Jatuh Cintalah pada Seni Penulis : Tika Insani Putrisia

“Langkah kaki pertama yang paling menentukan. Apakah kita akan jatuh cinta atau tidak.”

Kesan pertama untuk jatuh cinta sangat diperlukan. Begitu juga untuk jatuh cinta pada seni yang ada disekitar kita. Apakah kita bisa menikmatinya atau malah merasa bosan padanya.  Kunjunganku ke Jogja National Museum untuk melihat pameran seni Biennale Jogja adalah yang pertama kalinya aku melihat sebuah pameran seni.

Aku menyukai kunjuganku ke museum, namun museum yang kusukai adalah museum yang menyimpan barang-barang bernilai sejarah karena aku bisa melihat secara langsung cerita apa yang terjadi dibalik benda tersebut. Berbeda dengan benda seni yang terkadang menyimpan makna yang sulit dilihat dengan mata telanjang.

Jogja National Museum merupakan sebuah bangunan bekas Kampus Akademi Seni Rupa Indonesia yang sekarang dialihkan fungsinya sebagai museum dan juga diberi ruangan khusus untuk melaksanakan pameran seni.

Kegiatan Biennale Jogja ini juga merupakan kegiatan yang sudah pernah dilaksanakan pada tahun sebelumnya dan kembali dilakukan pada tahun 2017 kemarin dengan menggunakan tema Stage of Hoplessness yang menggabungkan seniman dari Brazil dan Indonesia.

Pada awalnya aku mengira acara ini hanya berisi lukisan-lukisan ataupun patung-patung yang tidak aku ketahui inspirasi pembuatnya datang darimana. Ternyata aku salah. Pameran ini memuat benda-benda sederhana dan abstrak namun siapa yang menyangka bahwa setiap benda tersebut memiliki makna yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Dimulai dengan saat pertama kali kita masuk akan dipenuhi dengan tulisan-tulisan pada dinding dan jika kita perhatikan tulisan tersebut adalah kata-kata yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari, bisa kita temukan tertempel pada tiang listrik di pinggir jalan bisa juga kita temui di kursi penumpang angkutan umum yang kita naiki tiap harinya.

Sederhana. Namun, kita jadi bisa melihat sifat orang dari sini.

Selain itu, yang menjadi favorit dalam pameran ini adalah sebuah kereta cantik berwarna pink lengkap dengan relnya yang dapat kita naiki dan terdapat kasur pada ujung dari rel tersebut. Jika kita amati pada kereta ini dapat terlihat tengkorak manusia diletakkan dan kereta ini terlihat sedikit misterius.

Karya seni ini berjudul “Kamu Pecundang Kalau Tidak Bisa Tidur” mengingatkan kita bahwa masih banyak orang diluar sana yang tidak bisa tidur dengan berbagai alasan mereka.

Pameran dengan tiga lantai ini benar-benar membuka hatiku mengenai seni itu sendiri. Segala kejadian sederhana, penolakan-penolakan dalam hidup bisa kita sampaikan dalam sebuah karya seni.

Banyak benda-benda terpampang yang aku lihat dan aku bahkan tidak mengerti maksudnya namun ketika aku membaca maksud dari si seniman baru aku mengerti, apa yang hendak disampaikan oleh sang seniman. Seni yang dimaksud untuk menyuarakan apa yang bagi sang seniman tidak layak atau tidak seharusnya ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Langkah kaki pertamaku pada pameran seni ini membuatku jatuh cinta. Aku menjadi menyukai seni dan segala teka-teki dibalik semua bendanya. Aku hanya berharap orang berbondong-bondong datang tidak hanya untuk berfoto dan upload sosial media, namun dapat menikmati dan memahami jeritan hati sang seniman.[]

 

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram: tikainsani | facebook: Tika Insani

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *