Keragaman Alam Asia di Gajah Gallery Penulis : Andrias Arifin

Patung berbentuk biji kecambah berwarna hijau-coklat mengkilap itu teronggok di sudut Gajah Gallery, di Jalan Keloran, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Patung berbahan bronze cast berjudul “Movement 1” itu adalah karya Kumari Nahappan, seniman asal Singapura.

Pameran seni rupa yang bertajuk “Super Natural” yang berlangsung tanggal 19 Mei – 19 Juni 2017 itu memamerkan karya-karya sejumlah seniman Asia lainnya.

Berada di dalam kompleks pertokoan Aruna, terjepit di antara deretan rumah toko, Gajah Gallery menjadi medium bagi sejumlah seniman Asia untuk unjuk kebolehan dalam kolaborasi pameran karya seni rupa dan gelaran performance art.

Sederet nama-nama seniman Asia yang sempat saya catat seperti; Maxine Chionh, Chong Weixin, Melissa Tan, Ian Woo, Jason Lim, Ng Joon Kiat, Warren Khong, Adeline Kueh, Sarah Choo Jing dan Kumari Nahappan menyuguhkan atmosfer visual kelembutan sekaligus kekerasan alam Asia. Tidak ketinggalan, seniman performance art seperti Mimi Fadmi, Ridwan Rau Rau dan Arsita Wardhani mewakili Indonesia juga menyuguhkan performa terbaiknya.

Ruang galeri yang didominasi warna putih itu memberi kesan luas dan tenang. Memasuki ruang galeri, mata saya langsung menumbuk pada potongan-potongan batang pohon beringin yang disusun sedemikian rupa membentuk leher seekor kuda. Instalasi berjudul “Under the Shaddow of the Banyan Tree” karya Jason Lim ini ditaruh di tengah ruang galeri. Lukisan berjudul “Singapore Landscape Painting” karya Zen Teh dengan teknik injekt-print membentang sepanjang 60 x 460 cm di atas meja.

Karya hasil olah digital berupa fotografi menggantung di dinding. Keindahan flora Asia karya Chong Weixin yang berjudul “Beige Dreams, Flesh Skin Surface” berupa foto sekuntum mawar. Lukisan abstrak “Aedis” karya Maxine Chionh dan “The Past Rockets Through Me” karya Ruben Pang menampilkan lukisan abstrak dengan warna-warna yang gelap.

Instalasi berbentuk jantung manusia berjudul “Heart to Heart” berbahan akrilik karya Suzann Victor, patung lempengan-lempengan berlubang berjudul “Icarus” berbahan akrilik karya Melissa Tan dan cetak digital berupa foto batu-batu runcing “Night Hoopoe” karya Robert Zhao seperti ingin memperlihatkan sisi lain karakter Asia: ‘Ada kelembutan dalam kekerasannya, sekaligus kekerasan bahkan di dalam kelembutannya’.

Pada kolaborasi pameran ini, seluruh seniman diajak untuk menampilkan karya-karya yang merepresentasikan kondisi, budaya dan situasi kota tempat asalnya masing-masing. Melalui pertunjukan performing art, si seniman juga turut ambil bagian dalam pentas seni pertunjukan mereka lewat gerak dan bahasa tubuh.

Arsita Wardhani, seniman Yogyakarta, mencoba mengeksplorasi gerak tubuhnya yang berjudul “Differ/Deffer” itu menampilkan gerakan-gerakan prosesi ritual seorang Shaman. Demikian juga dengan Mimi Fadmi, seniman Bandung yang dibalut baju berwarna orange menampilkan sebuah konsep gerakan-gerakan alam. Dengan judul “Untitled”, Mimi meliuk-liukan tubuhnya seakan merepresentasikan hembusan angin Priangan yang lembut. Balon-balon yang dipecahkan Mimi itulah menjadi representasi dari ‘angin-yang-lembut’ itu.

Kita juga dapat menyaksikan “Gotong Royong” yang dibawakan oleh Ridwan Rau Rau, seniman Jakarta, yang menunjukan sebuah budaya khas Indonesia. Ridwan melilitkan seutas tali di wajahnya, kemudian batang-batang sapu lidi diselipkan sebagai reperesentasi sebuah ‘kerja gotong royong’.

Malam itu, para seniman Asia tampil prima. Dengan mengusung tema Alam Asia, kombinasi ‘ada kelembutan dalam kekerasannya, sekaligus kekerasan bahkan di dalam kelembutannya’ menjadi sebuah deskripsi bahwa alam menyimpan kekuatan super, pun begitu juga merupakan ladang inspirasi yang tak pernah habis. []

 

* Penulis aktif di komunitas yang bergerak dalam dunia literasi di Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Andrenaline Katarsis | instagram: andrenaline_katarsis

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

One Comment on “Keragaman Alam Asia di Gajah Gallery Penulis : Andrias Arifin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *