Menimba Pengalaman Rupa, Publik, Seni dalam Kata Catatan dari Lomba Menulis “Jelajah Galeri Seni”

Studio Nurhidayat di pinggiran kota Roanne, Perancis. FOTO: Nurhidayat.

 

Membaca artikel-artikel yang berisi pengalaman pribadi seseorang dalam melihat dan mungkin mencoba mengerti mengapa sebuah karya disajikan di ruang pajang adalah hal yang selalu menarik.

Apresiasi masyarakat terhadap karya seni di Indonesia dapat dikatakan masih terbatas untuk kalangan tertentu saja, hal itu membuat manajemen sebuah galeri atau museum harus jungkir-balik membuat strategi publikasi agar masyarakat pecinta seni terus bertambah.

Mengapa masih demikian? Salah satunya disebabkan oleh terbatasnya halaman di media massa yang menyedikan berita atau ulasan sebuah pameran apalagi catatan-catatan kritik seni yang terbatas, juga penulisnya.

Laman artspace Indonesia berhasil menyelenggarakan kegiatan lomba menulis pengalaman masyarakat setelah berkunjung ke galeri seni bertajuk “Jelajah Galeri Seni” pada hari ini, 10 Februari 2018.

Meskipun beberapa kendala dijumpai oleh peserta lomba, yaitu pengetahuan umum yang membedakan apa itu galeri seni, toko seni (artshop) atau antik juga museum seni rupa, antusias masyarakat cukup besar setelah menghitung jumlah peserta yang mengirimkan artikelnya – dengan beragam gaya penulisan tentunya.

Ratusan artikel dari puluhan peserta lomba penulisan yang masuk ke ruang redaksi laman artspace Indonesia membuat kami sebagai penyelenggara melihat banyak aspek positifnya.

Salah satunya, potensi penulis-penulis muda yang menaruh minat cukup besar terhadap kegiatan lomba serta minat mereka untuk mengunjungi ruang seni atau galeri seni bahkan museum seni.

Hal yang tak kalah pentingnya, kami juga melihat beberapa ketimpangan yang terjadi dalam medan seni rupa Indonesia, salah satunya adalah terpusatnya perkembangan produksi bahasa artistik di pulau Jawa saja. Menyimak artikel perserta yang masuk ke pihak panitia lomba penulisan ini juga terkuak bahwa galeri atau ruang pajang yang representatif hanya tumbuh dan berkembang di beberapa kota saja.

Meskipun demikian, pembaca laman artspace Indonesia khususnya pemilik atau pengelola galeri seni mesti berupaya berbenah diri untuk menyajikan sarana pendidikan di ruang komersialisasi karya seni itu.

Berikut wawancara Artspace Indonesia (AI) dengan Dewan Juri lomba menulis “Jelajah Galeri Seni” yang terdiri dari seorang kurator seni rupa di kota Bandung, Heru Hikayat serta seorang jurnalis salah satu surat kabar umum, Adi Marsiela.

AI: Apa tanggapan anda sebagai Dewan Juri mengenai lomba menulis “Jelajah Galeri Seni”?
Heru Hikayat: Lomba macam ini bisa menjadi cara untuk bikin orang melihat seni secara lebih. Lebih berminat, lebih ingin tahu, lebih teliti, dll. Saya kira inj penting.

Adi Marsiela: Kegiatan yang pertama kali digelar oleh Artspace.id ini menarik dan di luar dugaan. Ternyata banyak juga yang mengapresiasi kegiatan tulis menulis ini. Dari karya-karya yang masuk terlihat bahwa penulis berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Ini sangat menggembirakan.

Buat saya, kegiatan menulis jadi sangat penting di era banjir informasi sekarang ini. Kebiasaan menulis akan membantu, minimal untuk diri sendiri, dalam memaknai sebuah peristiwa atau kejadian. Kondisi ini, saya kira berlaku untuk semua kalangan usia dan mereka yang gemar mengabadikan momen lewat lensa kamera di telepon pintarnya.

Dengan membiasakan diri menulis, secara tidak langsung kita belajar mendisiplinkan diri di tengah-tengah hiruk pikuk informasi. Disiplin yang saya maksud adalah melakukan verifikasi dan konfirmasi atas sebuah fakta. Hal ini terlihat dari karya peserta yang secara umum dapat mendeskripsikan dengan baik apa saja yang mereka lihat dan rasakan. Sayangnya, tidak banyak peserta yang mau membagi pengalaman pribadinya saat mengapresiasi karya atau ruang galeri tersebut.

AI: Apakah kegiatan ini baik? Untuk kalangan mana sajakah itu?
Heru Hikayat: Karena itu, kegiatan ini baik ketika bisa meluaskan segmen pelihat seni.

Adi Marsiela: Semakin banyak orang yang mengapresiasi galeri atau karya seni, saya kira akan memberikan masukan yang luar biasa buat para seniman atau pengelola galeri. Rata-rata peserta mengungkapkan dirinya tidak memiliki latar belakang atau pengetahuan soal karya seni. Rasa keingintahuan yang jadi sifat dasar manusia mendorong mereka untuk mengapresiasi karya seni atau kegiatan pameran. Ujung-ujungnya, para pengunjung galeri atau museum merasa ada manfaat positif dari kunjungan mereka. Alangkah baiknya jika pengalaman yang menyenangkan ini dapat dibagi ke banyak pembaca, minimal ada orang lain yang merasa penasaran dan menjajal sendiri galeri atau museum.

AI: Apa yang anda lihat dari artikel para peserta mengenai kehadiran galeri/museum di suatu kota/kabupaten?
Heru Hikayat: Saya melihat ada minat cukup tinggi pada pameran seni dan pada kegiatan menuliskan pengalaman atas peristiwa pertemuan dengan karya seni.

Adi Marsiela: Karya –karya peserta mengungkapkan bahwa keberadaan atau kehadiran galeri seni masih belum merata di Indonesia ini. Museum juga sepertinya masih terpusat di ibukota provinsi saja keberadaannya. Menariknya, lomba menulis ini dapat memberikan gambaran kebutuhan publik akan keberadaan galeri seni atau museum itu di berbagai wilayah.

AI: Apakah kegiatan lomba menulis semacam ini baik diselenggarakan secara rutin?
Heru Hikayat: Karena itu, jika kegiatan lomba ini bisa dibikin rutin, saya yakin minatnya akan lebih meningkat.

Adi Marsiela: Tentu saja baik diselenggarakan secara rutin agar dapat menjadi ruang ekspresi penulis-penulis muda.

AI: Output apa yang diharapkan dari kegiatan lomba penulisan mengenai seni di Indonesia?
Heru Hikayat: Menulis bagaimanapun adalah kegiatan menalar. Saya rasa, kegiatan menalar ini yang harus terus dipupuk agar bangsa kita lebih maju. Menalar tentang seni, bisa menjadi cara yang baik untuk itu.

Adi Marsiela: Saya berharap kegiatan lomba ini dapat jadi tolak ukur bagi para peserta karena dapat melihat tulisan peserta lain. Tidak ada yang benar dan salah. Semua berhak menyampaikan pandangan dan pendapat dengan gayanya masing-masing. Bagi pengelola galeri atau seniman, saya kira berbagai apresiasi dari penulis yang mayoritas awam, bisa jadi masukan berarti dalam pengelolaan atau proses dan eksekusi karya.

***

Demikian hasil obrolan kami dengan Dewan Juri lomba menulis “Jelajah Galeri Seni” paa kesempatan ini. Kita semua mendapat ilmu lebih luas dari kegiatan ini karena dua Dewan Juri yang kami pilih berasal dari dua latar belakang displin ilmu dan profesi berbeda yang memiliki hubungan yang penting dalam memajukan apresiasi kita terhadap ruang seni dan karya seni yang dipajangnya.

Sampai jumpa lagi dalam kegiatan lomba menulis dengan tema yang berbeda di musim liburan sekolah mendatang. Semangat ya! Kami ucapkan selamat kepada para calon pemenang…Cheers.

Berikut adalah screenshot rubrik JELAJAH GALERI SENI di laman artspace.id yang menayangkan UPDATE artikel peserta lomba per tanggal 10 Februari 2018. Screenshot artikel pemenang lomba akan diterbitkan hari ini. Semangaaattt…..[]

 

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *