Cameraless Photography: Dapur Kreatif Iswanto Soerjanto Road to "An Artistic Journey of Iswanto Soerjanto in the Cameraless Photography", solo exhibition at Bale Tonggoh - SSAS, April 2018

Iswanto Soerjanto “Dripping” (2016). 160 cm x 127 cm, chemigram on silver gelatin paper. FOTO: Iswanto Soerjanto.

Perkembangan fotografi seni saat ini tidak bisa lepas dari kemajuan teknologi digital photography, bahkan sebuah lukisan atau gambar pun sudah bisa diproduksi menggunakan mesin mekanik menggantikan tangan. All about machine and digital machine. Tetapi Iswanto Soerjanto malah memilih dunia fotografi seni di luar habitat digital. Ia hijrah ke dunia seni rupa setelah berkelana di dunia industri fotografi dari analog hingga digital photography. Apa yang membuat Iswanto Soerjanto memilih seni rupa dengan fotografi analog sebagai medium?

“Saya sempat mengunjungi Museum of Modern Art (MoMA) dan beberapa art gallery di kota New York untuk melihat karya-karya abstract expressionist secara lebih dekat di tempat kelahirannya itu pada awal tahun 2017. Pengalaman melihat secara langsung pada karya-karya itu kemudian jadi semacam pencerahan berikut bagi saya. Sebuah perkenalan saya dengan karya-karya seniman dari gerakan abstract expressionist yang berkembang pada tahun 1950-an di kota New York.”

Benar. Iswanto Soerjanto yang lahir pada tahun 1967 dan dibesarkan di lingkungan pecinta seni. Sejak kecil memang sudah menyukai fotografi hingga memperoleh Award di tingkat nasional dan internasional sejak tahun 1985, ketika menempuh studi hukum Universitas Tarumanegara, Jakarta. Ia belajar fotografi secara akademik di Brooks Institute of Photography, Santa Barbara, California pada tahun 1988. Sejak tahun 1990 bekerja secara profesional sebagai fotografer komersil dan advertisment photographer di Indonesia dan mancanegara. Ia juga sempat mengajar fotografi di Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY), Yogyakarta dan beberapa institusi desain dan seni di Jakarta. Ia memilih gerakan abstract expressionist untuk menelusur pijakan artistiknya.

Lima tahun terakhir ini Iswanto Soerjanto fokus pada produksi karya fotografi seni di kamar gelap. Aneh memang. Ketika banyak fotografi mengelu-elukan digital photography, Iswanto Soerjanto malah memilih analogue photography yang dengan khusunya memainkan bahan kimia dan kertas di kamar gelap. Ia menemukan jati dirinya di kamar gelap, sebuah ruang kreatif yang sudah ditinggalkan banyak pelaku fotografi di Indonesia dan dipopulerkan kembali melalui karya-karya dengan kekuatan grafisnya. Banyak hal tak terduga dan banyak juga “kecelakaan proses” yang menghasilkan karya-karya yang menarik. Karya yang menurut publik dianggap menarik namun sebenarnya dianggap sebagai suatu ‘kegagalan proses’ menurut Iswanto Soerjanto.

 

Iswanto Soerjanto “Photo Batik #1” (2018). 50 cm x 60 cm, chemigram on silver gelatin paper. FOTO: Iswanto Soerjanto.

 

“Pencerahan dan pengalaman inilah yang semakin meneguhkan hati dan meyakinkan langkah saya untuk menghasilkan karya seni dengan fotografi sebagai alat dan sekaligus media. Penelusuran pada akar sejarah fotografi sangat mengasyikan. Banyak teknik fotografi yang dianggap usang justru masih relevan untuk dijadikan metoda dalam proses berkarya saya. Tentunya, dengan modifikasi di aspek sana dan sini.”

Apa yang dikerjakan Iswanto Soerjanto justru sangat menarik dan unik di tengah perkembangan fotografi seni saat ini di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara. Karya fotografi yang dikerjakannya justru menanggalkan kamera dan lensa. Daftar belanja yang ada di smatrphone-nya bukan lagi kamera mirrorless atau lensa teranyar, tetapi kertas dan chemical untuk kebutuhan proses kreatifnya di kamar gelap yang makin sulit dan langka untuk diperoleh.

“Saya cenderung menjauhkan karya fotografi dari realita sosial dengan cara tidak menggunakan kamera sebagai alat, walaupun pada akhirnya karya fotografi yang saya hasilkan akan hadir di medan sosial tertentu untuk disimak. Praktik merekam ‘realitas’ yang saya kerjakan memang tidak menggunakan kamera. Sebuah metoda yang saya anggap tidak umum dalam proses merekam realitas keseharian kita. Yang membedakan adalah proses sebelum merekam realitas dalam pemahaman fotografi pada umumnya, yaitu, saya harus dapat menyerap apa yang tidak tergambar secara gamblang. Akhirnya, saya membuat kesimpulan bahwa, perkembangan fotografi dengan perjalanan sejarahnya yang panjang itu seharusnya mampu menemukan kembali maknanya bagi kehidupan manusia, bukan hanya sekedar sebagai alat dokumentasi.”

Iswanto Soerjanto berfikir kembali mengenai posisi karya fotografi saat ini yang terus bergeser pada fungsi dokumentasi peristiwa. Semua berbicara mengenai gambar peristiwa yang direkam secara digital. Iswanto Soerjanto malah kembali ke ruang intim yang hanya berbicara soal proses kejadian di kamar gelap dengan peralatan fotografi sederhana yang banyak menggunakan chemical. Jauh dari realitas sosial yang banyak dipublish di media sosial secara instan. Fotografi sebagai ruang pencarian estetik dan artistik ia tempa melalui pengetahuan prkatis juga belajar di museum-museum seni rupa di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Maka, setelah pameran-pameran yang diikutinya di luar Indonesia, ia mulai mempertimbangkan untuk berbagi pengetahuan mengenai fotografi seni tanpa kamera dan tanpa lensa dalam prses kreatifnya.

“Praktik seni yang saya kerjakan masih merujuk pada prinsip fotografis, yaitu, merekam cahaya pada bahan yang sensitif terhadap cahaya, dan memprosesnya secara fotografis dengan metode dan prosedur umum, serta yang sudah dimodifikasi di kamar gelap. Proses merekam dalam praktik fotografis yang saya kerjakan tidak menggunakan kamera (cameraless) dan tanpa lensa (lensless) juga.”

 

Iswanto Soerjanto “Untitled” (2018). 50 cm x 60 cm, chemigram on silver gelatin paper. FOTO: Iswanto Soerjanto.

 

“Objek yang saya rekam tidak merepresentasikan sesuatu secara verbal. Ia adalah sebuah entitas tanda. Sebuah bayang-bayang dan bentuk dari suatu entitas yang bisa diasosiasikan dengan banyak hal. Entitas tanda yang muncul merupakan jejak rekam dari suatu realitas yang mengendap pada suatu waktu dan ruang. Hal itu menunjukkan bahwa karya saya dapat dikatakan suatu karya fotografis murni.”

Bagaimana proses kreatif yang dianggap jadul menghasilkan karya-karya yang menarik dan artistik, Iswanto Soerjanto menjelaskan proses kreatifnya di kamar gelap dengan gamblang. Maklum saja, ia adalah mantan pengajar fotografi.

Iswanto Soerjanto mulai berkarya secara serius di ranah fotografi seni sejak tahun 2014. Sejumlah pameran bersama yang pernah diikuti oleh Iswanto antara lain: “INSPIRATION”, Jakarta (1993), “PHOTOMORGANA”, Jakarta (1996), NINE Art Gallery, Yogyakarta (2000), Garis Art Space, Bali (2004), Garis Art Space, Jakarta (2008), “Beyond Photography”, Ciputra Artpreneur Gallery, Jakarta (2011), Mizuma Gallery, Singapore (2015), “Why We Do What We are Doing”, Mizuma Gallery, Singapore (2016), “The Photographic Art: A Journey of Iswanto Soerjanto”, Bale Tonggoh-Selasar Sunaryo Art Space [Bandung] (2018).

“Metode perekaman cahaya saya lakukan adalah menggunakan teknik masking; bagian yang tertutup masking tidak akan terekspos cahaya dan sebaliknya. Masking yang saya gunakan sangat beragam. Intinya, objek apa saja yang transparan maupun tidak akan saya gunakan. Berapa lama sebuah bidang akan tertutup masking dan daerah mana saja yang akan tertutup masking merupakan kendali saya sepenuhnya sebagai seniman. Ketika proses reaksi kimia fotografi berlangsung saya memberi banyak keleluasan pada bahan dan alam untuk bekerja secara alami.”

Banyak kemungkinan bahasa artistik dapatr diproduksi di kamar gelap. Iswanto Soerjanto menunjukkan keindahan karya-karyanya melalui proses fotografi yang jadul itu.

 

Iswanto Soerjanto “Splash” (2016). 160 cm x 127 cm, chemigram on silver gelatin paper. FOTO: Iswanto Soerjanto.

“Saya membuat gambar fotografis di atas kertas foto pabrikan (gelatin silver paper) maupun kertas aquarelle (Arches, Fabriano, Kozo) yang sudah saya lapisi dengan bahan sensitif cahaya dari jenis iron silver (Cyanotype). Semua tahapan-tahapan teknisnya sudah saya ramu dengan alat-alat bantu yang didesain khusus. Saya menggunakan formula standard dari Ilford dan Kodak sebagai awal eksperimentasi, serta formula alternatif dari fotografi jaman kuno yang sudah dimodifikasi untuk kebutuhan proses saya berkarya di kamar gelap. Formula obat kimia fotografi yang saya modifikasi melingkupi komposisi gramatur, penambahan maupun pengurangan beberapa bahan. Bekas studio foto yang saya sulap jadi kamar gelap dengan lampu pengaman (safelight) dan lampu hallogen adalah ruang studio kreatif saya dan ruang terbuka untuk mengekspos kertas foto yang saya kerjakan pada sinar matahari langsung,” pungkas Iswanto Soerjanto di Jakarta.

Iswanto Soerjanto adalah seorang seniman berbasis fotografi yang hidup dan berkarya di Jakarta dan Bandung. Karyanya banyak mengeksplorasi komposisi chemical dan kertas sebagai material utama yang dikerjakannya di kamar gelap untuk memproduksi photogram, chemigram, gelatin silver print juga karya instalasi seni dengan objek kamera obscura juga instalasi seni cameraless photography dengan medium kertas.***

Iswanto Soerjanto “Hidden” (2016). 120 cm x 40 cm (tryptich), chemigram on silver gelatin paper. FOTO: Iswanto Soerjanto.

 

Wacana mengenai karya-karya cameraless photography dikupas secara akademik di dalam buku  “Emanations: The Art of the Cameraless Photograph” yang ditulis oleh Prof. Geoffrey Batchen, sejarawan seni dari Wellington’s Victoria University, dan diterbitkan oleh Prestel/Delmonico Books pada tahun 2016. Kita dapat membaca ulasan buku tersebut melalui artikel Allison Meier yang terbit pada tanggal 20 Juli 2016 di laman Hyperallergic. Artikel Allison Meier itu berjudul A History of Photography in Which the Camera Is Absent

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *