I Ketut Suwidiarta Mengunggah Idiom Budaya Tradisi

I Ketut Suwidiarta “The Power of Love” (2017). 75 cm x 56 cm, cat akrilik dan tinta di atas kertas. FOTO: Ketut Suwidiarta.

Lukisan “The Power of Love” memuat teks lawan rasisme yang diunggah pada pakaian figur berkepala Barong. Ketut Suwidiarta mengangkat isu perdamaian dunia dalam merespon situasi konflik teritori sebuah negara atau bangsa dan konflik ekonomi yang kian meranggas. Bunga mawar bagi Ketut Suwidiarta dijadikan simbol perdamaian sekaligus harapan.

I Ketut Suwidiarta menyajikan karya seni lukis di atas media kertas yang sepertinya syarat dengan idiom seni tradisi Bali. Apakah karya itu masih dibilang seni kontemporer? Ia menjelaskan bahwa seni kontemporer itu tidak memandang seni tinggi, seni rendah, baik teknis tradisi, modern, dan lain-lain. Pokok soal penting bagi Ketut Suwidiarta adalah apa yang diinginkan oleh seniman dengan karyanya.

Penanda budaya kontemporer yang dianggap destruktif terhadap nilai-nilai peradaban masyarakat dunia dibangun melalui idiom-idiom tradisi budaya masyarakat hindu Bali dalam konteks kehidupan masyarakat dunia saat ini. Nilai-nilai lokalitas sebagai sumbu kreatifitas seniman terjaga secara artistik pada karya-karyanya

Lalu, mengapa Ketut Suwidiarta memilih bahasa visual itu? Rupanya, teknis tradisi itu dipandang tetap memukau oleh seniman Bali lulusan magister seni lukis di Rabindra Bharati University, India. Ia menjelaskan tentang karya-karyanya memang tertarik lagi pada beberapa perkara teknis dari seni lukis tradisi Bali akhir-akhir ini. Namun, ia mengisinya dengan muatan pokok soal perilaku manusia saat ini.

“Menurutku, narasi budaya bali sudah tidak tampak lagi di sana. Kalo toh masih ada tanda di sana, dia tidak lagi mewakili etnisitas. Kalo wacana kontemporer adalah wadah yang lebih lebar untuk menampung segala kemungkinan. Ketika modern dan post-modern tidak menjadi sarana itu. Every subject matter is nothing wrong,” kata Ketut Suwidiarta di Bali.

I Ketut Suwidiarta “Neo Darkness” (2017). 75 cm x 56 cm, cat akrilik dan tinta di atas kertas. FOTO: Ketut Suwidiarta.

Lukisan “Neo Darkness” (2017) menandai sebuah jaman atau peradaban di mana moralitas manusia sudah digeser oleh hegemoni kelompok tertentu atau kekuasaan yang menanggalkan nilai moralitas menjadi nilai ekonomi dalam praktik politik. Agama dijadikan komoditas politik dan kekuasaan untuk menumbangkan salah satu kelompok minoritas tertentu. Kekuatiran I Ketut Sudiarta dengan situasi politik dan budaya hari ini tertuang secara simbolik dalam lukisan itu.

Kegelisahan Ketut Suwidiarta dalam karya-karyanya justru membaca-ulang pokok soal muatan karya senirupa serta idiom semiotik yang diproduksi oleh seniman Bali. Ia memandang bahwa seniman Bali yang melek wacana seni rupa hari ini tidak lagi mengekploitasi tanda-tanda budaya tradisi di dalam karya-karyanya. Idiom atau tanda-tanda budaya asalnya sudah melebur di dalam bahasa artistik yang bersifat universal. Fenomena itu menurutnya didorong oleh keterbukaan sikap seniman yang memiliki latar belakang pendidikan seni di luar Bali yang keras menandainya sebagai bagian dari industri pariwisata.

“Kalau kebebasan masih melekat pada seorang seniman, side effect bukan menjadi concern-nya. Yang dia lakukannya adalah mencaci, berserapah atau mengigau. Ini memang murni dari dalam. Tidak ada hubungan dengan like, dislike yang senantiasa ada. Whatever the perfect thing we did, when there is expect we want. There is still critize. Is it comon, isn’t it?” kata Ketut Suwidiarta di studionya di kabupaten Gianyar, Bali.

 

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *