Klasiknya Roemah Seni Sarasvati dari Mata Seorang Penggemar Seni Penulis : Muthi Arina Maulana

Saat itu Bandung sedang mendung. Untungnya saya sudah hampir sampai ke tempat tujuan saya, Roemah Seni Sarasvati. Dengan antusias saya turun dari motor dan langsung masuk ke dalam, meninggalkan teman saya yang hendak memarkirkan motornya di pinggiran jalan Jenderal Sudirman itu.

Saya disambut oleh sebuah pintu kayu klasik berwarna coklat tua dengan ornamen bulat keemasan yang tersebar teratur diatasnya. Sebuah tulisan terukir rapi diatas pintu itu, “Roemah Seni Saraswati”.

Saya memasuki sebuah ruangan dengan grid lampu yang menggantung di bagian tengah langit-langit. Lampu kecil di grid itu menyinari karya-karya seni lukis yang dipajang di dinding. Saya masuk lebih dalam ke ruangan berikutnya.

Warna coklat kayu yang mendominasi ruangan, membuat kesan hangat dan nyaman ketika saya menatapnya. Sedangkan warna putih di dinding, membuat ruangan terasa lebih lenggang dan luas.

Berbagai sketsa, lukisan, benda antik, dan batu-batu hias terpajang dengan rapi. Ruangan utama terbagi menjadi dua bagian, yaitu ruangan tempat seni lukis dipamerkan, dan sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti tempat greenery sebagai akses ke ruangan berikutnya.

Dua ruangan tersebut dibatasi oleh sebuah dinding kaca, sehingga dari ruang pameran, kita bisa melihat secara langsung ruang greenery tempat pemajangan beberapa jenis batu dengan bentuk unik.

Selain itu, terdapat juga ruangan di lantai atas yang terlihat seperti tempat para seniman untuk membuat karya seni, salah satunya melukis. Dibawah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua itu, dipajang beberapa barang antik dari kayu seperti lemari. Terdapat juga mesin ketik dan jam antik, serta lampu petromak tua yang terpajang di sebuah rak kayu.

Saya terpesona melihat gambar-gambar yang dipamerkan disana. Salah satu gambar yang paling menarik perhatian saya adalah gambar sketsa dengan judul “Menghargai Waktu”.

Dalam sketsa yang dibuat menggunakan pensil tersebut terdapat sebuah kepala kuda yang digambar hingga ke dada, dan disekitar leher kuda tersebut terdapat lingkaran jam dinding dengan gambar siput di dalamnya yang menghadap berbalik arah dengan kepala kuda. Karya ini dibuat diatas kertas berukuran 40 x 40 , oleh seorang seniman bernama Prabu Perdana.

Saat itu merupakan kunjungan pertama saya ke galeri seni. Sehingga meskipun saya mengunjungi Roemah Seni Saraswati di tahun 2014, saya masih mengingat kesan yang saya rasakan saat mengunjungi galeri seni tersebut.

Saya juga masih mengingat karya-karya seni yang dipajang di dalamnya, karena banyaknya foto karya yang saya ambil waktu itu. Sejak saat itu, saya semakin menggemari seni, sehingga saya lebih termotivasi untuk terus berkarya sampai karya saya bisa layak dipamerkan di galeri seni seperti karya-karya yang saya lihat di Roemah Seni Saraswati. []

 

* Nama lengkap saya Muthi Arina Maulana. Orang biasa memanggil saya Arin atau Muthi. Saya lahir di Bandung, 22 April 1997. Banyak hal menarik di dunia untuk dicintai, saya memilih seni dan sastra sebagai minat dan melukis sebagai hobi. Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram : muthi_arina | facebook : Art Rina

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *