Mengamati Ugo: Komik, Kertas dan Ibu

RATU SELVI AGNESIA*

“Sejak kecil saya akrab dengan komik,” ungkap seniman kelahiran Purbalingga, 28 Juni 1970 dalam perbincangan bersama beberapa wartawan.

Origami Mi Mi karya Ugo Untoro dipamerkan di Galerikertas, Studio Hanafi, sejak 23 Maret hingga 22 April 2018. FOTO : Witjak Widhi Cahya

Ugo Untoro merefleksikan komik sebagai teman akrab yang menemaninya tumbuh dalam batin dan pikiran anak kecil yang selalu terbuka dan polos menerima dan bertanya. Lebih jauh, ia menyebut komik sebagai salah satu bentuk karya yang pertama dikenalnya, selain teman masa kecilnya yang lain yaitu boneka, wayang, dan film kartun.

Ugo penggemar fanatik komik, salah satunya dari Jan Mintaraga, maestro komik asal Yogyakarta di era 70-80an. Meliputi komik roman, persilatan, petualangan para pendekar ke negeri siluman dan dedemit, hingga komik sejarah.

Bahasa cerita gambar (cergam) dalam komik tersebut menginspirasinya untuk menulis apa saja dan menggambar apa saja di luar pendidikan formal, “Aku suka menulis dari kecil, cita cita aku jadi pelukis itu sebenarnya ketika aku kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta”.

Namun, Ugo mengakui keinginan dan cita-citanya selalu berubah seperti pendekar yang selalu berpetualang. “Cita-citaku sebenarnya ingin menjadi komikus, ingin jadi penyair, ingin jadi novelis, ingin jadi wartawan, arkeolog dan segala macam”.

Komik telah membangun imajinasi Ugo lebih kaya dan mendalam sebagai landasan cara berpikir dan cara berkarya. Bahkan ketika realitas membuat Ugo menentukan pilihan sebagai perupa, bisa jadi komik menjadi media yang mampu menampung seluruh imajinasi dan cita-citanya yang bermacam-macam dalam bahasa ungkap komik.

Melalui komik pula tentunya Ugo mengenal kertas dan menjadikannya salah satu material karya yang utama. Ugo “naksir” dengan kertas karena selain mudah didapat, di atas kertas  ia dapat mengekpresikan karyanya dengan jujur dan tanpa beban, lepas dari tuntutan untuk dipamerkan dan hasil karya yang harus bagus dan harus jadi. Berbeda dengan kanvas.

Pameran tunggal “marang ibu” karya Ugo Untoro merupakan catatan perjalanan hidupnya sejak kecil bersentuhan dengan komik. FOTO : Witjak Widhi Cahya

Meskipun kertas dilihat sebagai material karya yang rapuh atau “tidak laku” untuk dijual, Ugo tidak memperdulikan anggapan tersebut. “Ya itu resiko, ketika kita memilih bahan kita harus siap dengan resikonya”.

Bisa jadi sama halnya ketika kita meragukan era paperless society yang digaungkan Frederick Wilfrid Lancester sejak 1978. Buktinya, perpustakaan buku hingga kini tidak digantikan oleh perpustakaan digital.

Ugo bahkan seringkali memanfaatkan kertas-kertas sisa dalam beberapa karyanya seperti menggunakan seri boneka dengan kertas hingga bungkus rokok. Seperti pada karya pameran sebelumnya yaitu “Melupa” (2013) dan “Passage” (2015).

Ugo, komik dan kertas telah terbukti teruji kesetiaanya melampaui teman masa kecil. Ketiganya turut mewujud secara intim dalam pameran tunggal “…marang ibu” di Galerikertas Studiohanafi, 23 Maret-22 April 2018. Dalam pameran ini terdapat empat jenis karya kertas: komik marang ibu, origami mi mi, tumpukan hari dan untitle dengan medium kertas daur ulang, koran, karton dll.

Marang ibu, menurut saya mewakili komik sebagai medium cerita sekaligus medium artistik pada pesona yang puitik. Dua puluh empat kertas komik, satu persatu ditopang oleh instalasi besi membentuk setengah lingkaran, di setiap kertas dipasang lampu.

Setiap karya dimulai Ugo dengan menuliskan lalu melukiskannya. Lembar pertama marang ibu dimulai dengan penanda waktu, ruang dan peristiwa yang lampau melalui ungkapan: orang-orang bercawat, candi, pedang, keris, kuda, gajah, pedang, tombak, keris, hutan, lembah, gunung, sungai dan lain-lain.

Impresi yang pertama saya amati mengingatkan pada sejarah relief-relief candi yang bisa juga disebut “komik batu” dengan ukiran seri cerita yang berisi kehidupan dan ajaran spiritual dan impresi kedua mengingatkan konsep tentang kepercayaan pada makhluk spiritual dan jiwa yang dalam bahasa antropologi disebut animisme pada primitive culture dalam konsep E.B Taylor, di mana yang dimaksud primitif adalah masih murni bukan yang terbelakang.

Sebuah kepercayaan pada sesuatu yang spiritual. Melihat melalui cara pandang mereka, bukan cara pandang kita yang sudah berjarak dengan alam.

“Kehidupan-kehidupan zaman itu seperti apa, kenapa pohon disembah. Apa sebabnya orang kita menciptakan mitos itu kan sebenarnya menjaga, jadi diciptakanlah mitos,” ungkapnya.

Sejak catatan awal komik, Ugo telah menyiratkan sosok perempuan bernama Sri dalam perjalananya dari masa lampau hingga kedatangan orang kulit putih dan berpindah-pindah ke ruang waktu yang lain. “Sederhananya seniman menghayati saja akan apa yang dikerjakannya, dari penghayatan itu akan lahir karya yang mampu mengatasi ruang dan waktu”.

Sri selalu dilindungi, dipelihara dan dibimbing oleh sesuatu yang misterius. Siapa ia? Apakah seorang laki-laki, kakek, guru, ruh, Tuhan atau alam semesta?

Selain teks, arsiran-arsiran, garis dan objek-objek yang dilukis dengan pulpen pada komik ini terasa saling melengkapi. Tidak tampak bagian dalam atau luar. Meninggalkan jejak dan relasi yang saling berkaitan dengan kisah sebelum dan sesudahnya. Saling bertemu, berkelindan dan serupa menciptakan tenunan dari kehidupan yang ingin Ugo sampaikan.

Ugo Untoro

Yang memang tampak dari komik “marang ibu” ini di mana Ugo mencoba menyisir kehidupan dan mensimbolkan keilahian pada fenomena alam dan ibu dalam representasi bumi dan tanah.

Ugo mencoba mengkritisi situasi manusia masa kini dengan ungkapan “kita seperti kost di bumi dan lebih perduli menciptakan kavling-kavling di langit, padahal kita akan kembali ke tanah, bumi”.

Dan sebagai seniman, ia mencoba mengamati, mencerap lalu mencatat tiap-tiap perubahan, fenomena dan peristiwa. “Jangan kita mengabaikan dengan apa yang menghidupi kita, seperti tanah, seharunya kita pulang lagi untuk memperhatikan itu, merawat.dan menjaga.”

Sebenarnya gagasan awal marang ibu merupakan representasi dirinya secara personal.

Bagi Ugo, seni adalah proses pendalaman dan kejujuran, mencapai sesuatu yang hakiki mengandung inti dan proses reduksi. Komik ini pun ia buat bertahap dari tahun 2017 dan ia lanjutkan kembali untuk pameran. Ugo menceritakan mulai sering pulang kampung ke Purbalingga untuk menjenguk ibunya setelah ayahnya meninggal pada 2015 silam.

“Ibu saya butuh teman, dia merasa saya gambaran bapak, pengganti bapak, karena itu saya jadi sering pulang. Itu juga bukan tugas sebenarnya, tapi sebuah tanggung jawab”.

Ibu dan kepulangan itu menjadi sebuah ide yang berkembang menjadi ibu sebagai manifestasi bumi.  Maka makna marang ibu yang dalam bahasa Jawa halus berarti “untuk ibu”, pun sebagai kepulangan. “ketika saya merasa  jauh dan tersesat saya mencari jalan pulang”.

Komik marang ibu belum selesai. Ugo mengakhiri lembar terakhir dengan menulis tentang ingatan, hujan dan alam di seperempat kertas. Semoga seperti hujan yang menjadi medium pertemuan langit dan bumi untuk menumbuhkan kehidupan, karya marang ibu juga dapat terus tumbuh. []

* Penulis Seni Budaya. Ulasannya tentang seni pertunjukan dan seni rupa dimuat di beberapa media nasional seperti Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Bali Pos, Sarasvati dan lainnya. Lulusan magister antropologi, Universitas Indonesia.

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *