SOPHILIA: Seni Klasik Eropa dan Cina Kuno untuk Indonesia Penulis : Tasya Merari Elizabet

Figur seorang wanita tanpa lengan di kedua sisi tangannya, berdiri dengan pose santai dalam bentuk komposisi yang spiral, wajahnya tampak tenang namun dingin, pandangannya seakan ia sedang berada di dimensi yang lain.

Bermandikan cahaya matahari yang lembut, saya merasa patung replika Venus de Milo yang terkenal itu hampir hidup. Patung yang mempunyai efek dramatis nan halus ini berdiri di jantung Sophilia Fine Art Center.

Saya mengamati patung yang anggun ini sembari mencari asalnya cahaya matahari yang lembut. Pandangan saya berhenti di langit-langit bangunan museum yang berbentuk lingkaran yang menjorok ke dalam tengah lingkaran layaknya suatu kubah.

Di langit-langit yang menyerupai kubah ini ada lukisan mural yang melukiskan kehidupan Yesus Kristus, beserta kejadian-kejadian yang krusial mengenai kehidupannya; kelahirannya, Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh sampai kepada hari dimana ia naik ke surga.

Mural yang mengikuti bentuk langit-langit yang bulat itu sendiri bercerita mengenai siklus kehidupan kita, bagaimana ketika kita lahir kita akan kembali ke permulaan kehidupan seperti lingkaran yang digariskan kembali pada titik awal.

Sophilia, buah pemikiran pendeta Kristen Reformed, Pdt.Dr.Stephen Tong, pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia, berada di lantai 6, Calvin Tower, di Komplek Gereja pusat Reformed Injili Indonesia, Jl.Industri, Kemayoran, Jakarta Pusat, adalah suatu museum yang berisikan koleksi pribadi sang pendeta yang mengkhususkan diri kepada seni klasik Eropa dan seni kuno Cina.

Saat pertama kali memasuki museum Sophilia, saya berumur 12 tahun. Saat itu saya tahu bahwa saya akan menyaksikan mimpi saya menjadi kenyataan, melihat seni klasik Eropa.

Saya yang waktu itu masih kecil, dan penggemar seni klasik Eropa diliputi oleh rasa kagum karena keagungan dan keindahan yang menetap di setiap karya seni, termasuk ruangan museum itu sendiri; setiap lorong yang kecil ditata begitu rapi dan setiap tempat dipergunakan untuk memajang berbagai macam koleksi, mulai dari lukisan dengan berbagai ukuran, jam meja era Victorian hingga patung yang sebesar badan pun turut menyambut di hampir setiap lorong yang saya lewati.

Pilar putih yang menyokong tiap ruang dan cahaya kuning keemasan dari lampu yang menyoroti koleksi Sophilia, berpadu dengan tone warna hijau sacramento dan merah currant yang dingin namun terkesan hangat. Tambahan pula kemampuan Stephen Tong sebagai sang arsitek yang memahami cara menjiwai kesukacitaan hidup melalui karya-karya yang terpilih. Replika Venus de Milo menjadi bukti.

Bahkan melalui jam tangan antik; Rolex hingga Le Couture, saya hanya bisa membayangkan saja bagaimana benda sekecil itu dapat membawa dampak yang meluas dalam kehidupan manusia. Tidak hanya menunjukkan waktu, jam antik koleksi pribadi Stephen Tong ini mempunyai fungsi yang beragam, seperti mengukur jarak melalui suara ledakan, mengukur detak jantung manusia hingga hanya bentuk  yang semata estetik saja.

Melalui jam- jam tersebut saya menjadi benar- benar sadar bahwa abad ke-20 merupakan abad perubahan peradaban yang drastis dengan temuan-temuan penerobosan.

Abad ke-21, seperti yang diprediksi oleh sumber-sumber terpercaya, yang salah satunya adalah Forbes Magazine, bahwa Cina akan menjadi tapak ekonomi dunia. Bahwa Jaman sekarang akan menjadi jaman kebangkitan Asia dengan Cina yang memimpin.

Menurut hemat saya, pemikiran cemerlang Stephen Tong kelahiran Cina ini, sudah mengetahui dan memprediksi hal ini semenjak lama, maka dari itu, beliau (dalam rangka memperingati kebudayaannya sendiri juga) turut menghadirkan koleksi peninggalan kerajaan Cina kuno yang bahkan meliputi peninggalan Dinasti Ming dan Dinasti Shang, seperti baju sang kaisar, perabotan, lukisan dan naskah kuno yang diukir pada tulang lembu dan pungung kura-kura.

Saya menjadi paham kalau ternyata penting juga bagi kita untuk mengetahui, mempelajari, menghargai dan membudidayakan kebudayan kita masing- masing sebagai bentuk peradaban manusia.

Melihat koleksi dan pengkhususan museum ini, Sophilia adalah first-of-it’s kind museum di Jakarta, atau lebih tepatnya, Indonesia. Sayang, masih banyak orang- orang yang tidak mengetahui keberadaan museum ini, bahkan di kalangan para seniman sendiri.

Hal ini disebabkan karena pihak museum Sophilia memang belum menunjukkan diri terhadap banyak khalayak umum, sebagai dampak atas izin dari pemerintah yang baru saja mereka terima setelah beberapa tahun pembangunan.

Sophilia bukan merupakan sesuatu yang sudah pernah kita, warga negara Indonesia (khususnya bagi yang belum pernah ke Eropa) lihat sebelumnya.

Berbeda dengan museum dan galeri yang bersifat tradisional dan modern di Indonesia, seperti museum MACAN yang mengkhususkan diri dengan karya seni yang bersifat modern dan kontemporer, atau Museum Indonesia, yang berkonsentrasi terhadap artefak peninggalan jaman pra-sejarah Indonesia,

Walau sebagian besar koleksi lukisan dan patung di Sophilia hanya merupakan replika, dari lukisan karya Leornado da Vinci dengan konsepnya yang jenius serta kepiawaiannya dalam menggambarkan ekspresi yang hidup; Sandro Boticelli dengan warna transparan yang menjadi ciri khasnya, hingga replika lukisan Paul Gaugin dengan tokoh- tokoh eksotisnya.

Sophilia tidak hanya menjadi tempat pajangan barang antik, melainkan tempat yang menawakan saya kesempatan untuk benar- benar melihat dan belajar menginterpretasikan makna seni dengan lebih jauh melalui pembelajaran sejarah, politik dan kejadian- kejadian yang pernah terjadi di berbagai penjuru dunia di waktu yang berbeda dan bagaimana hal- hal tersebut masih relevan hingga sekarang.

Dan peraturan Sophilia yang tidak mengizinkan pengambilan foto mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu untuk benar- benar belajar menikmati karya seni.

Sophilia sudah memulai beberapa program pendidikan untuk anak- anak, salah satunya adalah darmawisata sekolah dengan kegiatan live skteching dan menonton konser musik klasik yang  diadakan di Aula Simfonia Jakarta, yang menurut arsitek kelas atas hingga musisi kelas dunia yang pernah ke sana, merupakan aula orkestra terbaik di Asia Tenggara, yang juga berlokasi di Jl.Industri, Kemayoran.

Sophilia buka untuk umum setiap hari Minggu, pukul 10.00- 14.00 WIB. Biaya tiket: Rp.100.000,- Di masa mendatang, Sophilia akan mempertimbangkan untuk buka di hari- hari biasa dan merencankan program- program yang lebih banyak. []

 

* Penulis dapat dijumpai di media sosial instagram: @tasyamerari

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

2 Comments on “SOPHILIA: Seni Klasik Eropa dan Cina Kuno untuk Indonesia Penulis : Tasya Merari Elizabet

  1. Halo, saya ingin berkunjung ke Sophilia Fine Art Center dengan sekolah saya. Tetapi saya tidak bisa menemukan no telp ataupun email. Bisa dibantu? Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *