Migrasi Ruang Bathin Katirin

Katirin “Strom” (2017). 150 cm x 200 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: M.A. Rozik.

Pelukis dengan latar belakang kemampuan teknis menghasilkan lukisan-lukisan potret realis biasanya tertahan di dalam zona lukisan itu saja. Mereka enggan beranjak ke wilayah artistik di luar itu karena satu dan lain soal. Katirin justru unik. Ia menjelajah ke wilayah lain untuk menemukan esensi bathin yang diekspresikan ke dalam medium karyanya. Penjelajahan artistiknya di dalam seni lukis justru masuk ke dalam proses-proses sublimasi di ruang personal.

Bagi Katirin, melukis bukan sekedar menggambar, membangun konstruksi bentuk atau komposisi warna saja. Seni lukis bagi Katirin adalah penjelajahan rasa dan jiwa yang terprovokasi oleh situasi sosial juga alam serta objek-objek yang memantik daya artistiknya muncul dari goresan kuas-kuasnya.

Pokok soal dalam lukisan-lukisan Katirin sebelum pameran tunggal yang diberi tajuk “Locus Utopia” ini adalah tubuh. Tubuh sebagai pemantik untuk melakukan abstraksi di atas kanvasnya. Maka, Katirin tidak melihat tubuh sebagai lanskap eksotika atau hal yang seksi dalam pandangan laki-laki. Tubuh bagi Katirin adalah representasi simbolik dari kekuatan brush-stroke di atas bidang kanvas. Penjelajahan artistiknya, dengan demikian, tidak terletak pada bentuk atau impresinya, melainkan nilai-nilai simbolik di luar bentuk.

Katirin “Waterfall” (2017). 150 cm × 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: M.A. Rozik.

Metoda ini juga serupa dengan seniman-seniman di era gerakan abstract expressionist di kota New York. Seniman dan pelukis di dalam gerakan seni itu melepaskan diri dari konteks karya-karya naratif sehingga yang muncul adalah eksplorasi material juga medium dalam uapaya menemukan pokok soal baru yang berangkat dari material cat yang digunakan, misalnya. Lukisan-lukisan Katirin sejurus dengan gerakan seni yang berkibar pada tahun 1950an itu, ia menggunakan kertas pada lapisan cat tertentu sebagai found-object untuk membangun persepsi mengenai bidang karya dwimatra yang datar.

Demikian situasi bathin Katirin ketika proses menyiapkan lukisan-lukisan untuk pameran tunggalnya kali ini di Sangkring Art Project. Lukisan-lukisan abstraksi yang diproduksinya masih terkait secara estetik dengan lukisan-lukisan dengan tema tubuh di atas bidang kanvasnya.

“Lukisan saya bukan eksplorasi pada bentuk. Justru memilih momentum yang tepat di dalam bentangan proses melukis karena seringkali lukisan-lukisan saya mengalir begitu saja, tanpa ditetapkan akan melukis apa nanti,” katanya.

Proses kreatif dalam membuat lukisan abstrak memang bukan perkara mudah bagi Katirin. Ia berpendapat bahwa melukis abstrak itu bukan sekedar membuat komposisi bidang, garis dan warna dengan sapuan-sapuan kuas secara ekspresif. Lukisan abstrak adalah bangunan nilai yang hadir dibalik bahasa rupa yang muncul di atas bidang kanvas.

Katirin “Swamp” (2016) 150 cm x 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: M.A. Rozik.

“Orang yang mengamati proses saya berkarya adalah istri saya sendiri. Terkadang saya meminjam pengamatan istri saya untuk memilih momentum artistik itu. Apakah sudah cukup atau belum selesai. Karena seringkali mengalir terlalu jauh hingga sulit membuat keputusan artistik pada karya saya,” kata katirin di Studionya di Wonosari, Bantul, Jawa Tengah.

Proses kreatif Katirin sejak migrasi ke Yogyakarta dari desa kelahirannya di Banyuwangi, Jawa Timur, serupa migrasi artistik. Migrasi dari seni lukis realisme pada zona seni lukis yang cenderung figuratif bahkan abstrak. Lingkungan studio lukis baginya adalah ruang migrasi artistik yang dapat dinilai sebagai ruang pemberi tanda. Lingkungan alam memberi dorongan artistik tertentu hingga mempengaruhi warna bahasa rupa yang dibangunnya di atas bidang kanvas.

Demikianlah migrasi ruang bathin Katirin di dalam kanvas-kanvasnya. Lapisan-lapisan brush-stroke di dalam lukisannya menyiratkan ruang-ruang yang pernah ia jelajahi sehingga mengendap di dalam ekspresi nirmana.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *