Mempertanyakan Heroisme Seni Catatan Diskusi oleh Syarif Maulana

Hasil diskusi filsafat, karya Nandanggawe di auditorium IFI Bandung. FOTO: Dok. Café Philosophique.

Komunitas Filsafat Café Philosophique hari Rabu itu melaksanakan pertemuannya yang ke-27. Pada kesempatan tersebut, komunitas yang berkumpul di Pusat Kebudayaan Prancis (IFI) – Bandung tersebut mengangkat tema berjudul “Heroisme Seni”. Sebagai pemasalahan – istilah Cafe Philosophique untuk “narasumber” – mengundang tiga seniman yang cukup lama malang-melintang di dunia seni tidak hanya di Kota Bandung, tapi di kancah nasional hingga internasional, yaitu: Isa Perkasa, Nandanggawe, dan Rudi St. Darma. Forum yang dihadiri sekitar empat puluh orang tersebut, seperti biasa, dimoderatori oleh Mody Afandi dan Syarif Maulana.

Apa yang dibicarakan terkait tema tersebut? Ketiga seniman tersebut adalah seniman yang cukup aktif terutama di tahun 1990-an. Pada masa itu, ada stereotip bahwa seniman mestilah menggeluti seni secara total tanpa kecuali, termasuk dalam segala citra kesehariannya. Bahkan mulai dikenal juga waktu itu seniman yang juga melakukan performance art dengan istilah jeprut. Mengapa seniman pada zaman itu di Bandung seperti itu, kemungkinan punya kait kelindan dengan peristiwa reformasi 1998. Pada saat itu ada kebutuhan untuk bersikap kritis pada pemerintahan, sehingga karya dan juga sikap seolah-olah ditujukan pada perubahan.

Setelah diskusi singkat, tiga seniman tersebut kemudian menyajikan karya-karyanya berurutan mulai dari Rudi St. Darma, Nandanggawe, dan terakhir Isa Perkasa. Khusus Isa Perkasa, ia tidak hanya menunjukkan karya-karya yang umumnya berbau kritik terhadap polisi, kejaksaan, hingga pemerintahan secara umum saja. Ia juga sering melakukan performance art (jeprut) misalnya dengan makan nasi tumpeng di sungai yang tercemar dan membagikan jus pepaya di tengah tumpukan sampah.

Rudi St. Darma dan Nandanggawe tidak kalah menarik. Mereka mempraktikkan jeprut secara langsung di hadapan peserta diskusi. Nandanggawe memberi instruksi kepada peserta diskusi untuk menulis nama-nama di atas dua lembar kertas, tentang orang yang paling dicintai dan orang yang paling dibenci. Kertas bertuliskan nama orang yang paling dicintai disimpan di dalam saku masing-masing, sedangkan kertas bertuliskan orang yang paling dibenci diremas-remas untuk kemudian dilemparkan ke keranjang yang ada di kepala Nandanggawe.

Kemudian kumpulan kertas yang berisi nama-nama orang yang dibenci tersebut dirapikan dan dipajang di dinding auditorium IFI Bandung, menjadi karya seni tersendiri. Sedangkan Rudi St. Darma sengaja membeli buku filsafat untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diplester di dinding auditorium. Bentuk plester tersebut diatur sedemikian rupa agar tampak seperti salib sehingga kurang lebih maknanya terlihat seperti “menyalibkan filsafat”.

Kemudian diskusi berkembang menjadi bahasan bagaimana pandangan ketiga seniman tersebut terhadap generasi muda yang kini berkesenian. Nandanggawe menjawabnya dengan lugas dan menenangkan, “Tidak bisa dielakkan bahwa setiap generasi selalu punya usaha untuk mempertahankan hegemoninya. Tapi seyogianya hal tersebut jangan menjadi kebiasaan. Bagi kami, anak muda harus jadi bahan bakar baru, juga semacam cermin agar kita tidak berhenti berkarya.”

Tidak ada kejelasan hingga akhir diskusi tentang apa itu “Heroisme Seni”. Memang begitulah diskusi filsafat. Pada akhirnya tidak perlu ada jawaban. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Tentang Cafe Philosophique

Café Philosophique adalah forum atau wadah yang mempertemukan berbagai sudut pandang yang kemudian digali dengan metode Sokratik. Metode Sokratik sering disebut juga dengan istilah “pembidanan”. Artinya, tujuan dari Café Philosophique adalah membidani kelahiran pikiran dari dalam masing-masing orang, sehingga terpenuhilah apa yang dikatakan filsuf Yunani Kuno, Sokrates, bahwa, “Kebenaran terbaik, datang dari dalam”.

Embrio Café Philosophique dimulai pada tahun 1998 lewat organisasi yang berkembang di UIN Bandung, bernama Pasamoan Sophia. “Sophia” diambil dari bahasa Yunani yang berarti kebijaksanaan, sedangkan “Pasamoan” adalah bahasa Sunda/Jawa yang dimaknai sebagai “pertemuan dengan rasa yang mendalam”. Pasamoan Sophia kemudian bertransformasi menjadi Madrasah Falsafah yang aktif di Tobucil pada tahun 2006 hingga 2012.

Pasca tahun 2012, Madrasah Falsafah sempat nir-kegiatan sebelum akhirnya memulai lagi kiprahnya pada akhir tahun 2016 di Chez Nous Café, IFI Bandung dengan nama Café Philosophique – yang berlangsung hingga sekarang. Meski telah berubah nama berkali-kali, namun semboyannya tetap sama: “Semua Orang adalah Filsuf”.

Moderator atau “bidan” Café Philosophique/Madrasah Falsafah/Pasamoan Sophia pernah diisi oleh beberapa orang, antara lain Bambang Qamaruzzaman Anees, Rosihan Fahmi, Syarif Maulana, dan Ping Setiadi. Saat ini, sejak awal tahun 2018, posisi tersebut diisi oleh Mody Afandi dan Syarif Maulana.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *