Fotografi Portrait; Identitas dan Narasi Budaya arsip catatan pameran tunggal Farhan Adityasmara "EGO: SELF DEFENSE MECHANISM" di Jogja Gallery, Yogyakarta 2012

Farhan Adityasmara “Figure 5” (2012) 25 cm x 25 cm x 15 cm, photo installation – mixed media. FOTO: Farhan Adityasmara.

Artefak gambar-foto [portrait] adalah sebuah penanda jaman dan petanda social sekaligus narasi budaya dimana paduan teknologi dan metoda penciptaan karya seni rupa dapat terbaca sebagai satu kesatuan bahasa budaya yang beragam. Menyimak sebuah portrait mengingatkan saya pada karya Dorothea Lang, “Migrant Mother” (1936) yang banyak diulas oleh kritikus dan sejarawan fotografi betapa sebuah karya portrait berbicara -Karya fotografi portrait sebagai sebuah pernyataan sosial saat itu setelah Perang Dunia II.

Fotografi portrait memiliki tempat istimewa dalam medan seni rupa modern hingga seni rupa kontemporer sampai sekarang. Seniman fotografi yang antara lain Nancy Burson (USA), Shirin Neshat (Iran), Renée Cox (Jamaica), Rineke Dijkstra, juga Cindy Sherman (USA) adalah seniman-seniman yang mengeksplorasi fotografi portrait dan self-portrait pada karya-karyanya melalui narasi-narasi subjektif.

Fotografi portrait makin ajeg melalui temuan Louis-Jacques-Mandé Daguerre yaitu gambar positif pada lapisan plat dengan lapisan perak di permukaannya pada tahun 1839. Decade awal fotografi itu dikenal dengan istilah Daguerreotype yang sangat identik dengan personal portraits –terutama di Amerika dengan kemunculan fotografer amatir. Prosesnya cukup berdarah-darah untuk menghasilkan foto yang baik dimana seseorang yang dipotret harus duduk selama 15 sampai 20 menit di luar ruangan dengan cahaya matahari yang cukup terang.

 

Farhan Adityasmara “Figure 1-4” (2012) 25 cm x 25 cm x 15 cm, photo installation – mixed media. FOTO: Farhan Adityasmara.

 

Sebuah potret (baca: Portrait) bersifat sangat personal yang bermula pada era Victorian dimana fotografer amatir menjamur selain karena dibutuhkan skill khusus yang menantang. Revolusi selanjutnya pada George Eastman melalui kamera dengan shutter pada tahun 1899, yaitu “Box Brownie” merek Kodak -dengan slogan “You press the button, we do the rest”. Sebuah penanda jaman dimana fotografer amatir seperti wanita; gemar dengan ‘home portraits’, memotret kehidupan keluarga (Wells, Hal. 115).

Perlakuan foto sebagai dokumen bergambar sudah menjadi tradisi seni rupa pada abad ke-18 di Eropa – bersamaan dengan portrait painting yang merujuk pada pencapaian artistic yang-realis pada fase awal kamera dianggap membantu pencapaian yang realistik itu. Pada titik itulah fotografi dikatakan sebagai karya new media art dalam perkembangan seni rupa di Barat seabad kemudian.

Dewasa ini foto seni (photo-based art) atau art photography muncul dalam perkembangan mutakhir seni rupa kontemporer melalui pameran-pameran di galeri dan koleksi museum pada tahun 1980-an di United State. Seorang seniman asal Jepang, Yoshio Itagaki, melalui karya fotografi “Tourists on the Moon” #2 tahun 1998 menggunakan cetak foto berwarna berukuran 40 x 90 inchi di atas kertas. Yoshio Itagaki menggunakan fotografi sebagai alat untuk fabrikasi yang meyakinkan penggambaran imaginary realms, sebuah ramuan yang menarik dari gagasan karyanya. Karya itu cukup menarik karena melibatkan public sebagai subjek karya dalam proses penciptaannya (Robertson dan McDaniel, hal. 17). Lagi-lagi, penanda jaman dimana fotografi keluar dari secondary status-nya. Pada masa itu pula karya fotografi dengan cetakan berukuran besar bermunculan dimana teknologi mesin printing terbaru, computer, manipulation software banyak dimanfaatkan seniman sebagai alat bantu. Sementara fotografer menjadi image producers dan mengkapitalisasi foto-foto manipulatif untuk pasar foto komersial.

Lalu bagaimana perkembangan fotografi di Indonesia? Boleh dikatakan fotografi di Indonesia massif di wilayah foto kemersial yang gandrung dengan manipulative image yang “begitu-begitu” saja. Hanya sedikit fotografer yang mau eksplorasi dengan ide-ide artistic serta konsep yang kuat mengakar pada budaya setempatnya. Pada umumnya fotografi baru menjadi gaya hidup konsumerisme alat fotografi serta kecenderungan massif di wilayah digital manipulation atau dapat dikatakan sebagai karya-karya grafis. Hal ini didorong oleh pengaruh advertising photography yang dominan menggunakan photo-software serta pemahaman fotografi yang baru pada tingkat images producers.

Karya fotografi yang menarik perhatian public dan wilayah kritik saat ini adalah reposisi fotografi itu sendiri sebagai apa dan berada di posisi apa? Dan sejauh mana gagasan perupa/seniman fotografi menawarkan gagasan fotografi melalui bentuk sajian, strategi komunikasi serta aspek kebaruan lainnya. Fotografi seni dalam diskursus New Media Art baru merupakan wacana representasi yang berorientasi pada pasar seni rupa yang tak terhindarkan saat ini. Sementara itu ada proses yang lebih penting dan fundamental yaitu proses kreatif dan konteks karyanya berbicara apa.

Farhan Adityasmara “Portrait of a fashionable guy, group of friends, a guy sketching at me, an artist friends, girl in a mask; pose of Yoel Fenin Lambert, narcoleptic men, the smile and the alter ego; screen test of Anne; the black the pale and the image of group, the ordinary Tere” (2012) 15 cm x 32 cm. 9 x 9 instax credit card sized photograph, wooden frames. FOTO: Farhan Adityasmara.

 

Esai ini dirujuk dari amatan sepintas atas karya-karya Farhan Adityasmara dalam pameran tunggal fotografi bertajuk EGO: SELF DEFENSE MECHANISM di Jogja Gallery, Yogyakarta, pada tanggal 27 Juni – 1 Juli 2012. Farhan Adityasmara adalah seorang perupa fotografi muda yang menempuh jalur akademis di ISI Yogyakarta. Karakter perupa akademis, tentu saja, agak membaca referensi seni rupa secara umum dan spesifik pada pilihan kreatif yang menunjang rasionalitas (teoritisasi) gagasannya. Namun Farhan tidak serta-merta seperti itu, sisi kesenimanannya lebih dominan malah.

“Saya percaya setiap ego memiliki self defense mereka masing-masing, mungkin mengalihkan perhatian (displacement), mungkin tidak suka tetapi mencoba untuk menyukai (rasionalisasi), dan lain-lain,” tulis Farhan dalam pengantar karyanya.

Farhan memposisikan karya-karya instax sebagai gagasan sekaligus representasi subjek dan objek sekaligus dimana model (orang lain) sebagai bahasa representasi gagasannya mengenai Ego. Pilihan media polaroid jadi pilihan politis dalam memperlakukan fotografi instan sebagai counter terhadap perkembangan fotografi saat ini di tanah air –termasuk soal persepsi visual. Pemilihan medium ini memang politis di tengah maraknya digital photography yang cenderung instan, manipulatif dan ‘kosong’.

Polaroid kali pertama diproduksi dengan kualitas foto hitam putih yang rendah pada tahun 1947 kemudian pada tahun 1963 muncul media Polaroid berwarna dengan kualitas yang lebih baik sedikit. Polaroid saat ini masih digunakan oleh beberapa perupa di tanah air dengan konsep mereka masing-masing. Tentu saja media ini lambat-laun akan semakin sulit diperoleh atau langka karena pada umumnya tersimpan di dunia maya atau digital storages. Dan Farhan memilih dimensi cetakan foto yang relatif kecil di tengah upaya gigantic image manipulation. Fotografi mengungkap dan menyimpan gambar kepribadian; Fotografi gambar menggambarkan orang banyak serta produk. Ideologi dari gambaran diri menunjukkan yang berfungsi untuk mengingatkan kita apa yang kita diharapkan daripada membantu mengingatkan siapa kita (Schroeder; hal. 55).

 

Farhan Adityasmara “Portrait of Anne” (2012). 30 cm x 30 cm, 9 x 9 instax credit card sized photograph, wooden acrylic frame. FOTO: Farhan Adityasmara.

 

Fotografi portrait yang disajikan Farhan dalam pameran ini boleh dibilang sebuah cara baru dalam menyajikan fotografi, dimana fotografi sebagai alat politis untuk menginterupsi persepsi visual atas foto-foto yang diproduksi dengan kamera instan. Tentu saja narasi yang dibangunnya tidak instan karena dilalui dengan proses pengamatan objektifikasi dan subjektifikasi persolan identitas dan ranah persepsi visual. Rudolf Arnheim dalam Film as Art (1957) mencatat bahwa: “The gap between the photographic record and perceptual experience reveals the artistic, political, and representational potential of photography – ‘it is just these differences that provide film with its artistic resources’” (Rudolf; Hal. 9). Namun demikian fotografi portrait yang dibincangkan dalam pameran tunggal Farhan kali ini, salah satunya, menyoal narasi identitas subjek-subjeknya. Bagaimana identitas diungkap melalui proses persepsi visual terkait dengan ego tiap apresian pameran.

“…identitas tidak sesederhana itu untuk diterjemahkan, sebagai contoh orang bisa mengenali seseorang melalui sepatu yang ia kenakan (style/fashion), atau atribut-atribut lain yang menjadi identitas, seperti tattoo, kacamata, dan mungkin anda bisa menterjemahkan sendiri. Dari sini saya menghubungkannya dengan konsep self-defense mechanism, bagaimana representasi portrait itu berhubungan dengan sisi psikologis individu dalam keseharian, dalam menyikapi tantangan-tantangan atau persoalan pribadi yang terjadi saat ini. Melalui visual yang saya ambil, mungkin saya rekonstruksi dan pada akhirnya saya jadikan sebuah dokumen sekaligus karya seni yang menurut saya berposisi sama kuat, karena kita berada di ranah fotografi yang identik dengan waktu, dahulu, sekarang, atau masa depan,” pungkas Farhan.

Di satu ini, hal ini bisa jadi domain yang menarik untuk dikaji soal bagaimana ruang-ruang persepsi subjektif itu berkembang pada saat mata(publik) memandang identitas dirinya di ruang pameran –apresiasi public yang diprovokasi oleh cara penyajian karya fotografi portrait. Di sisi lain, persoalan ego personal dalam hal ini apresiator pameran akan sulit diobjektifikasi melalui sebuah kerangka konsep apresiasi karya. Akan tetapi mesti coba dilakukan untuk menemukan formulasi yang mungkin baru. Bagaimana narasi identitas itu justru bermunculan di ruang private masing-masing personal.

Farhan juga menetapkan konsep penyajian dan pengemasan karya di luar konvensi display karya dalam whitecube -pameran lukisan. Pertimbangan seni instalasi fotografi dalam menyajikan karya-karya Farhan di Jogja Gallery boleh jadi sebuah perkembangan pada tawaran baru dalam mengapresiasi karya fotografi di Indonesia. Jim Allen Abel juga pernah menyajikan karya fotografi dengan cara seni instalasi dalam gelaran kompetisi BaCAA #2 di Lawangwangi Gallery, Bandung, atau Angky Purbandono di Biasa Art Space, Bali, 2007 –dengan neonbox-nya.

 

Makin beragam cara penyajian karya fotografi tentunya lebih menarik dan membuka ruang apresiasi baru bahwa karya dua dimensi dapat disajikan melalui mediaum tiga dimensi. Farhan juga menggunakan metoda screening photograph sebagai bentuk upaya lain ‘membesarkan’ citraan digital photography.

Nampaknya kekuatan fotografi kontemporer pun di domain portrait saat ini sudah meninggalkan esensi portrait sebagai domain diskusi identitas personal, sosial dan geokulturnya. Cara penyajian menjadi penting untuk menarik perhatian public penikmat karya seni rupa saat ini. demikian halnya dengan karya-karya Farhan dalam pameran tunggal kali ini. Farhan menggali pemahaman baru soal kesadaran dan ketidaksadaran publik sebagai kumpulan personal dalam ruang apresiasi karya fotografi portrait.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingin menyertakan pendapat Arief Datoem yang sependapat dengan penulis bahwa perkara subjek dalam foto portrait (portraiture photograph) semestinya menjadi wilayah kreatifitas perupa-fotografi dalam mengeksplorasi tatanan konsep yang bisa ditawarkan. “Subjek dalam fotografi merupakan sebuah wilayah kreatif untuk merepresentasikan suatu konsep yang lebih besar tentang subjek yang diselami dan dihayatinya. Representasi inilah yang seharusnya merupakan proyeksi dari konsep tersebut. Konsep besar sebagai simpul representasi sebagai hasil dari sebuah proses penghayatan inilah yang belum terlihat dari karya-karya fotografi portraiture teman kita ini. Kalau kita bicara konsistensinya, secara teknis kan sudah cukup terlihat,” papar Arief Datoem, praktisi fotografi di Indonesia.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *