CAFÉ PHILOSOPHIQUE #23: HEROISME SENI

CAFÉ PHILOSOPHIQUE #23: HEROISME SENI

Seorang praktisi seni dapat memilih berbagai jenis citra diri dalam membangun relasi di tengah masyarakat. Ada yang memilih untuk menyimpan jiwa seni itu dalam dirinya saja dan kemudian merepresentasikan sisi luar dengan sangat santai dan ‘tidak nyeni’, tapi ada juga yang menjadikan seni sebagai ekspresi menyeluruh sebagai hasil dari kedalaman renungan yang serba estetik. Pada yang terakhir ini, Sudjojono pernah menyemangati: “Bahwa pada diri orang-orang yang beriman pada kesenian, kematiannya akan disambut oleh Dewi Keindahan.”

Seni bisa juga menjadi semacam ekspresi keheroikan. Mengabdikan hidup pada kesenian adalah juga semacam kesetiaan pada suatu nilai yang ukurannya susah mendapat kepastian. Itu sebabnya, menjadi seniman, dalam persepsi tertentu, tidak mungkin menjadi seorang dengan sikap pragmatis. Menjadi seniman harus total, dengan seluruh jiwa raga, menyerahkan diri ke altar Dyonisus yang Nietzsche menyebutnya sebagai: “Daya kreatif yang membuat hidup lebih hidup.”

Mari membahas Heroisme Seni bersama tiga perupa: Rudi St. Darma, Nandanggawe, dan Isa Perkasa. Diskusi yang akan diwarnai dengan presentasi karya dan juga performance art (jeprut) ini berlangsung pada hari Selasa, 3 April 2018 di IFI – Bandung, Jalan Purnawarman no. 32, pukul 17.00–20.00 WIB. Berhubung Chez Nous Café sedang direnovasi, maka diskusi akan dilangsungkan di Auditorium/Galeri. Gratis dan terbuka untuk umum!

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *