Re-Visiting Arsitektur Kota Bandung Foto arsitektur kota Bandung karya Iqbal Kusumadirezza

Villa Isola di Jalan Setiabudi, Bandung, Jawa Barat. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Iqbal Kusumadirezza menangkap kekuatan garis dan komposisi dari aspek estetika dari artefak-artefak itu melalui cara pandang personalnya sebagai  jurnalis foto sekaligus warga kota Bandung. Rezza menyajikan artefak itu seperti tumpukan buku sejarah yang terhimpit oleh buku-buku bacaan yang ‘ditinggalkan’ generasi jaman now di sebuah perpustakaan yang sudah lanjut usia. Berikut catatan-catatan foto-foto arsitektur bersejarah di kota Bandung.

Bandung merupakan salah satu kota yang cukup beruntung di Indonesia, Karena memiliki beragam jenis langgam bangunan arsitektur.Di kota ini terdapat aneka langgam bangunan seperti Belanda Kuno, Belanda Indische, (Indische Style) yang berpadu dengan unsur-unsur lokal, neoklasik, dan Art Noeveau. Pantas jika pernah  ada yang menjuluki kota ini sebagai “Laboratorium Arsitektur Kolonial di Nusantara” karena sebagian besar bangunan-bangunan itu tidak ada yang mencerminkan bangunan etnik tradisional. Kecuali bangunan Aula Barat dan Aula Timur ITB karya Henri Maclaine Pont.

Salah satu karya arsitektur yang membentuk citra Kota Bandung adalah Villa Isola yang yang didesain oleh CP Wolff Schoemaker. Bangunan yang didirikan tahun 1933 ini merupakan pembangkit memori sebagian besar masyarakat akan Kota Bandung. Setiap melihat gambar Villa Isola, ingatan masyarakat tertuju pada Kota Bandung. Peran suatu karya arsitektur dalam membangkitkan kenangan orang banyak akan suatu tempat merupakan salah satu aspek dalam penilaian makna kultural yang dimiliki bangunan tersebut. Aspek lain adalah sejarah, estetika, dan ilmu pengetahuan. Bangunan milik D.W. Barety, pendiri Kantor Berita Aneta (Algemeen Nieuws en Telegrammen Agentschap) itu, pada mulanya merupakan tempat peristirahatan yang dipersembahkan untuk istrinya yang cantik.

Dibangun di atas sebuah bukit yang terletak di Jalan Setiabudhi 299, bentuk bangunannya sangat menonjol, karena mirip dengan sebuah kapal laut yang sedang berlayar. Jika kita berdiri di atas teras yang menyerupai geladak, di sebelah kanan tampak Kota Bandung. Sebaliknya jika pandangan diarahkan ke utara tampak Gunung Tangkubanperahu. Pembangunan gedung tersebut dimulai bulan Oktober 1932 dan dikerjakan dengan sangat cepat, sehingga pada bula Maret 1933 sudah rampung. Pada akhir tahun gedung itu sudah ditempati.

GEDUNG MERDEKA. Bangunan Gedung Merdeka saat malam hari di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Jumat Malam (10/4). FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

GEDUNG SATE. Suasana Kantor Gubernur Jawa Barat menjelang matahari tenggelam Kamis (21/11). Kantor Gubernur berasitektir Indische tersebut dibanngun oleh asritek asal Belanda bernama J.A Gerber pada tahun 1892. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Bangunan-bangunan tua di Bandung, selain memiliki nilai arsitektur tinggi, tidak sedikit yang memiliki nilai sejarah. Salah satu di antaranya Gedung Sate karya perancang J. Gerber, yang kini merupakan landmark Kota Bandung. Gedung ini pernah diduduki dan dijadikan Markas Divisi India ke-23 di bawah pimpinan Mayjen D.G. Hawthron yang ditugaskan di Jawa Barat. Divisi India tersebut merupakan satu dari tiga divisi yang tergabung dalam pasukan Allied Force Netherlands East Indies (AFNEI) yang mendarat di Jakarta tanggal 29 September 1945.

 

Center Point. Toko sepatu paling lawas di perempatan Jalan Braga-Wastukancana, Bandung, Jawa Barat. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Usai senja di Jalan Braga, Bandung. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Konon, jalan Braga adalah kawasan pelesir Noni-noni Belanda dan orang-orang ningrat untuk mencari jodoh atau sekedar nongkrong. Kini, kawasan Jalan Braga perlahan berubah wajah menjadi pusat restoran dan kedai kopi dan bar, menggeser fungsi pertokoan yang tak lagi diminati oleh masyarakatnya. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Gedung bioskop Majestik ini kini menjadi gedung pertunjukan dan kedai kopi. Namun ia pernah melansir sebuah sejarah kelam di dunia musik alternatif kota Bandung dengan korban jiwa belasan pemuda-pemudi saat menonton sebuah aksi panggung musik alternatif. Usai jadi sejarah, gedung menyematkan nama baru New Majestic, sebagai penanda munculnya kebijakan yang sangat ketat soal ijin keramaian dari aparat keamanan untuk sebuah sajian hiburan di ruang publik. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Gedung Sarinah saat ini tengah menjalani proses metamorfosis menjadi Hotel Sarinah setelah bangunan arsitektur di sampingnya sudah diubah menjadi hotel pula. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

Toko Sumber Hidangan di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, masih diingat oleh pecinta kuliner dari berbagai kota dan bangsa. Jajanan khas kota Bandung ini mencoba bertahan dengan elegan di era makanan cepat saji dan layanan hantar makanan dengan aplikasi di telpon genggam pintar. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

 

SMAK DAGO. Seorang pekerja melintasi diantara reruntuhan bangunan sekolah SMA Kristen yang Dago Jl Ir H Djuanda, Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/4). Bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1927 dan dahulu merupakan bekas bangunan Sekolah Kristen Lyceum (Christeljike Lyceum Hoghe School) bangunan tersebut saat ini tidak memiliki sertifikat dan dan dalam status sengketa . Namun saat ini bangunan cagar budaya berasitektur Indische yang dilindungi UU BCB No 5 tahun 1992 tersebut telah hancur dan rencanannya akan di bangunan kawasan hotel serta mall oleh pihak developer Kagum Group. FOTO: Iqbal Kusumadirezza.

Gedung-gedung ini pada umumnya dibangun pada periode yang sama, setelah tahun 1920-an. Maka bisa dibayangkan, betapa sibuknya Kota Bandung saat itu. Di tengah kemiskinan dan penderitaan yang melilit penduduk pribumi, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun gedung-gedung megah secara besar-besaran di daerah jajahannya. Entah berapa anggaran dihabiskan, mengingat selama kurun waktu 20 tahun dari tahun 1920-1940 Kota Bandung sudah memiliki lebih dari 400 bangunan modern dengan berbagai gaya arsitektur. Sebagian besar diantaranya Art Deco, karya sekitar 60 pernancang bangunan (arsitek).

Staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pengurus lembaga swadaya masyarakat Bandung Heritage, Dr. Ir. Dibyo Hartono yang mengutip buku Architectuur Stedebouw in Indonesia 1870-1970 karya Huip Akihary mengungkapan, sekitar 17 orang dari sebanyak 60 perancang bangunan itu tergolong perancang ternama. Mereka antara lain kakak-adik R.L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker, F.H. de Roo, Edward Cuypers, J. Greber, A.F. Aalbers, F.J.L. Ghijels, A.W. Gmelig Meijling, A.A. Vermont, de E.H. Psio, F.W. Brinkman dan masih banyak nama-nama lainnya.

Bangunan tua yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Kota Bandung ini sekaligus menjadi mata rantai sejarah perkembangan arsitektur di Nusantara. Ditandai dengan kebangkitan gaya arsitektur Art Deco yang mencapai puncak keemasannya pada tahun 1920-an yang kemudian berkembang luas pada tahun 1930-an.

Fenomena di Kota Bandung, di mana tidak sedikit bangunan tua yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota diabaikan, bahkan dihancurkan, tentulah bukan suatu fenomena yang baik. Tidak sedikit karya arsitektur di Kota Bandung yang memiliki nilai monumental. Suatu nilai tertinggi yang ingin dicapai dalam setiap perancangan. Jika kita belum mampu menandingi monumental suatu karya yang sudah ada, mengapa kita harus mengubah karya itu atau bahkan menghancurkannya?

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *