Ke Diri pameran tunggal Sohieb Toyaroja

SEMAR MENYAMAR KE DIRI

Seperti Tuhan dengan nama apapun yang kita sebutkan, apa dan siapa pun itu, pasti bukan Tuhan. Semua ungkapan itu hanya gugusan konsep dan gagasan tentang Tuhan. Sebagai konsep, pasti sangat berjarak dan semakin menjauh dari apa yang kemudian disebut Tuhan. Bahkan ketika seorang menyebut Tuhan sebagai Suwung alias kekosongan, sebagai Absolut atau Mutlak, itu pun hanyalah gagasan. Ketika seorang menganggap bahwa Tuhan bukan yang material, lalu dengan enteng seorang menyatakan bahwa Tuhan adalah yang Ghaib! Sementara pihak lain datang dan menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Hadir sekaligus Maha Ghaib! Bagaimana kita memahami kontradiski ini? Tentu saja, selama Tuhan masih dikonsepsikan, selama Tuhan masih dibahasakan dalam kata dan simbol, maka semua itu hanya menjadi kumpulan ide dan gagasan. Selama hal itu berlangsung, Tuhan tak ubahnya seperti berhala-berhala yang dibangun di dalam pikiran manusia sendiri. Maka wajar jika kebanyakan manusia sebenarnya hanya menyembah Tuhan yang diberhalakan menurut asumsi dan keyakinan dirinya sendiri. Di sini Al-Quran dalam Surat Al-Jasiyah Ayat 23 menegaskan, “Apa tidak kamu lihat orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan? Dan Allah biarkan asumsi manusia itu berdasarkan Pengetahuan-Nya. Ketika itu, Allah mengunci pendengaran dan hati manusia dan meletakkan penutup di atas penglihatannya? Memang siapa lagi yang dapat memberi petunjuk setelah Allah? Maka, kenapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Begitulah saya membaca Semar. Semar sebenarnya bukanlah Semar. Tapi ia harus disebut Semar karena tak ada lagi ungkapan yang tepat untuk menyebutnya kecuali Semar. Semar biasa siapa pun yang menyamarkan diri dalam kesamaran. Sebagaimana Tuhan Yang Hakiki yang “menyamarkan” Diri-Nya dalam aneka asumsi hamba-hamba-Nya. Jadi, apakah Semar itu Tuhan? Tentu saja bukan. Tapi siapa pun bisa menyatakan bahwa segalanya adalah Manifestasi-Nya. Maka Semar pun adalah Tajalli-Nya. Sebagaimana Tuhan dapat “Menjelma” apa dan siapa saja, maka begitu juga Tuhan dapat “Menjelma” menjadi Semar. Kenapa Semar?! Untuk apa dijawab. Apakah setiap kenapa akan cukup dijawab oleh seribu karena? Rasakan saja Semar.

Peradaban Jawa, yang mungkin susah menghadirkan sosok Tuhan, sebagaimana disebut dalam carangan pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang punya 8 daya, tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak pernah kedinginan. Ungkapan di atas, mirip petikan Ayat Kursi di dalam Surat Al-Baqarah namun sedikit mendapat pelebaran makna karena juga menyerap ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an.

Semar bisa jadi masing-masing dari kita yang sedang menyamar. Mungkin kita yang sedang tampil bukan sebagai diri kita yang sebenarnya, alias berpura-pura. Bukankah setiap kita selalu membawa identitas atau tetenger masing-masing? Bukankah kehadiran kita tak pernah otentik lantaran selalu dibungkus oleh ragam predikat dan embel-embel? Ragam predikat atau identitas itu bisa berupa nasab, suku, budaya, profesi, intelektualitas, ideologi, pilihan politik, bahkan agama.

Seluruh makhluk termasuk manusia, hanyalah Avatar Tuhan. Sebagaimana kita dapat memiliki ribuah akun di dalam media sosial, apalagi Tuhan? Anehnya, kita sendiri menyusun avatar-avatar lain. Menyusun akun-akun lain. Dan keakraban kita dengan sesama, adalah keintiman akun-akun atau avatar demi avatar. Di situ, kita bisa menjadi Semar yang Sumir! Ketika melihat realitas secara negatif, pesimis, fatalis, hingga oportunistik. Di kesempatan lain, kita bisa menjadi Semar yang Semir. Satu kata benda yang memiliki ragam makna seperti mengilapkan, meminyaki, hingga memberikan uang sogok alias menyogok. Sebagai diri yang dilekati akun-akun, Semar pun bisa menjadi Semur. Semur yang konon berasal berasal dari bahasa Belanda yaitu “Smoor” diartikan sebagai masakan yang direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan-lahan, atau secara braising, satu teknik masak dengan cara merebus lama dengan api kecil hingga daging atau jengkol menjadi empuk. Terakhir, Semar dapat kita baca menjadi Sumur. Sumur atau Perigi sebagai sumber air atau minyak dan gas yang dapat digali. Atau mungkin sumur tradisional berupa lubang dalam ke bawah yang memiliki tembok keliling. Meski kini sumur-sumur modern di daerah perkotaan mengecil sebesar pipa paralon yang disedot dengan kekuatan listrik, tetap saja kita menyebutnya sumur.

Bila gatuk matuk ini diteruskan, tentu tak akan ada habisnya. Sehingga Semar dapat menyamar Samar dalam sikap Sumir, Semir, hingga Sumur sekalipun hanyalah konsep, gugon tuhon alias asumsi semata. Lalu kapan kita lepas dari asumsi? Jawabnya bukan kapan! Karena kesadaran tertinggi tak butuh waktu! Atau dimana kita dapat mendapatkan kesadaran yang utuh? Jawabnya bukan dimana, karena kesadaran tak butuh ruang. Atau, dengan cara apa kesadaran tertinggi itu didapatkan? Pasti tak ada cara! Karena setiap cara hanyalah konsep, atau gagasan yang selalu mereduksi dan membatasi segala yang Mutlak Tak Terbatas.

Jadi bagaimana kita dapat memahami Semar? Selama kita masih bertanya kenapa dan bagaimana, maka sampai kapan pun, kita tak akan pernah memahami Semar apalagi menyadari Semar!

Abdullah Wong  (Pujangga Padepokan Umah Suwung)

 

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *