Mengupas Artikel Terbaik “Jelajah Galeri Seni” bersama Dewan Juri

Pecinta seni sedang mengatati fragmen lukisan “Symmetrical Sanctuary” (2010) karya Ay Tjoe Christine di SIGIart Gallery, Blok M, Jakarta Selatan. FOTO: Dok. Artspace Indonesia.

 

Selamat ya kepada semua pemenang lomba menulis “Jelajah Galeri Seni”. Pasti penasaran kan mengapa artikel-artikel itu yang dipilih oleh Dewan Juri sebagai pemenang.

Yup….Lima artikel terbaik dari lima penulis sudah diumumkan oleh artspace Indonesia pada hari Sabtu (10/2) siang tadi. Dewan Juri memiliki alasan penting mengapa artikel mereka dipilih sebagai pemenang lomba penulisan “Jelajah Galeri Seni”. Lantas, point apa saja yang jadi penilaian oleh Dewan Juri? Berikut hasil wawancara artspace Indonesia dengan Dewan Juri lomba menulis “Jelajah galeri Seni” kali ini:

AI: Kesulitan apa yang dihadapi dalam memilih artikel terbaik?

Heru Hikayat: Kebanyakan tulisan gagap dalam hal pemaparan. Di samping itu, sulit mencari tulisan yang bisa keluar dari stereotype. Stereotype tentang seni itu sendiri.

Adi Marsiela: Setiap peserta punya gaya dan sudut pandang berbeda-beda dalam mengapresiasi karya atau galeri. Cara menulisnya juga beragam. Semua tulisan jadi tampak menarik.

AI: Tolok-ukur apa yang digunakan untuk menilai artikel peserta lomba?

Heru Hikayat: Mulai dari teknik penulisan, gagasan, cara memaparkannya, hingga seberapa mampu menunjukan keunikan pemikiran tentang subjek kajiannya.

Adi Marsiela: Dalam penilaian ada empat kriteria yang kami gunakan. Kesesuaian tema, originalitas, kreativitas, dan penulisan jadi pegangan dalam penilaian.

AI: Apa saja yang menarik dari artikel yang jadi pemenang ini?

Heru Hikayat: Gagasan dan cara memaparkannya, unik.

Suasana pameran Bandung Art Now di galeri Nasional Indonesia, Rabu (7/1) malam. Usai pembukaan apresiator memadati Ruang Pameran Utama Galeri Nasional bak pasar seni rupa.

 

Adi Marsiela: Artikel yang memenangkan lomba ini saya kira mampu menyampaikan pandangan pribadi penulisnya terkait hal-hal yang mereka dapatkan dari sebuah galeri seni. Sudut pandang yang mereka pilih tidak sekedar melaporkan apa saja yang mereka lihat. Lebih jauh dari itu, mereka juga bisa menyampaikan cerita yang menarik dan menginspirasi pembaca dalam kaitan mengapresiasi seni. Cara penyampaiannya pun sederhana sehingga mudah dimengerti.

AI: Apakah menurut Dewan Juri bahasa yang digunakan oleh peserta bisa menarik lebih banyak lagi apresiator galeri/museum?

Heru Hikayat: Ya, bisa.

Adi Marsiela: Bisa jadi tulisan-tulisan dari peserta mendorong orang-orang lain untuk mengapresiasi galeri dan museum. Minimal tulisan para peserta bisa jadi contoh yang baik buat para penggemar Instagram untuk melengkapi foto mereka saat mengabadikan momen di galeri atau museum.

AI: Bagaimana artikel si penulis bisa menjadi terbaik dan apa yang membedakannya dengan karya tulis dari peserta yang lain?

Heru Hikayat: Penilaian tinggi diberikan pada teknik penulisan dan penuturan yang baik, ditambah isinya, berupa gagasan yang mampu secara unik menjelajahi pokok-soal tulisan, menyangkut ruang (pamer) juga penafsiran atas karya seninya sendiri.

Adi Marsiela: Ide, sudut pandang dan eksekusi tulisan yang mendapatkan nilai tertinggi berbeda dari tulisan peserta yang lain. Mereka tidak sekedar memaparkan apa saja yang ada di dalam sebuah galeri atau museum.

***

Nah, begitulah pandangan Dewan Juri terkait lima artikel terbaik yang menjadi pemenang lomba menulis “Jelajah Galeri Seni” kali ini. Karya tulis atau catatan berupa artikel atau esai yang baik akan menjadi pengetahuan publik selain sumber informasi yang benar, akurat, dapat dipertanggungjawabkan serta enak untuk dibaca.

Komposisi Dewan Juri yang terdiri dari kurator seni dan jurnalis dipilih oleh artspace Indonesia ini tiada lain bertujuan membangun budaya menulis artikel atau esai sesuai dengan data dan fakta yang terjadi di ruang pameran. Namun demikian pendapat pribadi yang menunjukkan pemahaman penulis mengenai karya seni juga menentukan bobot karya tulis yang dimaksud.

Teman-teman, terus menulis dan membaca ya. Ikuti lomba menulis dengan tema yang lain di artspace Indonesia di kesempatan yang akan datang. Semoga artikel ini menambah pengetahuan kita semua dan menambah semangat untuk terus berkarya. Pramoedya Ananta Toer pernah bertutur di rumahnya di Desa Bojong, Bogor, Jawa Barat, bahwa:

“Menulislah yang benar, karena tulisanmu akan menjadi sejarah,” kata Pramoedya Ananta Toer (alm.) sambil mengunyah buah jeruk manis.

Pameran tunggal Eddy Susanto “The Passage of Panji; Memory, Journey and Desire” (2014) yang dikurasi oleh budayawan, Taufik Rahzen, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: Dok. artspace Indonesia.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *