Puisi Setelah Studio Jeihan Penulis : Hilyah Irsalina

Apa itu seni?
Aku tidak tahu.
Mungkin aku tahu. Lukisan. Gambar. Musik. Patung.

Galeri seni? Aku kesana jika ada tugas dari sekolah atau sedang jalan-jalan untuk wisata.
Tapi kali ini, pergi ke Studio Jeihan adalah pilihanku sendiri.
Karena mendengar namanya beberapa kali dalam salah satu kelas saat aku kuliah. Aku penasaran.
Tempatnya sederhana, seperti rumah.

Ada banyak lukisan disana.
Patung-patung juga ada. Aku tidak mengerti seni.
Jadi aku tidak tahu maksud dari apa yang aku lihat.

Setelah bolak-balik kesana kemari, lantai satu ke lantai dua. Aku rasa ada yang unik dari karya-karya di Studio Jeihan ini.

Oh….
Kebanyakan karya-karyanya bertema wanita, atau feminine.
Matanya, mata dilukisannya selalu hitam.
Apa artinya? Aku tidak tahu.
Seorang pria bercanda menghampiriku dan bergurau

“Kalau Jeihan melihatmu, pasti ia ingin melukismu”

Aku tersenyum, belum tentu itu pujian.
Bisa jadi maksudnya mataku ini sehitam lukisan-lukisan itu.
Sejauh apa yang aku lihat, lukisan-lukisan disana rata-rata beraura gelap.
Hingga ada satu lukisan yang membuat aku berdiri cukup lama, lebih dari lima menit.

Merah muda? Putih? Wanita?
Ada apa dengan wanita di antara dua warna?
Kok sepertinya mirip aku ya? Rambutnya saja, maksudku.

Satu lagi. Bunga matahari.
Mungkin lukisan bunga matahari ini yang paling berwarna disini. Apakah bunga dilukis karena bunga lekat dengan aroma feminine? Aku sok tahu, seperti biasa.
Apa aku menyukai galeri seni?
Mungkin.
Karena aku bebas menginterpretasikan apapun.
Yang menjadi favoritku,
Kadang aku menemukan diriku sendiri di sela-sela karya sang Maestro.

Bandung, 18 Januari 2018

* Penulis adalah mahasiswi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Dapat dijumpai di media sosial facebook: Hilyah Irsalina | twitter: @hilyahirsalina

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *