Menikmati Secangkir Kopi dan Karya Seni di Selasar Sunaryo Art Space Penulis : Andrias Arifin

Berada di ketinggian bukit Dago Pakar, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) adalah galeri seni terbaik yang pernah saya kunjungi. SSAS tampaknya sudah terlanjur menjadi ikon ruang pameran yang prestisius tempat para seniman memamerkan karya-karyanya.

Selasar Sunaryo Art Space, tampak depan

Selain sebagai galeri seni rupa dan pertunjukan, secara konsep desain arsitektur, SSAS mewujud menjadi representasi dari estetika seni itu sendiri.

Tanggal 27 Januari 2018 saya bertandang ke SSAS. Secara kebetulan di sana sedang berlangsung sebuah pameran tunggal Nurdian Ichsan bertajuk “Sense of Order”. Seni patung berbahan lempung karya Ketua Prodi Seni Rupa FSRD ITB  itu dipamerkan sejak 26 Januari – 25 Februari 2018. Usai menikmati karya Nurdian, saya tidak langsung beranjak pulang. Cuaca cerah sore itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Sambil menenteng secangkir Kopi Selasar, saya berjalan-jalan mengitari setiap lekuk dan sudut SSAS.

Angin yang berhembus lembut, ditingkahi suara-suara hewan endemik hutan, membuat siapa pun betah untuk berlama-lama di sini. Pertama kali dibangun tahun 1996, seniman Sunaryo memang ingin membangun semacam ruang publik tempat masyarakat menyatu dengan segala kegiatan seni. Dan pada tahun 1998, di tangan arsitek Baskoro Tedjo, ruang publik itu akhirnya berubah menjadi galeri seni.

Ruang terbuka tempat karya Sunaryo

Berada di lokasi ketinggian dengan kontur lahan yang curam, SSAS menjelma menjadi sebuah konsep bangunan yang kaya akan sentuhan elemen alam Priangan dan ruang-ruang bidang yang elegan untuk memajang karya seni rupa. Konsep galeri dengan ruang terbuka ini memberi kesan menyatu dengan alam.

Sesuai dengan namanya, Selasar berarti lahan terbuka yang mempersilahkan siapa saja untuk datang bertandang, entah untuk menikmati karya seni rupa, menonton pertunjukan drama, atau bahkan sekadar menikmati makanan dan minuman yang disediakan di kafe Kopi Selasar.

Di titik inilah, desainer Baskoro Tedjo dan seniman Sunaryo tampaknya berhasil menggabungkan elemen arsitektur dan seni untuk kemudian menjadi artspace yang diterima publik penikmat dan pelaku seni dengan terbuka.

Dengan menuruni tangga berbahan ekspose bata merah, ada ruangan bernama Bale Tonggoh yang difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan suatu acara sarasehan atau forum diskusi. Sebagai elemen tambahan yang menambah pengunjung menjadi kerasan, di SSAS juga terdapat sebuah kafe yang dirindangi pepohonan.

Cinderamata Selasar

Dari atas kafe, pengunjung akan mendapati sebuah pemandangan lanskap bukaan yang luas dengan latar Bukit Dago yang menawan. Di bawah kafe, terdapat panggung permanen dan lahan melingkar berundak-undak berbentuk ampiteater yang bisa difungsikan sebagai tempat duduk yang bisa menampung 300 pengunjung menonton pertunjukan seni, pementasan drama, sendra tari atau pagelaran kebudayaan lainnya.

Melangkah ke bawah, ada sebuah rumah tradisional Sunda yang terlihat elok dipandang. Rumah itu difungsikan selain sebagai pemanis artistik, juga sebagai tempat tinggal seniman-seniman ketika mengerjakan berbagai proyek kesenian. Di bawahnya ada Bale Handap berbentuk joglo.

Sebagai pelengkap, galeri SSAS juga menyediakan fasilitas penunjang lain seperti mushola, toilet dan toko cinderamata yang menyediakan barang-barang seni, seperti buku, lukisan, kaos dan postcard.

Hari ini peminat seni semakin bertambah. Tampaknya SSAS sudah menunjukan visi dan misinya sebagai sebuah galeri, yaitu berpartisipasi dalam mengembangkan seni rupa yang semakin menggeliat dan mensosialisasikan karya-karya seniman Indonesia kepada masyarakat, juga ikut mendorong gerakan seni rupa Indonesia untuk tampil lebih maju lagi di kemudian hari. Semoga saja. []

 

Penulis aktif di komunitas yang bergerak dalam dunia literasi di Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Andrenaline Katarsis | instagram: andrenaline_katarsis

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *