Kehidupan Orang Jakarta dalam Bingkai Abstract Expressionist ala Adikara Rachman

Adikara Rachman “Masabodo” (2018). 120 cm x 100 cm, mixed media on canvas. FOTO: Adikara Rachman.

Lukisan “Masabodo” merupakan abstraksi dari persoalan realitas yang tidak realistis. Adikara Rachman menunjukkan sikap objektif terhadap persoalan ruang dan perilaku masyarakat metropolist yang berada di antara dua entitas; baik-jahat atau bagus-buruk atau konstruktif-destruktif. Masabodo merupakan frasa dari bahasa lisan yang dibentuk oleh keseharian masyarakat metropolist. Maka, kita bisa menentukan nilai interpretatif bahwa teks ‘masabodo’ yang diimbuhkan seniman di atas permukaan lukisan abstraknya merupakan suatu identitas.

Jakarta adalah ruang majemuk bagi kehidupan masyarakat urban dengan sekelumit persoalan-persoalan ruang private dan ruang publik. Berbagai lapisan masyarakat dengan beragam latar belakang budaya berada di seluruh ruas jalan setiap rush hour. Kemacetan di dua ruas jalan, konstruksi besi dan beton di tengah ruas jalan, pejalan kaki yang terintimidasi, pedagang kaki lima di trotoar jalan, sepeda motor tak beraturan, seolah-seolah setiap dua orang atau kurang harus menggunakan kendaraan roda empat. Semua ada di jalan raya yang dihapit oleh gedung-gedung pencakar langit.

“Istilah kritik sabenarnya merupakan konotasi positif untuk merangsang suatu perubahan. Bercermin pada sejarah gerakan kesenian, selalu ada pemikiran di dalamnya yang kontekstual semua. Dia tidak berkompromi dengan keinginan publik karena memang kesenian lain medium kompromi,” tambahnya.

Jutaan orang menjadi bagian dari mekanisme moneter. Semua orang juga buruh sekaligus kapitalist. Paradoks. Ada beberapa manusia yang mengamati kondisi lingkungan metropolia hingga terusik untuk angkat bicara di antara jutaan manusia yang jadi bagian mekanisme moneter dari rutinitas manusia di kota Jakarta. Tapi, nampaknya suara-suara itu menjadi parau ditengah deru-debu dan bunyi klakson atau teriakan mesin-mesin yang mengeruk tanah di antara kemacetan yang makin parah.

 

Adikara Rachman “24 Jam” (2018). 162 cm x 130 cm, mixed media on canvas. FOTO: Adikara Rachman.

Lukisan “24 jam” di atas merupakan abstraksi dari persoalan Jakarta sebagai ruang eksploitasi. Orang-orang Jakarta tak sempat lagi bertegur sapa di jalan, seperti waktu mereka masih tinggal di dusun. Setiap waktu bagi metropolist adalah produksi sekaligus konsumsi. Suara-suara itu muncul dari seniman-seniman yang gelisah melihat keadaan saat ini. Perspektif antroposentris memang sangat dominan dalam konteks seni saat ini. 

“Bayangkan saja, saya berada di jalan selama empat jam dalam sehari. Setiap hari pula berhadapan dengan realitas yang tidak realistis dan saya sendiri bagian dari entitas yang tidak realistis itu. Pokok soal itulah yang jadi bahan pemikiran, dipertanyakan, dibaca, direnungkan, dirasakan, serta dipersepsikan. Karena saya gelisah setiap hari tetapi bisa menikmatinya,” kata Adikara Rachman di BSD City.

Seniman juga pengajar di kampus Trisakti ini tersentuh oleh keadaan untuk berkarya setelah mengamati sekaligus beradandi ruang paradiks Jakarta saat ini. Karya-karya Adikara Rachman berangkat dari kehidupan sehari-hari di Jakarta, khususnya manusia-manusia urban yang sudah terpaut sistem dan mekanisme moneter. Ia melihat dan merasakan realitas beserta campur-aduk nilai-nilai, aturan dan egoisme di dalam satu ruang majemuk dan berdebu – jalanan. Lalu, di mana posisi Adikara Rachman sebagai seniman di dalam ruang-ruang paradoks yang makin intimidatif dan memiliki kecenderungan destruktif?

Adikara Rachman berada di dua track sekaligus. Sungguh pilihan yang penuh beban rasionalitas dan angan-angan sekaligus. Rasionalitas para pengamat pada fase seniman melakukan pengamatan langsung – objektifikasi. Imajinasi utopis manusia-manusia urban di dalam ruang paradoks dan intimidatif yang berupaya untuk tetap humanis – gagasam utopia.

“Keseharian Jakarta bagi saya adalah ruang PLAY and GAME; play mengandalkan kasenangan yang bisa diartikan hadir di wilayah etika dan non-etika. Game mengandalkan aturan sosial yang mana di dalam praktiknya justru tidak etis dan penistaan aturan yang sudah jadi dominan. Contohnya perilaku berlalu lintas, penyalahgunaan lahan, dan lain sebagainya. Itu semua jadi drama keseharian di Jakarta,” jelas Adikara Rachman.

 

Adikara Rachman “Kerjakan Saja, Jangan Bertanya” (2018). 100 cm x 80 cm, akrilik di atas kanvas. FOTO: Adikara Rachman.

Lukisan-lukisan Adikara Rachman ini memang merespon nilai-nilai yang tidak logis. Jakarta jadi ruang dan konteks yang njelimet. Oleh sebab itulah realitas Jakarta itu tidak realistis, selain juga tidak logis. Negasitas nilai-nilai itu,alih-alih, adalah realitas yang dibentuk dan dikonsumsi oleh masyarakat metropolist. Benar dan salah. Baik dan jahat. Negasi itu berlaku secara bersamaan di ruang yang sama dan waktu yang serupa. Maka, istilah moral menjadi kata yang ditabukan.

Mengapa lukisan-lukisan itu mengimbuhkan teks? Teks dan angka adalah soal persepsi. Representasi logika. Setiap hari saya dihadapkan dengan teks (baliho iklan, televisi, dll.). Karya-karya saya ini dapat dikatakan sebagai cermin dari keseharian yang dipertanyakan dan diungkapkaun secara simbolik – visual. Lukisan-lukisan itu mengakomodasi unsur feeling dan emosi. dalam logika orang barat bahasa itu termasuk ekspresi kekesalan.

“Mengapa saya merespon persoalan itu? Sebab persoalan itulah yang harus dilawan. Lalu, mengapa harus dilawan? Saya punya pengertian seni (termasuk seni rupa), serta dapat dijadikan sarana untuk munculnya kritik yang kontekstual, bahwa di dalam situasi saat ini, hampir semua bentuk kesenian kehilangan daya respon terhadap isu dan konteksnya. Tentunya, termasuk kondisi sosial. Jadi, seni (seni rupa) dalam pandangan saya dalam konteks sekarang mesti dapat memberi pesan yang sesuai konteksnya,” katanya.

Pesan yang dimaksud seniman dalam konteks karyanya adalah kritik atas dekonstruksi nilai yang menyebabkan degradasi moral dan etika.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *