Lukisan Abstraksi Keberagaman Warna Budaya Nusantara Pameran tunggal "The Intimate Colors" karya Richard Irwin Meyer

Nusantara terbentang luas dengan ribuan pulau dan budaya serta bahasa yang bermacam-macam pula. Begitu banyak potensi bahasa artistik dan local wisdom yang dapat diimbuhkan pada suatu karya seni rupa, khususnya seni lukis. Lalu bagaimana Richard Irwin Meyer menelaah potensi-potensi bahasa artistik di Nusantara itu? Ia memulainya dengan pengamatan langsung, berinteraksi dengan masyarakatnya juga mempelajari artefak-artefak budaya masyarakat Nusantara yang kini disebut artifacts of the Southeast Asian culture’s.

Komposisi bidang warna, tonal value, garis imajiner juga garis tegas, lapisan-lapisan warna serta tekstur yang kemudian membangun struktur bahasa artistik (abstrak) di atas medium pilihan seniman, semua itu merupukan perkara yang dikonsumsi oleh wacana seni lukis di Indonesia. Kota Bandung melalui pencapaian-pencapaian bahasa artistik (yang abstrak) oleh Ahmad Sadali, Mochtar Apin, Umi Dahlan, AD Pirous juga Sunaryo telah banyak memberikan pengetahuan seni rupa kita.

Bagaimana Nusantara sebagai source of culture dijadikan imbuhan pun identitas pada karya-karya mereka. Tidak cukup skill melukis saja rupanya, karena perkara rasa juga penting jadi bagian dari ekspresi senimannya di dalam lukisan-lukisan abstraksi. Oleh sebab itulah keintiman Richard Irwin Meyer terhadap waterbased paint pada karyanya menjadi nilai lebih yang disajikan di dalam pameran ini. Ay Tjoe Christine, seniman generasi jaman now yang dianggap paling konsisten memproduksi bahasa artistik (yang abstrak) dapat dijadikan bahan menarik untuk perbincangan mengenai abstraksi. Beberapa seniman muda yang pernah mengecap sejarah dan wacana lukisan abstrak di Bandung akan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk mengembangkan lukisan abstrak di Indonesia. Demikian juga dengan Richard Irwin Meyer yang merasa klik dengan sejarah, praktik seni dan perkembangan seni rupa Bandung, kemudian menjadi bagian dari art scene di Indonesia.

Tentu saja, lukisan Richard Irwin Meyer tidak bisa dihubungkan dengan karya-karya abstrak dari seniman lain. Lukisan Richard Irwin Meyer yang paling sederhana sekalipun beranjak dari gagasan bagaimana khazanah budaya Nusantara itu menjadi bagian dari lukisannya. Tetapi, lukisan Richard Irwin Meyer tetap saja bukan karya-karya representasional. Metoda abstraksi baru yang digunakan Richard Irwin Meyer menjadi landasan artistik bagaimana ia berkarya. Abstraksi baru ini ditasbihkan sebagai metoda penciptaan bahasa artistik (abstrak) melalui penyederhanaan bahasa rupa dengan kekhususan penggunaan teknik drawing sebagai pokok soal lain, tentunya, selain warna dan material.

Lukisan abstrak dalam konteks pameran ini adalah semacam short overview dari sebuah bahasa rupa yang ditemukannya di dalam proses melukis. Praktik seni yang tidak sekadar membutuhkan ruang imajinasi, tetapi ruang private di mana dia dengan asyik menggunakan berbagai macam kuas dan mencampur warna-warna cat akriliknya dalam sebuah aksi yang private yang tidak bisa diintervensi oleh hal apapun.

Richard Irwin Meyer adalah salah satu seniman Indonesia asal Amerika Serikat. Ia lahir di Washington dan banyak menempa praktik artistiknya di kota New York, sebagai pelukis. Sudah belasan tahun ia bermukim dan berkarya di selatan Bali, sebelum akhirnya ia menetap di bagian barat Yogyakarta dalam empat tahun terakhir ini. Karya-karyanya lahir di antara amatan sosial dan politik juga wacana seni rupa Asia yang dia baca sebagai masa depan seni rupa dunia.

 

 

Pameran bertajuk “The Intimate Colors” merupakan pameran kecil yang diselenggarakan oleh Puri Art Gallery bekerjasama dengan ArkaArts Management atas gagasan Richard Irwin Meyer sendiri, dengan melibatkan Hans Susantio, Della Wiraja dan Dino V. Prayoga sebagi host pameran ini.

“Abstraksi bagi sebagian banyak orang Indonesia memang tidak akbrab benar, oleh karena pengalaman yang sangat terbatas pada persoalan abstraksi dalam karya dwimatra. Oleh karena keterbatasan pengalaman itulah mereka melihat lukisan abstrak seperti lukisan dekoratif untuk kebutuhan desain interior,” kata Richard Irwin Meyer.

 

Pernyataan Richard Irwin Meyer itu memang sedikit menyentil kualitas apresiasi publik kita terhadap lukisan abstrak. Fenomena itu juga disokong oleh praktik seni yang dilakukan beberapa pelukis yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terbatas dengan memproduksi capaian ekspresif dan naratif.

 

“Seni lukisan abstrak memang berkembang di kota Bandung. Kehadiran institusi akademik, FSRD-ITB, yang merujukan pada perkembangan seni rupa paling mutakhir sejak era post-World War kedua dari New York dan Eropa. Jakarta sebagai etalase seni rupa kontemporer yang dikembangkan oleh seniman-seniman di pulau Jawa semestinya lebih banyak mengedukasi publik pecinta seni yang baru mengenai seni lukis abstrak dan karya-karya non-naratif untuk sama-sama belajar lebih dalam mengenai praktik melukis, misalnya,” ujar kurator pameran.

 

 

“Saya mau orang Indonesia bisa melihat karya saya dan menikmatinya sebagaimana pengetahuan mereka tentang seni lukis. Lukisan saya lahir begitu saja di dalam proses kreatif saya sehari-hari di dusun Nyamplung Kidul, Gamping, Yogyakarta. ” kata Richard Irwin Meyer di Jakarta.

 

Pameran Richard Irwin Meyer bertajuk “The Intimate Colors” ini adalah pameran tunggal kali keduanya di Indonesia. Pameran ini dikurasi oleh Argus FS dan akan diresmikan oleh pada tanggal 7 Maret 2018 oleh Dr. Ir. Muhammad Rudy Salahuddin, MEM (Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing KUKM) pada pukul 19.00 WIB di CPM Building, Jalan Bendungan Hilir IV No. 26A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pameran ini akan berlangsung hingga tanggal 17 Maret 2018.

 

“Pecinta seni dan masyarakat umum dapat melihat secara langsung fisik dari cata akrilik yang digoreskan di atas kanvas dan material lain yang dipilih oleh Richard Irwin Meyer. Kita dapat belajar bersama bagaimana persoalan cat akrilik di atas media kanvas diejawantahkan oleh seniman yang masih terbata-bata bahasa Indonesianya. Hal lain yang unik dan menarik dari pameran ini adalah sebuah fakta bahwa lukisan abstrak dari Richard Irwin Meyer cukup sulit direpoduksi oleh kamera fotografi karena material cat yang digunakan merupakan hasil eksperimentasi campuran pigmen. Dan, cukup sulit dijangkau oleh resolusi sebuah lensa kamera dalam hal reproduksi citraan digitalnya,” pungkas Argus FS, kurator pameran, di Bandung.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *