Penghuni-Kota dalam Lukisan Aan Arif

Aan Arif “BOSS #1” (2018). 140 cm x 160 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Aan Arif.

Salah satu seniman Yogyakarta ini memang sedang asyik menelusur eksistensi masyarakat penghuni-kota di Kotagede dan kota-kota lain dalam konteks hari ini. Apa yang menarik dari riset kecil Aan arif terhadap subjek itu hingga menjadi pokok soal dalam lukisan-lukisan? Aan Arif melihat persoalan kompleks pada sosok figur yang menjadi subjek lukisannya.

Penghuni-kota (dari bahasa Perancis; bourgeoisie) mengingatkan kita pada jaman kolonial Belanda yang berdatangan ke daratan Asia Tenggara dengan tujuan berdagang rempah, kopi dan kain, dll. Kehidupan orang-orang Eropa dan orang-orang ningrat Jawa pada saat itu memang memiliki kuasa atas ekonomi, pendidikan dan politik juga wanita. Kemudian kelompok masyarakat ini membangun kelas menengah dengan perilakunya yang khas pada jaman modern; manner, fashion, bahasa, dll.

Bagaimana gambaran orang-orang penghuni-kota di Kotage, Yogyakarta, misalnya? Saya kira tidak jauh berbeda dengan perilaku para bourgeois pada umumnya di jaman itu. Tata kelola kehidupannya teratur dengan interioritas yang akan dijadikan simbol kemakmurannya digambarkan di dalam lukisan-lukisan Aan Arif. Lalu, seniman ini berupaya menukil kehidupan para penguni-kota saat itu dalm konteks keseharian masyarakat penghuni-kota saat ini. Hasilnya, kita bisa melihat lukisan-lukisan cat minyak yang memuat isi tentang kehidupan masyarakat penghuni-kota yang diproduksi dengan teknik seni lukis pada karya-karya Aan Arif. Figur-figur penghuni-kota menjadi perhatian khusus dalam lukisan-lukisan cat minyak pada karya Aan Arif akhir-akhir ini yang beberapa di antaranya dipamerkan di dalam program satelit ARTJOG 2018 di Sangkring Art Space.

Aan Arif tertarik dengan istilah performance theory dalam masyarakat penghuni-kota yang berlaku secara global. Penampilan anggota komunita spenghuni kota menentukan citra dan kelas dirinya di tengah-tengah komunitas itu dan masyarakat secara umum di sebuah kota. Aan Arif menilik kompleksitas dari figur-figur mereka yang hadir dengan nilai paradoks. Bahwa para penghuni-kota di kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara memiliki latar belakang budaya serumpun (Nusantara) dengan perilaku adopsi budaya metropolitan di Eropa dan Barat – dibaca sebagai jejak-jejak budaya kolonial yang membekas pada masyarakat ningrat Jawa khususnya. Bagaimana akulturasi budaya ningrat Jawa dengan budaya metropolitan dari Eropa dan Barat berdampak pada perilaku khas para penghuni-kota, yaitu, upaya adaftif pada citraan-citraan yang melekat di tubuh mereka melalui fashion dan aksesoris juga perilaku kesehariannya.

Tentunya, dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini di mana kelas menengah masih menjadi minoritas dalam konstruksi sosial masyarakat Indonesia. Kehidupan mereka cenderung ekslusif. Inilah yang menarik ditelusur lebih dalam, apakah kesibukan mereka menjaga pencitraan berupa interioritas kemapanan serta menjaga modal mendorong perilaku ‘sibuk-sendiri’ bersama komunitasnya sudah menjadi salah satu struktur budayanya? Ada nilai kompleksitas yang paradoks, yaitu, kehadiran mereka di tengah masyarakat yang masih hidup di dalam kesenjangan ekonomi dan pendidikan di pulau Jawa sendiri.

Kompleksitas itu dipandang sebagai suatu hal yang paradoks bagi Aan Arif, karena lukisan-lukisan semacam itu sempat diberi label ‘tidak membumi’ dalam perkembangan seni rupa Indonesia dalam konteks sejarah seni rupa di Yogyakarta. Pilihan estetik yang dikerjakan oleh Aan Arif sekaligus dijadikan pilihan ‘jalan lain’ di tengah masifnya produksi karya-karya ilustratif yang sedang digandrungi seniman muda di Yogyakarta.

“Itu seri maskulin dan power jadi aku bicara tentang kuasa, harta, wanita. Menjadi seorang bourgeois sudah seperti lifestyle jaman sekarang,” kata Aan Arif.

Lukisan “Bos #1”, misalnya, Aan Arif menggubah sebuah realitas imaji tentang masyarakat penghuni-kota di Eropah ke dalam sapuan valet cat minyak hingga menjadi prosa-prosa naratif yang khas Indonesia. Sapuan brush-stroke Aan Arif dalam lukisan itu mengingatkan kita pada perilaku artistik gerakan abstract expresionist dalam membangun narasi puitis dengan sapuan dan tumpukkan cat minyak – dikerjakan dalam kondisi cat masih basah.

Tapi, Aan Arif menggunakan teknik impasto untuk menyajikan kesan lapis-lapis warna dan tonal value yang kuat, sehingga dapat menghasilkan tekstur yang impresif. Ekspresi rasa yang diimbuhkan seperti menggunakan pembacaan dekonstruksi, di mana figur-figur kelas menengah itu pada akhirnya digubah dengan struktur penanda baru. Sehingga, menghasilkan tafsir baru atau pengetahuan turunannya untuk melihat kembali struktur mula bahasa rupa pada lukisan realis.

Demikian juga dengan lukisan “Menu Hari Ini’ yang terasa lebih dekat sekaligus berjarak dengan kebiasaan para intelektual yang selalu membaca surat kabar dengan sebuah vas bunga di meja di pagi hari. Tentu saja penggambaran perilaku tubuh figur yang dilukis oleh Aan Arif bukan saja menyajikan laku tubuh orang Indonesia di sebuah living room, tetapi sudut pandang seniman yang agak janggal dengan komposisi tubuh figur di bingkai lukisan yang mengimbuhkan ruang, lanskap, interioritas benda-benda yang tak lagi kentara tetapi kehadiran benda-benda itu nyata dalam lukisannya.

“Saya ingin lukisan-lukisan saya menyajikan bahasa visual yang lebih liar meski kesan figurnya tetap jelas dan kuat” katanya.

 

Aan Arif “MENU HARI INI” (2018). 150 cm x 200 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Aan Arif.

“Aku ngambil tema yang enak-enak saja walau kadang ada sentilannya. Ngalir wae sesuai yang ada di otakku. Usia pengaruh ke garapan dan tema karya, Bung,” katanya – menjawab pertanyaan dari kurator artspace Indonesia beberapa hari lalu.

Aan Arif mengatakan bahwa lukisan-lukisan ini digarap tidak secara linear. Artinya, seri lukisan ini kadang “memanggil” untuk dilanjutkan atau dicukupkan pada satu atau dua kanvas untuk sementara waktu. Ia juga menegaskan bahwa pada suatu ketika gagasan atau tema yang menarik untuk digubah menjadi lukisan, beberapa lukisan dikerjakan pada saat imaji itu muncul di kepalanya, lalu menggarap tema lain sesuai gerak imaji yang muncul di dalam benaknya. Strategi itu dilakukan untuk selalu update dan tidak ketinggalan moment kreatif dalam berkarya.

Dengan sistem produksi yang random, banyak gagasan bisa ia garap meski hanya diselesaikan di dalam satu kanvas saja. Sehingga, bisa dikatakan tidak terlalu memperhatikan konsep pada saat bekerja dengan sistem random itu. Tema-tema ini dipilih karena latar belakang usianya yang tidak lagi remaja. Gagasan artistik pada lukisan itu justru muncul belakangan ini ketika komunitas penghuni-kota dari beberapa negara berdialog dengan dirinya di studio. Dari sana terbersit teks harta, tahta dan wanita. Tiga entitas yang mesti diperoleh oleh anggota komunitas penghuni-kota di manapun, laiknya sebuah gaya hidup dan budaya populer di masyarakat kelas menengah.

Lukisan “The Candidate” hadir di tengah suhu politik yang masih hangat di nusantara serta merepresentasikan sosok-sosok politisi yang sedang bermunculan di kawasan ini. Aan Arif membuat sebuah gambaran konkrit dari sosok politisi yang dikenal secara umum sebagai sosok ‘gemuk’ dengan kepentingan kelompoknya dan kepentingan investor lintas partai politik. Sosok yang tak lekang oleh ambisi pada kekuasaan untuk mendapatkan kemakmuran kelompoknya sendiri.

 

Aan Arif “THE CANDIDATE” (2018). 110 cm x 180 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Aan Arif.

Apakah sosok macam itu pula yang dekat dengan masyarakat di kemudian hari, setelah mereka diberi kemudahan dan keagungan laiknya jalan yang diberi red carpet bak selebritis? Aan justru menyajikan karakter yang agung yang paradoks di dalam lukisan itu. Sebuah harapan sekaligus keputusasaan umat pada sosok politisi di sebuah negara demokrasi yang syarat dengan praktik korupsi berjama’ah.

Lukisan “The Candidate” menjadi sangat populer dan mudah dihubungkan dengan memori kolektif bangsa ini di ranah politik praktis, karena berkaitan secara langsung dengan sistem pembagian kekuasaan serta bersejajar dengan kemakmuran harta dan teman-teman wanita cantik di manapun berada. Kehidupan macam itulah yang diobservasi oleh Aan Arif dari sudut pandang personalnya sebagai seniman. Bahwa, sosok penguasa di lingkungan elite sudah lazim dengan ‘upeti’ atau komisi (success fee) dalam bentuk uang. Juga teman wanita di sebuah kamar hotel setelah penandatanganan MoU atau kontrak proyek yang bermuara pada pembagian keuntungan di lingkungan kelompok mereka yang terlibat.

Dan, lukisan “The Last Land” didominasi oleh warna merah chrimson dengan horizon pada bidang bagian atasnya. Figur pria berdasi merah muda serta sebuah tas kulit yang ditentengnya – disertai bayangan sosok itu – mengingatkan kita pada komunitas metroseksual di kota-kota besar di Asia Tenggara. Mereka menunjukan identitas personal di ruang publik dengan fashion dan style tersendiri. Serupa gaya hidup mereka yang selalu update dengan trend sebuah fashion yang terus berubah dalam budaya global saat ini.

 

Aan Arif “THE LAST LAND” (2018). 150 cm x 150 cm, cat minyak di atas kanvas. FOTO: Aan Arif.

Lukisan-lukisan Aan Arif mengingatkan kita pada jejak sejarah seni lukis karya-karya Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Paul Cézanne, Georges Seurat, Egon Schiele hingga Jenny Saville. Namun demikian karya-karya Aan Arif tidak berhenti pada satu capaian artistik. Sejenak ia akan terhenti pada satu laman sejarah seni lukis lalu bermigrasi pada laman sejarah seni lukis yang lain untuk membuat formulasi ‘baru’. Demikian halnya dengan penguasaan teknik melukis, Aan Arif terus mencari bahasa rupa yang mampu merekam momen sejarah artistik yang terus bergerak dan seniman ini selalu berupaya menangkapnya menjadi satu lukisan.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *