Perjumpaan Pertama Dengan Bahasa Penulis : Natalia Oetama

Apa kata pertama yang bisa kamu tuliskan?

Karya seni Hanafi yang diberi nama “Perjumpaan Pertama Dengan Bahasa” berhasil membuat saya mengingat-ingat kembali momen-momen awal ketika pertama kali belajar menulis.

Hemat saya, karya ini menawarkan pengalaman dan kenangan untuk kembali mengingat masa-masa awal bersua dengan kata. Buku garis-garis dan pensil. Menuliskan huruf besar dan huruf kecil, gestur, belokan dan kelokan yang pertama kali dipelajari.

Karya interaktif ini berupa jaket berpensil dan sebuah ruangan serba putih serupa labirin kecil yang diberi nama lumbung bahasa. Mungkin pensil dipilih kerena melambangkan medium paling pertama yang digunakan manusia modren untuk menulis. Sebagai alat perantara pertama antara kita dan kata, mungkin.

Jaket berpensil ini memberi sensasi yang unik, kali ini bahasa-bahasa itu berloncatan bukan hanya melalui jari tapi seluruh badan yang terbungkus jaket. Bahasa-bahasa yang sebelumnya tak terlihat tersebut, kini menjadi menyata. Menjadi coretan-coretan di dinding lumbung bahasa dan merupa lukisan abstrak dengan sendirinya.

Selain mengingatkan tentang perasaan pertama saat berkenalan dengan bahasa, karya yang menjadi bagian dari Jakarta Biennale bertema JIWA pada November 2017 lalu, juga menyadarkan kita banyak bahasa yang sering terabaikan, gestur, gerakan, bahasa tubuh yang sering tak terkatakan dan tak tertuliskan.

Di samping karya ini ada juga sebuah dinding yang penuh dengan pensil-pensil. Dinding ini saya pandang sebagai pertanyaan, apakah kamu siap menjadi lumbung bahasa untuk hal-hal yang ada di sekitarmu? []

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *