Dengan Pop Art, Nurhidayat Mengelaborasi Lukisan dan Drawing Images dévorantes

Nurhidayat “Images dévorantes” (2017). 150 cm x 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Nurhidayat.

“Apa yang Anda ingat dari banjir gambar yang Anda temui setiap hari? Apakah ada jembatan antara keinginan dan ingatan? Atau apakah keinginan itu hanyalah perilaku yang berubah-ubah, terus berubah, sesuai dengan tontonan fashion dan media? Oleh karena itu Anda diajak untuk memilih antara: meninggalkan diri Anda untuk kesenangan konsumen atau menjadi, pada gilirannya, produsen gambar. Untuk membuat Anda terjebak, dimanipulasi dan diasingkan oleh semua gambar menggoda ini, atau sebaliknya, untuk mengendalikan keinginan ini, untuk mengaturnya dan karena itu menjadi pengambil keputusan: maka Anda bebas untuk menyerah atau menolak,” kata Nurhidayat.

 

Nurhidayat adalah seniman yang peka terhadap situasi global dan budaya populer, seperti yang pernah diuraikan secara gamblang dalam artikel Julian Stalllabras yang berjudul Elite Art in an Age of Populism, bahwa karya seni rupa kontemporer dikonsumsi oleh masyarakat elite yang hidup di dalam budaya populis itu sendiri. Budaya visual dan teknologi informasi telah menggeser metoda apresiasi seni pada karya seni yang menyertakan tanda-tanda budaya populer. Bahasa rupa yang makin canggih dibuat oleh seniman dengan memanfaatkan teknologi mutakhir secara adekuat menggaet masyarakat yang hidup dengan budaya visual tersebut.

Dengan kepekaan itulah Nurhidayat mengelaborasi pokok soal budaya populer dan konsumerisme ke dalam karya drawing dan seni lukisnya.  Surat, kabar, majalah fashion, internet, televisi dan aplikasi media sosial mengubah cara pandang masyarakat menjadi konsumtif. Fenomena itu menjadi tema khusus pada karya Nurhidayat. Ia memilih tema itu sekaligus konten karya karya dwimatra, drawing dan seni lukis.

Nurhidayat tidak lagi merujuk pada pokok soal di dalam seni rupa modern, hanya jadi pijakan teknis saja. Meskipun perkara teknis masih digunakan oleh seniman, mereka mengarahkan urusan-urusan teknis pada persoalan medium untuk menghasilkan daya pukau atau kesan dramatik pada karya seni lukis saat ini. Maka, Nurhidayat mengelaborasi teknik juga, yaitu drawing dan lukisan dalam satu bidang karya, seperti yang dapat kita lihat pada karya Nurhidayat berjudul “Troubadour”.

Elaborasi gambar dan lukisan ini sebagai metoda penguat pada karyanya dapat dikatakan konsep artistik yang unik dan menarik dalam konteks seni rupa kontemporer saat ini. Pecinta seni dapat mengimak bagaimana seni lukis di dalam sejarah seni lukis dipadupadankan dengan teknik drawing di atas medium kanvas. Tentunya, ada persoalan seni lukis, drawing dan bahasa artistik yang dilihat secara keseluruhan karyanya. Eksekusi teknis pada karya semacam ini bukan perkara mudah bagi seorang seniman untuk memutuskan bagian mana yang menjadi pokok soal dan bagian mana dari bidang karyanya yang menjadi penunjang. Nurhidayat berhasil mengekskusi gagasan, tema dan konsep pada karya-karyanya ini.

“Saya dihadapkan pada pertunjukan fragmen-fragmen kolase peristiwa asing yang muncul secara bersamaan, tanpa pernah tahu asal-usulnya. Karya-karya saya adalah representasi dari perilaku seseorang bagaimana ia menghadapi perayaan mengonsumsi informasi sekarang ini,” kata Nurhidayat.

 

Nurhidayat “Troubadour” (2018). 150 cm x 150 cm, Drawing pen dan cata akrilik di atas kanvas. FOTO: Nurhidayat.

Menyimak karya-karya Nurhidayat pada kesempatan kali ini mengingatkan penulis pada karya-karya Pop Art dari Amerika, Robert Rauschenberg. Kolase visual menjadi pokok soal bahasa artistiknya. Demikian pula yang dikerjakan oleh Nurhidayat pada lukisan-lukisannya secara naratif. Ia berupaya untuk membuka dialog imajiner melalui kolase gambar-gambar seperti pada karyanya berjudul “Images dévorantes” dan “Kodama”. Nurhidayat, melalui karyanya, membongkar isu populisme dalam karya seni rupa secara khusus pada pokok soal konsumsi visual. Ia menggunakan drawing sebagai medium pada lukisannya dan pilihan warna-warna khas dari budaya Asia sebagai penanda identitas karyanya.

Nurhidayat mengatakan, ada dua hal yang mempengaruhi proses kreatif pada karya-karyanya yang akan dipamerkan ini. Pertama, karyanya banyak terinspirasi oleh gerakan seni rupa figuration narrative yang muncul bersamaan dengan gerakan Pop Art di Amerika. Gerakan ini muncul sebagai kontra dari gerakan Pop Art di Amerika, akan tetapi pada praktiknya sama-sama banyak mengkritisi konsumerisme dan politik kekinian. Kedua, inspirasi karyanya muncul dari tontonan sebuah acara di televisi swasta pra-bayar Perancis bernama “le zapping”. Acara itu merupakan potongan-potongan informasi dari beberapa media setempat dan internasional yang dijuktaposisikan dalam beberapa detik.

Karya-karya Nurhidayat lahir dari serangan masif teknologi informasi yang mengampanyekan budaya konsumsi juga budaya visual dewasa ini. Seniman Indonesia yang hidup dan berkarya di negeri para filsuf budaya kontemporer ini memperhatikan konteks karyanya, yaitu, seni rupa kontemporer yang mengedepankan daya pukau dengan pesan provokatif terkait konsumsi seni mengonsumsi.

 

“Lukisan saya meminjam banyak gambar, dipilih secara subjektif, dari berbagai media (surat kabar, majalah atau internet), menggunakannya sebagai referensi. Periklanan di mana-mana mengilhami saya karena ini adalah pabrik yang menghasilkan gambar dan keinginan yang menggoda. Saya menggunakan selera konsumen ini yang terangsang oleh banjirnya citra yang membanjiri kita setiap hari. Saya mengusulkan kejutan listrik, sebagai upaya mendekati fungsi memori. Seperti komputer yang mencoba merekamnya, beberapa gambar akan disimpan oleh ingatan kita, yang lainnya tidak. Sebuah seleksi berlangsung. Dengan menunjukkan pengamatan ini, saya menemukan dan mengusulkan melalui lukisan saya, kemungkinan hubungan antara gambar yang mengelilingi Anda, dan ingatan Anda,” kata Nurhidayat.

 

Nurhidayat “Images dévorantes” (2017). 100 cm x 100 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Nurhidayat.

 

Hal itu membuat Nurhidayat dengan lukisan-lukisannya tidak semena-mena dalam memilih tema dan metodologi penciptaan bahasa artistiknya. Nurhidayat memilih secara rinci dan tegas. Ia juga dapat menelaah persoalan-persoalan hari ini yang diamati hingga menjadi konten karyanya. Tentu saja, karya-karya yang akan disajikan di La Galerie Valérie Eymeric, 33 rue Auguste Comte 69002, Lyon, Perancis, ini menjadi perhatian khusus bagi pecinta seni. Pokok soal yang diangkat adalah warna dan pesan provokatif yang tersajikan di atas kanvas-kanvasnya mengenai budaya populer dari sudut pandang seorang pelukis. Berikut catatan Chantal Mennesson presiden Biennale d’issy, mengenai karya-karya Nurhidayat:

 

“Nurhidayat lahir di Indonesia, lebih tepatnya di pulau Jawa dan lanskap hutannya, gunung berapi pasti mempengaruhi paletnya. Orang menemukan ada warna hangatnya, kemewahannya yang ekstrem, semuanya tropis. Dalam lukisannya, banyaknya gambar yang dipilih di surat kabar, majalah, internet, diperketat di dalam bingkai yang membentuk kompresi gambar, ia menjebak aliran tak henti-hentinya kehidupan kita sehari-hari untuk memungkinkan kita membiarkannya mensimulasikan yang lain dan terakhir dalam ingatan kita. Sedangkan untuk gambarnya, Nurhidayat menggunakan “kelabu” seperti darah selama periode Renaisans, di hutan abu-abu yang batangnya terutama terlihat, yang memberi bingkai vertikal pada gambarnya, ia menempatkan warna-warna intens pada binatang, karakter, objek yang tidak biasa, membawa mereka tiba-tiba ke cahaya, dalam suasana yang sangat teatrikal. Mata kita terjebak dalam bintik-bintik warna ini dan itu menjerumuskan kita ke dalam pertanyaan bahwa kita tidak harus memiliki jawabannya tapi sangat menggoda kita.”

 

Nurhidayat adalah seniman asal Bandung yang sudah dua belas tahun menjadi seniman di negeri para filsuf kontemporer, Perancis. Kini ia tinggal dan bekerja di kota Roanne, kira-kira 1,5 jam ke utara dari kota Lyon, Perancis. Selain fokus berkarya di studionya, ia juga mengajar melukis di sekolah-sekolah dan lembaga seni yang ada di Perancis.

 

Nurhidayat “Image dévorantes” (2018). 150 cm x 150 cm, drawing pen dan cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Nurhidayat.

 

“Ada dua hal yang mempengaruhi proses kreatif karya-karya saya yang akan saya pamerkan ini. Pertama, karya saya banyak terinspirasi oleh gerakan seni rupa figuration narrative yang muncul bersamaan dengan gerakan pop art di Amerika. Gerakan ini muncul sebagai kontra dari gerakan pop art di Amerika, akan tetapi pada praktiknya sama-sama banyak mengkritisi konsumerisme dan politik kekinian. Kedua, inspirasi karya saya dari sebuah acara di televisi swasta pra-bayar Perancis bernama “le zapping”. Acara ini adalah potongan-potongan informasi dari beberapa media setempat dan internasional yang dijuktaposisikan dalam beberapa detik,” terang Nurhidayat.

 

Karya-karya Nurhidayat lahir dari serangan masif teknologi informasi yang mengampanyekan budaya konsumsi juga budaya visual dewasa ini. Seniman Indonesia yang hidup dan berkarya di negeri para filsuf budaya kontemporer ini memperhatikan konteks karyanya ada di mana, yaitu, seni rupa dan konsumsi seni mengonsumsi. Hal ini membuat Nurhidayat dengan lukisan-lukisannya tidak semena-mena dalam memilih tema dan metodologi penciptaan bahasa artistiknya.

Ia memilih secara rinci dan tegas. Nurhidayat juga mendudukan persoalan yang diamati menjadi konten karyanya secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, karya-karya yang akan disajikan di La Galerie Valérie Eymeric, 33 rue Auguste Comte 69002, Lyon, Perancis, ini menjadi perhatian khusus bagi pecinta seni. Pokok soal yang diangkat adalah warna dan pesan provokatif yang tersajikan di atas kanvas-kanvasnya mengenai budaya populer dari sudut pandang seorang pelukis.

 

Nurhidayat “Kodama” (2018). 150 cm x 150cm, drawing on canvas. FOTO: Nurhidayat.

 

“Saya mencoba menemukan aura gambar-gambar ini dengan memberi mereka makna baru. Memang, aura ini telah hilang dengan produksi dan popularitasnya yang masif. Oleh karena itu, hanya interpretasi baru dari gambar-gambar ini, seperti dalam lukisan saya, yang bisa menghidupkannya kembali,” pungkas Nurhidayat.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *