Hedi Soetardja: Jelekong Tetap Inspirasi Saya

Hedi Soetardja di depan lukisan “Aku Bukan Senja Hitammu” (2018). 150 cm x 300 cm (dyptich), cat akrilik dan pasta di atas kanvas. FOTO: artspace Indonesia.

Pameran tunggal Hedi Soetardja bertajuk GUMAM yang dikurasi oleh Chabib Duta Hapsoro dan mentor artistik oleh Sunaryo berlangsung di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, pada tanggal 23 Maret sampai 15 April 2018, memberikan nafas baru bagi sang pelukis anggota Komunitas GURAT, di desa Jelekong, Kabupaten Bandung. Pasalnya, pameran tunggal pertama di lingkungan Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, menempotkan Hedi Soetardja di dalam art scene Bandung.

 

Pameran tunggal Hedi Soetardja itu digelar atas kerjasama Bale Project dan Selasar Sunaryo Art Space di Bale Tonggoh, telah menjadi lompatan karir bagi senimannya. Pameran yang dibuka oleh art dealer dan kolektor, Natasha Sidharta, mendapat apresiasi yang sangat positif dari sejumlah pecinta seni, kolektor seni juga art dealer/gallerist di Jakarta. Hedi Soetardja mulai eksis di jajaran emerging artist di medan seni rupa kontemporer Bandung, khususnya.

Sunaryo mengatakan bahwa Hedi Soetardja memiliki kecerdasan intuisi yang baik, kepekaan visual yang tinggi, kerja keras, motivasi tinggi dan rendah hati, jujur terhadap dirinya dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi.

Karya-karya Hedi Soetardja memberikan kejutan yang menarik dan diapresiasi dengan sangat baik karena dinilai mampu menyajikan karya terbaik bagi seni rupa Bandung. Lukisan kaligrafi dan abstraksi yang ditemukan Hedi Soetardja di dalam proses kreatifnya terbilang unik dengan latar belakang artistiknya selama ini.

Selama proses produksi dalam persiapan pameran ini apa sajakah yang diperoleh secara pribadi dari Sunaryo oleh Hedi Soetardja? Dan, apakah lukisan-lukisan dari pameran ini akan terus dikerjakan atau kembali ke produksi lukisan masal di Jelekong? Hedi Soetardja menjelaskan bahwa Sunaryo sangat bijak memposisikan saya. Beliau tidak terlalu ikut campur dalam kekaryaan saya. “Saya ingin ini murni dari Hedi” begitu kata Sunaryo kepada Hedi di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.

“Tapi meskipun begitu banyak sekali yang saya dapatkan baik masalah teknik, attitude seorang seniman, dll. Dan yang terpenting saya merasakan seperti adanya transfer energi dan pengalaman begitu kuat yang menjadi motivasi terbesar buat saya untuk terus berkarya,” lanjut Hedi Soetardja.

 

Hedi Soetardja menyantakan rasa sumringahnya usai pembukaan pameran tunggalnya dengan menebar senyum dan berfoto bersama dengan keluarga dan kawan-kawan pelukis dari kampung Jelekong, Kabupaten Bandung, di ruang pameran.

Sunaryo, sebagai mentor kesenimanan Hedi Soetardja, mengungkap banyak hal positif yang beliau temukan di dalam diri seorang Hedi Soetardja. Sunaryo melihat energi positif yang perlu didampingi untuk terus menghasilkan karya khas Hedi Soetardja.

 

“Pameran ini, merupakan optimasi dari segala yang ada. Baik tempat kerja, waktu, bahan, peralatan kerja, lingkungan Selasar.  Semoga Hedi semakin matang di masa mendatang. Dan saya merasa perlu mendampingi setahun lagi (bukan masalah teknis), untuk lebih meyakinkanku bahwa dia bisa on the track yang positif,” pungkas Sunaryo.

 

Lukisan kaligrafi yang diabstraksi menjadi karya-karya personalnya menyuguhkan daya pikat dan kesan unik dari seorang pelukis seperti Hedi Soeatrdja. Tak heran apabila sejumlah pecinta seni, kolektor dan art dealer menyambut baik karya-karyanya untuk diorbitkan ke pentas seni rupa yang lebih luas. Lukisan dengan corak abstrak yang diproduksi oleh Hedi sejurus dengan perkembangan seni rupa Bandung yang sudah ditanam-pancangkan dalam sejarah seni rupa Indonesia, yaitu, mazhab Bandung. Abstrak dalam medan seni rupa Bandung merupakan medium yang sangat akrab karena ciri estetiknya mengelaborasi konten lokal dan wacana global yang paling mutakhir.

Lukisan Hedi Soetardja yang berjudul “Aku Bukan Senja Hitammu” diakui memang lahir dari percakapan pribadi Hedi dengan istrinya. Buah dari percakapan itu muncul pernyataan yang ditujukan kepada istrinya yang bermaksud untuk meyakinkan pendamping hidupnya itu, bahwa, nafas baru menjadi seniman bisa memberikan masa depan yang gemilang – beserta tantangan dan godaannya.

 

Pameran ini bagi Hedi Soetardja merupakan pengenalan awal bagi pecinta seni rupa Bandung, sekaligus penetapan sikap untuk menjadi seniman independen dengan metoda penciptaan yang dikelola melalui gagasan-gagasan artistik yang dicampur dengan kepekaan dan kemampuan teknisnya.

Ketika ditanya mengenai profesi Hedi sebagai pelukis pesanan di desa Jelekong, ia menjawab dengan bijak, “biarkan saja mengalir. Yang pasti untuk saat ini saya ingin total berkarya seperti karya di pameran ini. Jelekong tetap inspirasi dan passion buat saya. Ya…ini tentang keberanian memilih. Saya memilih totalitas untuk jadi seniman. Saya akan terus berkarya seperti karya sekarang.”

Apa saja harapan dari seorang Sunaryo yang menjadi mentor sekaligus maestro seni rupa Indonesia terhadap Hedi Soetardja. Inilah pandangan Sunaryo ketika berinteraksi dengan cukup intens dengan seorang Hedi Soetardja,

“Harapanku, dia terus memiliki konsistensi, percaya diri dan tetap jadi dirinya dengan kerendahan hatinya. Pengalaman yang lalu dalam perjalanannya melukis selama 12 tahun di Jelekong bisa dikatakan menjadi pondasi yg positif untuk dia meyakini pilihan hidupnya sekarang,” kata Sunaryo.

Masih banyak seniman-seniman tradisional yang tidak sempat menempuh dunia akademik di institusi pendidikan seni rupa yang memiliki bakat dan jatidiri yang kuat untuk diangkat ke pentas seni rupa mainstream dengan keleluasaan jaringan pasarnya. Hedi Soetardja adalah satu dari jutaan manusia kreatif Indonesia yang membutuhkan ruang baru atau “panggung seni yang mapan” agar memiliki kesempatan yang sama dengan kekuatan karyanya yang tak kalah bila dibandingkan dengan seniman akademik.  Siapakah yang akan naik panggung selanjutnya? kita tunggu saja.***

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *