SENSI Pameran Komunitas TULANG RUSUK

Pameran Komunitas TULANG RUSUK

“SENSI”

Sebuah Pameran Bersama Perupa Perempuan

Penulis: Rain Rosidi dan Vina Puspita

 

Pembukaan:

Rabu, 28 Februari 2018, pukul 19.30 WIB

Dibuka oleh Catharina Laksmi K. Hoyi

(OWNER RAINTREE BOUTIQUE VILLA & GALLERY)

 

SENIMAN:

Anjani Imania Citra | Angel Gracia | Annisha Novita Sari | Ayu Desianti | Ayu Rika
Aurora Santika | Camelia Mitasari Hasibuan | Diana Puspita Putri | Debby Dayanti
DhiasasihUlupi | Dyah Ayu Santika | Elisa Faustina | Haridarvati | Ifthinan Juanitasari
Ipeh Nur | Imaculata Yosi P. | Jacqueline Jesse B.T. | Ledyana Nanda F. | Lisani Nuron
Lisa Utami | MeitikaLantiva | Melta Desyka | Mualifatus Saniyah | Oktaviyani | Rara Kuastra
Reza Pratisca Hasibuan | Ryani Silaban | Sri Dewi Asliana | Triana Nurmaria | Vina Puspita.

 

 

 

 

Pada tahun 2014, sekelompok mahasiswa perempuan Seni Rupa ISI Yogyakarta dengan penuh gairah menggagas sebuah komunitas seni, bernama Tulang Rusuk. Inisiatif berkoloni tersebut mula-mula muncul dari keinginan menjalin solidaritas dan bersinergi dalam berkesenian. Secara spesifik, komunitas ini mewadahi perempuan yang sedang dan atau telah mengenyam pendidikan Seni Murni di FSR ISI Yogyakarta. Tujuannya sederhana, yaitu sebagai ruang berbagi, belajar, dan berkolaborasi, agar perupa perempuan dapat semakin terbuka, produktif dan berdaya. Untuk menandai kehadirannya di tengah publik, Komunitas Tulang Rusuk pertama-tama menggelar pameran komunitas pada tahun 2015, bertajuk Datang Bulan. Aktivitas komunitas tersebut kemudian banyak diisi dengan kegiatan pameran kelompok, seni ruang publik dan edukasi, sertaberpartisipasi dalam kegiatan kesenian di Yogyakarta.

Awal tahun ini Tulang Rusuk kembali mengadakan pameran komunitas untuk kedua kalinya dengan mengusung tema “Sensi”, bertempat di JogjaGallery, Yogyakarta. Pameran seni rupa yang diikuti oleh 30 perupa perempuan ini berlangsung sejak tanggal 28 Februari hingga 6 Maret 2018.

Mendengar istilah sensi, sekilas yang terbesit adalah: cewek banget!. Stereotip gender tersebut rasanya begitu melekat pada perempuan yang secara psikologis dicap lebih emosional dan secara biologis harus mengalami siklus hormon. Tidak jarang kata sensi memiliki konotasi yang negatif, identik dengan kelakuan perempuan yang sulit dimengerti dan gampang tersinggung. Sebagian orang mungkin menilainya sebagai kelemahan. Padahal jika ditelaah, istilah sensi berasal dari kata sensitif, yang artinya cepat menerima rangsangan, alias peka. Hal ini justru bisa menjadi kekuatan seorang perempuan. Dengan kepekaan yang dimiliki, perempuan belajar membaca situasi, memahami dan mencari solusi.

Berangkat dari dua cara memahami tema “Sensi”, pameran ini memperlihatkan sensitivitas perempuan dalam merespon peristiwa dan permasalahan yang terjadi di dalam diri dan sekelilingnya melalui ekspresi visual. Tema-tema yang diangkat terbilang beragam, namun bisa dikelompokkan ke dalam tiga tema besar, antara lain keluarga, sosial budaya, dan identitas/personal. Pertama, tema keluarga membicarakan relasi ideal antara anak dan orang tua, pengorbanan seorang ibu, hingga tantangan pernikahan maupun berkeluarga. Selanjutnya tema-tema sosial budaya, lingkungan dan politik juga menjadi konsentrasi sebagian perupa perempuan. Di antaranya adalah topik-topik tentang fenomena sosial media, tragedi kemanusiaan, pelestarian budaya lokal hingga isu kerusakan alam. Ketiga, tema personal, termasuk di dalamnya membicarakan identitas, adalah tema yang mendominasi kekaryaan seniman dalam pameran ini. Selayaknya sedang mencurahkan isi hati, kelompok tema ini berisikan pengalaman pribadi, afirmasi, serta proses penemuan identitas diri.

Sebagai perempuan yang bebas dan setara, banyak kejutan yang bisa ditemui dalam setiap karya pameris, baik dari segi gagasan, maupun eksplorasi visual. Diadakannya pameran Komunitas Tulang Rusuk ini merupakan langkah yang baik bagi pergerakan perupa perempuan Indonesia, untuk terus berekspresi dan mengasah diri. Sebab dari situlah keberagaman pemikiran seniman muda perempuan bisa diamat-amati, diapresiasi, serta dikritisi.***

 

 

JOGJA GALLERY
Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara No.7, Prawirodirjan, Gondomanan, YOGYAKARTA

 

Pameran berlangsung
28 Februari – 6 Maret 2018
Buka Setiap Hari
Pukul 09.00 – 21.00 WIB
Narahubung:
Harin: +62 899-5080-068
Saniyah: +62 857-2590-0927

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *