Masalah Galeri Teh Atawa Thee Huis Penulis : Iman Herdiana

Ketika berkunjung ke galeri Thee Huis, di Taman Budaya Dago Tea House, yang terbayang mungkin suatu agenda seni rupa yang akrab seakrab suasana minum teh, keakraban antara pengunjung dan karya, perupa, maupun kurator dan galeri itu sendiri.

Thee Huis memang dipersiapkan sebagai galeri yang akrab bagi publik pecinta seni rupa maupun seniman. Nama galeri ini sebelumnya Galeri Teh dengan kurator pelukis Isa Perkasa.

Dua tahun belakangan ini, program pameran seni rupa Thee Huis dikurasi oleh Diyanto. Perupa alumni FSRD ITB ini kembali memakai nama Thee Huis, nama lamanya sebelum diganti Galeri Teh. “Kita ingin merunutkan lagi silsilah galeri,” kata Diyanto.

Lewat Diyanto dan kawan-kawan, agenda demi agenda seni rupa mewarnai Thee Huis. Teranyar, galeri ini menyajikan pameran Rem Blong: Tabrak Lari #2, sebuah pameran semarak penuh warna, diikuti 75 seniman dari Bandung, Surabaya, Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan lan-lain.

Pameran yang digelar Komunitas Sarang Penyamun 13-24 Januari 2018 itu banyak diikuti seniman muda dengan karya-karya kritis dan penuh gairah. Mereka tak cukup menggunakan kuas dan kanvas, melainkan pensil, spidol, arang, teknik print, olah digital, patung dengan bahan keramik, resin, bata merah, dan lain-lain.

Teknik dan alat yang mereka pakai begitu bebas dan leluasa, bagai kendaraan yang melaju tanpa rem sebagaimana tema pamerannya, Rem Blong: Tabrak Lari. Seniman Gusti Hayati, misalnya, yang menampilkan karya berjudul “Shofa” berukuran 200×220 cm.

“Shofa” terdiri dari dua karya eksperimental. Karya pertama berupa kain hitam yang dibentangkan menutup jendela kaca galeri. Di kaca yang menjadi gelap itu ditempel kertas putih berisi gambar dan tulisan dengan pena merah, biru dan hitam. Karya ini seperti majalah dinding.

Karya kedua Gusti Hayati berupa lukisan kaca. Disebut lukisan kaca karena Gusti Hayati membuatnya di kaca. Kaca yang dipakai adalah kaca jendela galeri juga yang dilukis dengan cat putih berupa gambar dan tulisan-tulisan. Gusti Hayati seolah menunjukkan, tak ada kanvas kaca galeri pun jadi.

Lewat karya Gusti Hayati, tampak hubungan seniman dan galeri begitu intim, antara karya dan ruang seni rupa tak lagi berjarak, tapi menyatu atau melebur. Selama ini, masalah ruang pameran memang menjadi persoalan bagi seniman, khususnya seniman Bandung.

Masalah tersebut juga dialami galeri Thee Huis yang sempat vakum selama lima tahun. Di masa awal-awal mengurus galeri pada 2015, Diyanto dan kawan-kawan dihadapkan pada persoalan seniman yang terkendala akses ke ruang pameran atau galeri. Bandung merupakan kota yang punya banyak fakultas seni rupa. Fakultas tersebut sudah pasti mencetak seniman-seniman muda. Mereka butuh ruang pameran.

Sementara galeri yang ada di Bandung, tidak semua bisa menampilkan karya-karya mereka. Ada proses kuratorial atau seleksi, sistem sewa, dan lain-lain. Bahkan galeri yang dikenal elit memasang tarif selangit.

Menghadapi masalah itu, maka Thee Huis menerima mereka dengan tangan terbuka. Di bawah kurator Diyanto, kata penanggung jawab pameran Thee Huis Arti Sugiarti, agenda seni rupa berhasil hidup.

“Awalnya kami kesulitan membangun galeri ini, modal tak ada. Kami hanya diberi kewenangan mengelola. Begitu Diyano masuk, pameran sangat padat. Akhir 2017 sampai awal 2018 agenda full. Alhamdulillah senimannya banyak,” ungkapnya.

Seniman yang pameran di Thee Huis beragam, mulai seniman senior sampai yang pemula. Galeri ini juga menjadi langganan mahasiswa seni rupa yang mengerjakan tugas akhir untuk pamer karya.

Menurut Arti, dalam menghidupkan agenda di Thee Huis, Diyanto dibantu Firman, Ega, Rizky, selain Arti sendiri.

Para seniman bisa berpameran tanpa memikirkan biaya sewa yang berat. Beda dengan galeri swasta yang bisa menerapkan sistem sewa dan jasa kurator. “Di sini tak sewa-menyewa karena galeri ini milik pemerintah,” kata Arti.

Thee Huis satu kompleks dengan Teater Terbuka Taman Budaya Dago Tea House yang merupakan ruang seni di bawah Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Provinsi Jawa Barat.

Sebagai galeri pelat merah, Thee Huis tentu tergantung pada kucuran dana pemerintah. Dana ini di antaranya dipakai untuk memfasilitasi pameran seniman.

Secara birokratis, Taman Budaya Dago Tea House dipimpin Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya di bawah Disparbud Jabar. Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya yang terakhir dipegang Moch. Darajatun. Namun tahun lalu Darajatun pensiun. Taman Budaya kini berjalan tanpa kepala balai.

Kekosongan jabatan kepala balai membuat segala keperluan terkait pengelolaan Taman Budaya agak tersendat, termasuk pengelolaan Thee Huis.

Arti Sugiharti berharap Disparbut Jabar tidak lamban dalam mengeluarkan SK pengangkatan kepala balai yang baru. Sebab kepala balailah yang menjalin komunikasi dengan galeri, termasuk mengakomodir kepentingan galeri. Jika kepala balai tak segera ditunjuk, tentu ujung-ujungnya akan mengganggu program Thee Huis.

Padahal, Thee Huis sedang ramai-ramainya dengan program pameran. Disparbud Jabar harus mendengar aspirasi seniman. Sehingga, Thee Huis akan tetap sebagai galeri yang akrab, yang tepat untuk menggelar agenda seni rupa sambil minum teh. Tapi kalaupun tak ada teh, kopi pun jadi. []

 

* Penulis adalah jurnalis, aktif mengikuti perkembangan dunia seni rupa di kota Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Iman Herdi | instagram: damzproperti

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *