sebagai para Snackers ( Baca; tukang cari makan ), karena disamping edukasi seni yang kita cari, adanya sajian makanan membuat kita bersemangat menempuh belasan kilometer untuk menghadiri pameran.

Dan acara makan bersama saat digelarnya sebuah pameran semakin mempererat tali persaudaraan. Kadang gagasan dan ide-ide cemerlang lahir dari diskusi ringan bertemankan kopi panas dan kacang rebus, hal yang sederhana seperti itu menjadi sebuah treatment paling ampuh sebagai creative bridge, antara penikmat dan seniman itu sendiri.

Bentara Budaya merupakan indikator tolak ukur sebagaimana sehatkah iklim berkesenian kita, termasuk khususnya di wilayah kota Yogya. Jika Bentara tidak pernah menyelanggarakan pameran dalam jangka waktu satu bulan, berarti ada indikasi iklim berkesenian yang tidak kondusif, dan hal-hal seperti itu kadang menjadi issue serius yang sering dibahas para seniman.

Masuk ke dalam ruang display karya, kita seperti masuk pada sebuah rumah sederhana, dengan cat tembok berwarna putih, seperti kebanyakan cat rumah pada umumnya. Lantai dengan keramik putih mengindikasikan kalau ruang pamer ini haruslah terus dijaga kebersihannya, karena pada kenyataanya, semua pengunjung pameran akan sangat menikmati sebuah pertunjukan pameran jika ruang yang tersedia juga bersih dengan pencahayaan yang bagus.

Berkunjung ke Bentara Budaya akan menjadikan kita sebagai sosok yang kritis, karena kita akan banyak sekali disuguhkan karya seni baik 2 dimensi ataupuun 3 dimensi, yang kadang membuat kita tercengang. Menjadi bagus karena menambah wawasan kita jauh lebih kaya dengan berbagai pengetahuan yang baru dan pastinya kita dituntut untuk menjadi generasi penerus kekayaan budaya kita.

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram: Anggi_Mw | facebook Anggi Mw

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *