Abstraksi Realitas Metafisis & Tubuh dan Pokok Soal Material dalam (in)material truth Menengok karya Restu Taufik Akbar di Orbital Dago Gallery

Seorang pecinta seni mengamati karya Restu Taufik Akbar “The Beautiful Move in Curve” (2018). 122 cm x 244 cm, polyurethane, nitrocellulose and vitrail on stainless stell mirror plate. FOTO: artspace Indonesia.

Terpikat oleh drawing-drawing karya Restu Taufik Akbar menggunakan charcoal, sebelum terpukau oleh warna-warna pada lukisan-lukisannya di atas permukaan stainless steel, plastik dan kanvas di bagian dalam ruang pajang Orbital Dago Gallery. Restu Taufik Akbar baru saja pameran tunggal di Orbital Dago Gallery, Jalan Ranca Kendal Luhur No. 7, Bandung, dengan tajuk “(IN)MSTERIAL TRUTH” yang dibuka oleh Rizky Ahmad Zaelani dengan kurator pameran Rifky Effendy dari tanggal 15 Februari sampai 15 Maret 2018. Restu Taufik Akbar menyajikan 3 seri karya drawing dengan material charcoal dan delapan karya lukisan menggunakan kanvas dan sebagian besar stainless steel plate.

“Seni yang dapat menjadi pintu masuk ke dalam kehidupan spiritualitas adalah seni yang berhasil menurut saya. Pengalaman estetis dalam seni (karya seni) dan ritual (proses berkarya) menciptakan pengalaman spiritual yang merupakan pengalaman bertemu, bersatu atau melebur dengan Tuhan. Seni berkapasitas untuk membuka jalan pada transendensi,” Restu Taufik Akbar.

Karya-karya ini sudah disiapkan setahun lamanya oleh Restu Taufik Akbar untuk kemudian disajikan di dalam pameran tunggalnya itu. (IN)MATERIAL TRUTH membincangkan realitas inderawi dan realitas metafisis. Dua realitas itulah yang sedang diuarikan melalui pengalaman-pengalaman bathin dan tubuhnya ketika berada di alam terbuka.

Realitas apakah yg diteliti? Restu Taufik Akbar menjawab dengan sederhana, “Realitas hidup ini. Awalnya dari kebiasaan saya naik gunung, touring motor, dll. dan saya merasakan diri saya menyatu dengan alam. Beranjak dari pengalaman itu muncul pemikiran saya bahwa realitas ini bukan hanya yang material tetapi di baliknya sda realitas immaterial yang juga bagian dari realitas kehidupan ini.”

Restu Taufik Akbar “Let Life Flow, Let Reality Be Reality” (2018). enamel and vitrail on stainless stell plate. FOTO: artspace Indonesia.

 

Display karya yang menarik dari karya Restu Taufik Akbar juga mengingatkan penulis pada karya-karya Frank Stella. Pokok soal pada karya seni lukis melampaui material cat yang digunakan seniman tetapi bagaimana cara penyajian (display) karyanya juga menarik perhatian aatau amatan apresiator. Dan corak abstrak dianggap Restu Taufik Akbar jadi bahasa ekspresi tentang rasa yang ditemukan ketika dia menyatu dengan alam (trance),juga jadi simbol penyatuan dirinya dengan kanvas/stainless. Restu Taufik Akbar menjelaskan bahwa bentuk hutan itu merupakan respon dia terhadap abstrak yang sebelumnya diproduksi. Bahasa yang dibuat untuk mengungkap pengalaman bathinnya ketika menemukan sesuatu dengan adanya cahaya dan bayangan pohon yang seakan-akan mengundangnya untuk beranjak ke sana.

Unsur reflektif pada material karya itu lebih mendalam mengupas persoalan ruang imajiner dan ruang nyata sebagai pembeda antara realitas inderawi dan realitas metafisis. Wacana ini mengingatkan penulis pada diskursus pasca-modern di mana tanda-tanda budaya menjadi penting untuk kemudian membincangkan antroposentrisme dalam karya seni rupa. Dominasi pikiran manusia yang memberi makna pada fenomena alam dan praktik seni kontemporer merupakan perbincangan estetika dan pengetahuan yang diproduksi untuk masyarakat luas.

 

Restu Taufik Akbar “The Secret of Misunderstanding” (2018). 60 cm x 80 cm; 90 cm x 94 cm; 60 cm x 150 cm, enamel, vitrail and oil on canvas. FOTO: artspace Indonesia.

“Kalo drawing sih lebih ekspresif aja. Coba menumpuk dan menghapus. Bikin ruang dengan goresan yang disengaja dan yang nggak disengaja. Charcoal yang saya pakai dibuat dari bekas api unggun yang bentuknya tidak rata kaya charcoal pabrikan,” kata Restu Taufik Akbar.

Drawing-drawing charcoal Restu Taufik Akbar dapat dikatakan seperti sisi terdalam dari diri seniman yang selalu berupaya memproduksi karya seni dengan imbuhan diskursus pikologi dan metafisika. Unsur spiritual pada karya justru jadi pokok soal yang menarik di dalam perkembangan seni rupa kontemporer saat ini, di mana bahasa-bahasa artistik yang muncul dalam bingkai seni rupa cenderung bermian kode-kode yang berjarak dengan estitas senimannya. Entitas jiwa dianggap uang dan terbenam di dalam seni rupa modern. Karakter drawingnya dengan lukisannya masih sangat relate dengan pokok soal karyanya. Perbedaan material justru sebuah upaya praktik seni yang konteks dengan perkembangan seni rupa paling mutakhir saat ini.

 

Restu Taufik Akbar “Somethings Last a Long Time” (2018). 201 cm x 122 cm, enamel, vitrail on stainless stell plate. FOTO: artspace Indonesia.

 

“Karya-karya Restu Taufik Akbar merupakan bentuk dari gabungan antara pengalaman berinteraksi dengan alam, terutama dengan lanskap hutan, pemahaman bathiniah sertga penjelajahan dengan material artistik; cat, kuas dan permukaan materi selain kanvas. Menghasilkan gubahan hutan/alam menjadi bentuk bverwatak abstrak dengan penerapan warna-warni yang atraktif, cenderung cerah sekaligus mengundang persepsi kepada banyak hal. Bantuk atau format dengan beragam yang yang dihasilkan dari perilaku terhadap watak logam menjadikan “lukisan” karay restu Taufik Akbar lebih ekstensif mengarah kepada bentuk patung (sculptural) dan kemudian instalatif. Restu menjelajah citra abstrak yang referensial melalui pengalaman organik dan pencerapan bathin yang berkelindan melalui pengolahan materi: pelat logam dan campuran cat enamel yang industrial dan cat minyak yang tradiional, melalui watak materi seperti perolan kadar kecairan atau lelehan dan aspek pantulan permukaan,” catatan Rifky Effendy, kurator pameran.

Demikian dengan kecenderungan bahasa abstract pada karya Restu Taufik Akbar sepertinya masih relate dengan gerakan abstract expressionist di mana estitas personal seniman sangat dominan di antara persoalan material dan bentuk-bentuk presentasi baru yang jadi perbincangan akademik.

Mengapa Restu Taufik Akbar tidak memilih bahasa representasional, misalnya lukisan realist atau figure seperti yang sedang jadi trend visual? Juga soal pilihan warm colors…why?

“Saya mau saya berbagi pengalaman rasa. Saya ingin apresiator dapet ‘sesuatu’ tanpa harus mengerti karya saya tentang apa. Kalo warna sih saya milih warna yang paling kuat supaya impresinya kuat banget, tapi yang kerasa tenang juga karena pengalaman trans yang saya rasain kaya gitu.. semua kerasa tenang, nyaman tapi gemuruh, bergejolak, bergerak, tapi waktu kaya berenti,” pungkas Restu Taufik Akbar.

Restu Taufik Akbar “Hug With the Wind” (2018). 120 cm x 70 cm x 122 cm, polyurethane, nitrocellulose, vitrail on stainless stell mirror plate. FOTO: artspace Indonesia.

 

Rifky Effendy menggunakan sudut pandang sejarah seni Indonesia terkait kecenderungan kara-kara seni abstrak, bahwa, “Merujuk pada tesis Sanento Yuliman bahwa kecenderungan kemunculan seni rupa abstrak di Indonesia, menjadi kecenderungan praktek seni rupa modern di tahun 1970-an pada masa yang disebutnya perkembangan fase ketiga, dimana perkembangan seni abstrak menunjukan keberagaman ciri. Mulai abstrak lirisisme yang didasari emosi atau ungkapan pada peraaan tertentu, hingga karya-karya abstrak dengan corak yang lebih matematis dan rasional (atau geometris, maupun yang bersifat formalis. Sesuai dengan premisnya bahwa ada kemungkinan bahwa estetika abstrak berhubungan dengan apa yang ada di sekitar kita. ‘Bumi dilihat dari kapal udara, benda dilihat dari dekat (permukaan tanah, dsb.) atau perhatian pada objek, benda yang dilihat secara mikroskopik. Menyodorkan kepada kita kekayaan rupa yang aneka ragam'”.

 

Karya-karya Restu Taufik Akbar “(IN)MATERIAL TRUTH” di Orbital Dago Gallery, 15 Februari – 15 Maret 2018. FOTO: artspace Indonesia.

 

Restu Taufik Akbar melalui pameran tunggal bertajuk (IN)MATERIAL TRUTH menunjukkan karya-karya hubungan spiritual antara manusia dan alam. Wacana makro kosmos dalam praktik seni rupa kontemporer nampak kuat pada karya-karya corak abstraknya. Dimensi manusia dan alam diseberhanakan melalui bahasa artistik yang unik dan menarik karena material yang digunakan merupakan padu-padan antara material tradisional dan material industrial. Maka, dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana seniman Bandung memproduksi karya tidak serta-merta show-up unsur ekspresi seniman, tetapi konten karya juga dipandang penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer saat ini.***

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *