Objek Temuan dalam Lukisan Hedi Soetardja

Hedi Soetardja “Gumam #5: Cuma Debu yang Takut Hujan” (2018). 200 cm x 200 cm, akrilik dan arang di atas kanvas. FOTO: Hedi Soetardja.

 

Memang tidak mudah bagi seorang pelukis untuk menjadi seniman kontemporer dengan kadar intelektualitas dan pencapaian artistik yang memiliki konten berbasis riset pada karya-karya. Seorang Hedi Soetardja dengan kemampuan teknis melukis yang tidak disangsikan lagi pun menghadapi “masa sulit” yang mendorong Hedi Soetardja melakukan lompatan jauh ke zona abu-abu yang tidak bisa diprediksi. Kemudian, Hedi Soetardja mulai melakukan pencarian bahasa baru melalui abstraksi teks di atas kanvas-kanvasnya. Lukisan abstrak yang ternyata tidak mudah diproduksi membuat Hedi Soetardja harus memilih jalan baru dengan bekal kemampuan teknis lukisan realist yang sudah teruji di luar pasar seni lukis kontemporer.

Hedi dalam proses menekuni jalan baru ini sempat mengalami kegamangan artistik karena bukan saja persoalan makna atau pesan yang terkandung di dalam karyanya, pokok soal material juga menjadi penting dalam konstruksi bahasa artistik. Hedi Soetardja kemudian melakukan eksperimen kreatif di zona abstraksi yang tidak mudah pula.

 

Hedi Soetardja “Gumam #12 ….” (2018). 200 cm x 200 cm, cat akrilik dan akrilik paste di atas kanvas. FOTO: Hedi Soetardja.

 

Sunaryo, maestro seniman Indonesia, dengan karakter Guru-nya mendorong Hedi Soetardja untuk membuat lukisan-lukisan yang lebih ekspresif. Referensi sejarah seni yang diberikan Sunaryo kepada Hedi Soetardja menjadi ladang baru baginya untuk memproduksi pengetahuan baru di dalam karyanya. Hedi menggali potensi artistiknya yang lain selama proses pameran tunggal bertajuk GUMAM ini. Hingga kemudian teks dijadikan titik keberangkatan metodologi untuk lukisan-lukisan barunya.

Bagi Hedi Soetardja, Cy Twombly jadi salah satu referensi bagi Hedi Soetardja untuk menelaah metodologi abstraksi teks yang dipilihnya. Gerakan abstract expressionist pada lukisan-lukisan Hedi Soetardja kali ini memang dijadikan referensi sejarah seni. Kekuatan garis ekspresif Cy Twombly, serta karya-karya dari Joan Michell, Arshile Gorky, Morris Louis, Franz Josef Kline, nampak penting dalam melihat karya-karya Hedi Soetardja dalam konteks relasi artistiknya. Kaligrafi dalam lukisan abstrak ekspresionist juga memiliki relasi yang kuat dengan praktik seni yang dilakukan Hedi Soetardja hingga melahirkan karya-karyanya dengan corak abstrak ini.

Pokok soal lain yang menarik pada lukisan-lukisan hedi Soetardja justru pada teks yang sudah melebur menjadi lapisan-lapisan cat juga tekstur lukisan yang dibangun oleh cat akrilik paste. Teks dari beberapa seniman seperti Van Gogh tidak luput dari amatan Hedi Soetardja untuk kemudian dijadikan found objek pada lukisan-lukisannya.

 

Hedi Soetardja “Gumam #4: Ketika Senja Kudapati Engkau” (2018). 200 cm x 200 cm, cat akrilik di atas kanvas. FOTO: Hedi Soetardja.

 

Hedi Soetardja melihat lukisan-lukisan baru kali ini bukan sekedar ekspresi yang dihadirkan melalui sapuan brush-stroke yang liar dan tak terkendali. Ia mengatakan bahwa proses produksi lukisan ini sangat menarik. Ia melihat dirinya menari di atas kanvas-kanvasnya untuk menemukan sebuah titik (akhir) sementara untuk kemudian memutuskan untuk berhenti atau terus membangun lapisan-lapisan makna yang dibalut rasa.

Proses pencarian Hedi Soetardja sungguh menarik. Bentuk yang dibangun oleh garis-garis yang kuat bukan lagi persoalan komposisi bidang dalam pemahaman estetika klasik. Bentuk itu dikaburkan oleh proses kemunculan bidang-bidang warna yang berlapis-lapis. Lalu. Hedi menemukan ruang tapal batas antara kesadaran dan ketidaksadaran selama proses melukis. Ruang sadar di mana pengalaman artistikn ya sebagai pelukis realis terkadang dianggap “mengganggu” bahasa artistik yang sedang dibangun. Ruang tak-sadar itulah yang mendorong Hedi Soetardja untuk melompat ke zona abu-abu yang akan membawanya pada struktur teks pada objek temuannya atau berbelok pada nir-struktur teks yang sudah melebur menjadi bidang-bidang yang tersembunyi.

 

Hedi Soetardja “Bergerak #2” (2018). 120 cm x 120 cm, cat akrilik dan arang di atas kanvas. FOTO:  Hedi Soetardja.

 

Lukisan “Bergerak #2” merupakan proses awal pembidangan warna sebelum kehadiran objek temuan (teks) yang menjadi pokok soal yang penting. Kita bisa melihat bagaimana kekuatan garis dan komposisi bidang dari tangan Hedi Soetardja mencuri pandangan kasat mata. Teks sebagai objek temuan dalam lukisan Hedi Soetardja belum menjadi pokok soal yang urgent. Lukisan “Merah Dengan Kata-Kata” sejatinya menjadi pintu masuk bagi pecinta seni untuk melihat kedalamanan rasa yang sudah melebur di dalam lapisan-lapisan warna dengan kekuatan garis (yang dibangun dengan cara menulis ekspresif) serta mengamati karya-karya Hedi Soetardja selanjutnya.

Hedi Soetardja, seorang seniman yang tumbuh dan berkembang di lingkungan Jelekong, sebuah “kampung pelukis” di Bandung selatan. Dia ditempa oleh proyek-proyek lukisan masal di Jelekong, namun setelah ia mengikuti program residensi “transit #4” di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung tahun lalu, menemukan tantangan baru yang lebih asyik untuk untuk membangun jejaring serta reputasi di medan seni rupa kontemporer melalui karya-karya personal di luar proyek-proyek lukisan masalnya di Jelekong. Kini ia belajar menjadi pelukis kontemporer dengan corak abstrak yang ditekuninya selama proses produksi pameran tunggal bertajuk GUMAM yang dimentori oleh Sunaryo di lingkungan Selasar Sunaryo Art Space.***

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *